Kesultanan Banjar Tidak Pernah Karam Selagi Sungai Barito dan Sungai Martapura Masih Mengalir Ke Muara
FAKTANASIONAL.NET - Kesultanan Banjar bukan sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah urat nadi peradaban sungai yang membentuk identitas, budaya, dan ketangguhan masyarakat Kalimantan Selatan hingga hari ini. Berdiri di persimpangan jalur perdagan…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Kesultanan Banjar bukan sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah urat nadi peradaban sungai yang membentuk identitas, budaya, dan ketangguhan masyarakat Kalimantan Selatan hingga hari ini.
Berdiri di persimpangan jalur perdagangan rempah nusantara, Kesultanan Banjar merekam epik panjang tentang kejayaan ekonomi, penyebaran Islam, hingga perlawanan berdarah melawan kolonialisme yang melahirkan semboyan abadi: "Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing".
Artikel ini akan menelusuri perjalanan panjang Kesultanan Banjar, dari pelarian seorang pangeran yang kehilangan tahta, hingga runtuhnya kerajaan akibat intrik dan meriam penjajah.
1. Akar Pergolakan: Keruntuhan Negara Daha dan Pelarian Sang Pangeran
Kisah Kesultanan Banjar bermula dari keraton kerajaan Hindu-Buddha yang lebih tua, yakni Negara Daha, yang berpusat di pedalaman Sungai Negara (sekitar Margasari saat ini). Pada awal abad ke-16, kerajaan ini dipimpin oleh Maharaja Sukarama.Sebelum mangkat, Maharaja Sukarama membuat keputusan yang memicu badai politik: ia mewasiatkan cucunya, Pangeran Samudera, sebagai pewaris tahta, melompati anak-anak kandungnya sendiri, yakni Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumenggung, dan Pangeran Bagalung.
Kematian Sukarama segera disusul oleh kudeta. Pangeran Tumenggung merebut tahta. Menyadari nyawanya terancam, Pangeran Samudera muda diselundupkan keluar dari istana.
Ia dilarikan ke hilir Sungai Barito, menyamar sebagai nelayan, dan hidup berpindah-pindah di kawasan Muara Bahan (Marabahan) hingga bermuara di pesisir Kuin (sekarang wilayah Banjarmasin). Di masa pelarian inilah, Sang Pangeran belajar memahami denyut nadi rakyat jelata dan dinamika masyarakat pesisir yang kelak menjadi kekuatan utamanya.
2. Kebangkitan di Pesisir: Fajar Baru Kesultanan Banjar
Kawasan hilir Sungai Barito saat itu dikuasai oleh kelompok-kelompok masyarakat mandiri yang dipimpin oleh para Patih. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Patih Masih, pemimpin kawasan Kuin.Aliansi Sang Pangeran dan Para Patih
Patih Masih menemukan Pangeran Samudera dan melihat peluang politik yang besar. Bersama patih-patih lain (Patih Balit, Patih Muhur, dan Patih Kuwin), mereka bersepakat untuk mengangkat Pangeran Samudera sebagai raja.
Langkah ini adalah bentuk proklamasi kemerdekaan masyarakat hilir dari dominasi Negara Daha di pedalaman. Inilah titik nol berdirinya Kerajaan Banjarmasin.
Namun, Negara Daha tidak tinggal diam. Perang saudara tak terhindarkan. Secara militer dan jumlah pasukan, pasukan Banjar di pesisir kalah jauh dibandingkan bala tentara Negara Daha.
Bantuan Kesultanan Demak dan Syarat Bersejarah
Menghadapi ancaman pemusnahan, Pangeran Samudera mengutus Patih Balit menyeberangi Laut Jawa menuju Kesultanan Demak, kerajaan Islam terkuat di Nusantara saat itu. Bantuan militer diminta, dan Sultan Trenggono dari Demak menyanggupinya dengan satu syarat fundamental: Raja Banjar dan seluruh rakyatnya harus memeluk agama Islam.
Pangeran Samudera menyetujui syarat tersebut. Pasukan Demak, lengkap dengan armada kapal, ribuan prajurit, dan senjata api—teknologi militer mutakhir masa itu—tiba di tanah Banjar. Turut serta di dalamnya Khatib Dayan, seorang ulama utusan Demak yang bertugas membimbing transisi spiritual Sang Raja.
Gabungan pasukan Banjar dan Demak berhasil menundukkan Negara Daha. Alih-alih mengeksekusi pamannya, Pangeran Samudera menunjukkan kebesaran jiwa dengan memaafkan Pangeran Tumenggung dan memberinya wilayah kekuasaan di pedalaman dengan syarat tunduk pada Kesultanan Banjar.
Pada tahun 1526, Pangeran Samudera resmi memeluk Islam, mengubah gelarnya menjadi Sultan Suriansyah, dan mendirikan Masjid Jami Sultan Suriansyah di Kuin. Era Kerajaan Hindu di Kalimantan Selatan berakhir, digantikan oleh fajar Kesultanan Islam Banjar.
3. Masa Keemasan: Lada, Perdagangan, dan Perpindahan Ibu Kota
Setelah memeluk Islam, Kesultanan Banjar berkembang pesat menjadi kekuatan maritim dan niaga yang diperhitungkan.Komoditas Lada yang Memikat Dunia
Pada abad ke-17, lada (merica) menjadi komoditas primadona. Tanah Kalimantan Selatan yang subur menghasilkan lada berkualitas tinggi. Pedagang dari Tiongkok, Gujarat, Arab, Inggris, hingga Belanda (VOC) berlabuh di pelabuhan Banjar. Kekayaan mengalir deras ke dalam kas keraton.
Mempertahankan Diri dari Ancaman Luar
Kekayaan ini tentu mengundang ancaman. Untuk melindungi pusat pemerintahan dari serangan laut (baik dari bajak laut maupun armada kolonial), ibu kota Kesultanan beberapa kali dipindahkan.
Dari pesisir Kuin (Banjarmasin), pusat kerajaan dipindah lebih ke pedalaman, melintasi Sungai Martapura, hingga akhirnya menetap di kawasan Kayu Tangi (Martapura). Martapura kemudian berkembang menjadi pusat kekuasaan, penyebaran agama Islam, dan kebudayaan Banjar selama berabad-abad.
4. Puncak Kebijakan Sipil: Era Sultan Adam Al-Watsiq Billah
Memasuki abad ke-19, Kesultanan Banjar mengalami masa kejayaan dalam hal hukum dan administrasi negara di bawah kepemimpinan Sultan Adam Al-Watsiq Billah (memerintah 1825–1857).Sultan Adam adalah sosok pemikir, ulama, sekaligus negarawan. Beliau menyadari bahwa kemajuan kerajaannya membutuhkan kepastian hukum yang berlandaskan syariat Islam sekaligus mengakomodasi kearifan lokal.
"Sebaik-baiknya raja adalah yang adil, dan seadil-adilnya hukum adalah yang berpedoman pada kitabullah." Pada tahun 1835, beliau mengesahkan Undang-Undang Sultan Adam. Undang-undang ini sangat progresif pada zamannya, mengatur berbagai aspek kehidupan komprehensif, di antaranya:
Hukum Pidana dan Perdata: Mengatur hukuman bagi pencurian, pembunuhan, dan sengketa tanah.
Hukum Keluarga: Mengatur pernikahan, waris, dan perlindungan hak perempuan.
Tata Ruang dan Agraria: Mengatur batas wilayah, kepemilikan kebun lada, dan penggunaan lahan kerajaan.
Sayangnya, masa keemasan tata negara ini terjadi di tengah bayang-bayang penjajahan yang semakin pekat.
5. Intrik Istana dan Cengkeraman Kolonial Belanda
Belanda, melalui pemerintah kolonial Hindia Belanda, mulai mengubah taktik mereka dari sekadar berdagang menjadi ambisi menguasai wilayah. Mereka menggunakan strategi klasik: Devide et Impera (pecah belah dan kuasai).Belanda memanfaatkan konflik suksesi di keraton Banjar. Menjelang akhir hayatnya, Sultan Adam sebenarnya menginginkan cucunya, Pangeran Hidayatullah, untuk menjadi penerus tahta karena kecakapannya dan dukungan penuh dari rakyat serta para ulama.
Namun, Belanda memiliki rencana lain. Mereka mendukung cucu yang lain, yakni Pangeran Tamjidillah. Tamjidillah memiliki gaya hidup yang kebarat-baratan dan dianggap lebih mudah disetir oleh kepentingan Batavia.
Melalui serangkaian tekanan politik, manipulasi perjanjian, dan ancaman militer, Belanda berhasil memaksakan Tamjidillah naik tahta setelah Sultan Adam mangkat pada 1857. Pangeran Hidayatullah diturunkan jabatannya hanya sebagai Mangkubumi (Perdana Menteri).
Tindakan arogan Belanda ini melukai harga diri orang Banjar. Rakyat, ulama, dan bangsawan yang setia menolak mengakui kedaulatan sultan boneka tersebut. Ketegangan mencapai titik didih.
6. Perang Banjar: "Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing"
Pada April 1859, ketidakpuasan itu meledak menjadi perlawanan bersenjata skala besar. Pasukan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari (sepupu Pangeran Hidayatullah) menyerang tambang batu bara milik Belanda di Oranje Nassau, Pengaron. Serangan ini menandai dimulainya Perang Banjar (1859–1905), salah satu perang terlama dan paling menguras kas pemerintah kolonial Belanda.Karakteristik Perang Banjar
Perang Banjar bukanlah perang berhadap-hadapan di medan terbuka. Pangeran Antasari dan para panglimanya (seperti Tumenggung Surapati, Demang Lehman, dan Panglima Batur) menggunakan taktik gerilya.
Mereka memanfaatkan bentang alam Kalimantan yang berupa sungai-sungai berarus deras, rawa-rawa, dan hutan lebat yang tak bisa ditembus oleh pasukan infanteri Belanda.
Belanda merespons dengan kejam. Pada 11 Juni 1860, Residen Belanda secara sepihak mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjar. Wilayah Banjar diklaim langsung berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
Keteguhan Sang Pangeran
Meski kerajaan secara de jure telah dihapuskan oleh penjajah, rakyat justru secara de facto mengangkat Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (Pemimpin Pemerintahan dan Pemimpin Agama).
Belanda berkali-kali mencoba berunding, menawarkan kekayaan, pangkat, dan wilayah jika Antasari bersedia menyerah. Jawaban Pangeran Antasari selalu konsisten dan menggema hingga hari ini:
"Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing!" Semboyan ini berarti pantang menyerah; tekad perjuangan haruslah sekuat baja dari pangkal hingga ke ujung (kaputing).
Perlawanan ini tidak hanya bersifat politis, tetapi digerakkan oleh semangat Jihad fi Sabilillah (berjuang di jalan Allah), yang terus dikobarkan oleh para ulama di kampung-kampung.
Pangeran Antasari wafat pada 1862 karena penyakit paru-paru dan cacar di tengah masa bergerilya, namun perang tak berhenti di situ. Putra-putranya, Sultan Muhammad Seman dan Pangeran Perbatasari, melanjutkan perjuangan di pedalaman Barito hingga benteng terakhir mereka jatuh di awal abad ke-20 (sekitar tahun 1905).
7. Warisan yang Tak Pernah Pudar
Kesultanan Banjar memang telah runtuh secara institusi lebih dari satu abad yang lalu. Namun, roh dan warisan peradabannya tetap hidup dan mengalir di nadi masyarakat Kalimantan Selatan.Budaya sungainya, pasar terapungnya, arsitektur rumah Banjar (Bumbungan Tinggi), kuliner khasnya, hingga dialek bahasanya adalah bukti tak terbantahkan dari kejayaan peradaban masa lalu. Lebih dari itu, semangat kemandirian pesisir dan keteguhan iman yang diwariskan oleh Sultan Suriansyah, kecintaan pada keadilan dari Sultan Adam, serta keberanian baja dari Pangeran Antasari telah membentuk karakter urang Banjar: tangguh, religius, dan merdeka.
Buku sejarah mungkin mencatat tahun 1860 sebagai akhir dari Kesultanan Banjar. Namun, bagi masyarakatnya, selama Sungai Barito dan Sungai Martapura masih mengalir ke muara, sejarah dan kebanggaan akan Kesultanan Banjar tidak akan pernah karam.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.