Ketua KPK Sentil Mahalnya Biaya Koruptor di Penjara, Pilih Jurus Baru Lewat Sekolah
FAKTANASIONAL.NET - Mengurus para tahanan kasus rasuah ternyata menyedot anggaran negara yang tidak sedikit. Mengutip laporan pemberitaan terkini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto, secara blak-blakan menyoroti tingginya ongk…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Mengurus para tahanan kasus rasuah ternyata menyedot anggaran negara yang tidak sedikit.
Mengutip laporan pemberitaan terkini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto, secara blak-blakan menyoroti tingginya ongkos penindakan korupsi dibandingkan upaya pencegahan.
Pernyataan menohok ini disampaikan Setyo dalam peluncuran Buku Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi (PAK) hasil kolaborasi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Acara tersebut berlangsung di Kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pada Senin (11/5/2026).
Setyo menjelaskan bahwa proses hukum hingga pemenjaraan pelaku tindak pidana korupsi memakan biaya yang sangat mahal.
Selama berada di balik jeruji besi, segala kebutuhan hidup para koruptor, mulai dari makanan sehari-hari hingga seragam yang mereka kenakan, sepenuhnya ditanggung oleh uang negara.
Oleh karena itu, KPK kini meracik strategi dengan lebih memprioritaskan langkah preventif atau pencegahan.
Setyo menegaskan bahwa mencegah jauh lebih efektif dan ekonomis daripada harus terus-menerus membiayai operasional penindakan dan perawatan koruptor di lembaga pemasyarakatan.
Sebagai langkah konkret pencegahan, peluncuran buku panduan PAK diharapkan mampu menjadi kompas moral bagi generasi muda.
Setyo bahkan mengibaratkan buku ini layaknya pegangan wajib yang diwariskan untuk anak cucu agar mengenali dan menjauhi bibit-bibit perilaku koruptif sedari dini. Ia menargetkan tunas bangsa tumbuh dengan fondasi integritas yang kokoh.
Menurut Setyo, pembentukan karakter antikorupsi tidak seharusnya menunggu hingga seseorang berhadapan dengan hukum.
Ia menekankan bahwa masa depan Indonesia yang bersih dari praktik kotor tidak berawal dari dinginnya ruang pemeriksaan, penyidikan, atau kursi pesakitan di pengadilan.
"Mari kita sama-sama sepakati bahwa masa depan tanpa korupsi kita mulai dari ruang kelas," ujar Setyo, mengakhiri pesannya tentang pentingnya peran institusi pendidikan dalam mencetak generasi emas yang jujur dan bersih.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.