Ketika Kekuasaan Mulai Memelihara Sentimen
TIDAK ada jabatan yang lebih berbahaya daripada jabatan yang membuat seseorang berhenti mendengar. Sebab sejak saat itu, kekuasaan tidak lagi menjadi amanah, melainkan cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. Ia tidak lagi melihat rakyat, b…
Dengarkan Ringkasan
TIDAK ada jabatan yang lebih berbahaya daripada jabatan yang membuat seseorang berhenti mendengar. Sebab sejak saat itu, kekuasaan tidak lagi menjadi amanah, melainkan cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri.
Ia tidak lagi melihat rakyat, bawahan, atau rekan kerja. Ia hanya melihat dirinya sebagai pusat kebenaran.
Di sinilah awal petaka sebuah kekuasaan.
Banyak orang percaya bahwa kekuasaan mengubah manusia. Saya justru melihat sebaliknya. Kekuasaan jarang mengubah watak. Ia hanya mencabut pagar-pagar kepura-puraan yang selama ini menutupi karakter seseorang.
Ketika tidak memiliki wewenang, seseorang dipaksa rendah hati karena ia membutuhkan orang lain. Namun ketika semua keputusan berada di tangannya, topeng itu perlahan jatuh. Yang tersisa hanyalah karakter yang sesungguhnya.
Sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa runtuhnya sebuah kepemimpinan bukan selalu karena musuh yang kuat, melainkan karena ego yang tumbuh tanpa pengawasan.
Musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah lawan politik, bukan pula kritik media, melainkan keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin salah.
Begitu keyakinan itu lahir, sentimen mengambil alih akal sehat.
Kritik tidak lagi dipandang sebagai vitamin demokrasi, melainkan racun yang harus disingkirkan. Pertanyaan dianggap pembangkangan.
Perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai ancaman. Bahkan orang yang mengingatkan justru lebih dahulu dicurigai daripada mereka yang setiap hari menyuguhkan pujian.
Inilah ironi kekuasaan. Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin sedikit suara jujur yang berhasil mencapai telinganya. Yang tersisa hanyalah gema dari orang-orang yang berkata, "Bapak benar," "Ibu benar," atau "Keputusan Anda sudah tepat."
Padahal sejarah membuktikan, tidak ada pemimpin yang hancur karena terlalu banyak dikritik. Yang hancur justru mereka yang terlalu lama dipuji.
Sentimen adalah penyakit yang tumbuh diam-diam. Ia tidak datang dengan teriakan, tetapi dengan bisikan ego. Sedikit demi sedikit ia mengikis objektivitas.
Keputusan tidak lagi dibuat berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan rasa suka dan tidak suka. Penilaian tidak lagi berangkat dari data, tetapi dari kedekatan. Hukum berubah menjadi alat pembenaran. Keadilan bergantung pada siapa yang berada di depan meja kekuasaan.
Saat itulah jabatan kehilangan kehormatannya.
Yang lebih mengkhawatirkan, sentimen sering dibungkus dengan dalih menjaga wibawa. Padahal wibawa tidak pernah lahir dari rasa takut.
Wibawa lahir ketika seorang pemimpin bersedia dikoreksi tanpa merasa direndahkan. Kekuasaan yang anti-kritik bukanlah kekuasaan yang kuat. Ia hanyalah kekuasaan yang rapuh dan takut kehilangan citra.
Dalam dunia kerja, organisasi, bahkan pemerintahan, banyak persoalan sebenarnya bukan lahir karena kurangnya kemampuan, melainkan karena matinya budaya koordinasi.
Orang lebih sibuk membuat klaim daripada mencari penjelasan. Vonis dijatuhkan sebelum fakta dikumpulkan. Kesalahan diumumkan sebelum komunikasi dilakukan.
Padahal koordinasi adalah bahasa orang dewasa. Menghakimi tanpa memahami hanyalah kebiasaan ego yang terlalu tergesa-gesa merasa paling benar.
Kekuasaan yang sehat selalu memberi ruang bagi dialog. Sebaliknya, kekuasaan yang dikuasai sentimen akan menutup semua pintu diskusi. Ia hanya membuka satu arah, yaitu perintah. Tidak ada ruang bertanya, apalagi berbeda. Semua orang dipaksa sepakat, bukan karena yakin, tetapi karena takut.
Ironisnya, rasa takut memang mampu menciptakan kepatuhan, tetapi tidak pernah melahirkan penghormatan. Orang mungkin tunduk di hadapan jabatan, namun belum tentu menghormati pemilik jabatan itu.
Setiap kekuasaan pada akhirnya memiliki batas waktu. Masa jabatan akan selesai. Kursi akan berganti penghuni. Pengawal akan pulang. Ruang kerja akan ditempati orang lain. Yang tersisa hanyalah jejak moral dari keputusan-keputusan yang pernah diambil.
Sejarah tidak pernah terlalu tertarik mencatat berapa lama seseorang berkuasa. Sejarah lebih tertarik mengingat bagaimana ia menggunakan kekuasaan itu. Apakah ia membangun keadilan, atau justru memelihara sentimen? Apakah ia mendengar suara yang berbeda, atau membungkamnya demi kenyamanan?
Kekuasaan sejatinya bukan mahkota. Ia adalah ujian. Semakin besar kuasa yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya. Jabatan bukan lisensi untuk merasa paling benar. Ia hanyalah mandat yang sewaktu-waktu dapat dicabut oleh waktu.
Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak orang yang bertepuk tangan di hadapannya, melainkan seberapa banyak orang yang masih berani mengatakan kebenaran kepadanya. Jika tidak ada lagi yang berani mengoreksi, mungkin bukan karena ia telah menjadi pemimpin yang sempurna. Bisa jadi, orang-orang hanya telah belajar bahwa kejujuran tidak lagi memiliki tempat di sekitar kekuasaannya.
Dan ketika kekuasaan telah kehilangan telinga untuk mendengar, sesungguhnya ia sedang menggali lubang bagi dirinya sendiri. Sebab setiap kekuasaan yang memelihara sentimen pada akhirnya tidak akan runtuh oleh musuh dari luar, melainkan oleh kesombongan yang tumbuh dari dalam.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.