Ketika Penjajah Jepang Memakai Agama untuk Menaklukkan Rakyat
FAKTANASIONAL.NET - Pemerintah militer Jepang selama pendudukan Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata untuk mempertahankan kekuasaannya. Simbol, ayat Al-Qur’an, dan Hadits juga digunakan sebagai bagian dari strategi propaganda untuk me…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pemerintah militer Jepang selama pendudukan Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata untuk mempertahankan kekuasaannya.
Simbol, ayat Al-Qur’an, dan Hadits juga digunakan sebagai bagian dari strategi propaganda untuk menarik dukungan umat Islam.
Salah satu medianya ialah majalah Soeara Moeslimin Indonesia. Melalui media bercorak Islam tersebut, Jepang membingkai Perang Asia Timur Raya sebagai sebuah “perang suci” melawan Sekutu.
Narasi itu berupaya menempatkan Jepang sebagai pihak yang seolah-olah hadir untuk menyelamatkan umat Islam, sekaligus mendorong masyarakat membantu kepentingan perang.
Pendekatan ini dilakukan secara taktis dengan melibatkan tokoh agama dan memanfaatkan penafsiran keagamaan yang dapat diarahkan untuk kepentingan pemerintah pendudukan.
Jepang berusaha merangkul para kiai dan ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari, untuk mengisi ruang media Islam dengan pesan yang mendukung mobilisasi masyarakat.
Semangat jihad kemudian dikaitkan dengan disiplin dan perjuangan militer Jepang.
Strategi tersebut tidak berdiri sendiri. Pelonggaran izin penerbitan kitab suci hingga proyek pencetakan ratusan ribu eksemplar Al-Qur’an pada akhir pendudukan, yakni 1945, menjadi bagian dari politik kompensasi untuk mengambil hati mayoritas penduduk pribumi yang beragama Islam.
Jepang juga membentuk serta mengoptimalkan organisasi seperti Masyumi dan laskar Hizbullah.
Di dalamnya, narasi keagamaan dipadukan dengan kedisiplinan dan pelatihan bergaya militer Jepang.
Di balik berbagai kebijakan tersebut terdapat kepentingan praktis: meredam potensi perlawanan, menggalang dukungan masyarakat, sekaligus memperoleh tenaga kerja romusha dan tentara sukarela.
Dengan demikian, pemanfaatan agama bukan semata persoalan keyakinan, melainkan bagian dari politik pendudukan untuk mempertahankan kepentingan imperium Jepang.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.