Fakta Nasional

Kompas dan Harika Nickel Terbitkan Buku yang Bisa Jadi Standar Baru Industri Pertambangan

FAKTANASIONAL.NET - Penerbitan buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi Seri 1 Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat oleh Kompas Gramedia bersama Harika Nickel dinilai dapat menjadi langkah baru bagi industri pertambangan dalam mendokum…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Mutia Seliana Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 09 September 2026 📖 3 menit
Kompas dan Harika Nickel Terbitkan Buku yang Bisa Jadi Standar Baru Industri Pertambangan
Kegiatan peluncuran buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi Seri 1 Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat, Selasa (8/9/2026)/Dok. Ist.
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Penerbitan buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi Seri 1 Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat oleh Kompas Gramedia bersama Harika Nickel dinilai dapat menjadi langkah baru bagi industri pertambangan dalam mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Akademisi Kelautan Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan, berharap penerbitan buku tersebut dapat menjadi standar baru bagi perusahaan pertambangan dalam menjalankan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Menurut Candra, penerbitan buku mengenai keanekaragaman hayati bukan merupakan kewajiban yang secara khusus dibebankan kepada perusahaan pertambangan. Namun, langkah yang dilakukan Harika Nickel tersebut dinilai dapat menjadi contoh dan rujukan bagi perusahaan lain.

“Menerbitkan buku bukanlah kewajiban dari perusahaan pertambangan. Tapi itu dilakukan Harika. Ini bisa jadi standar baru dan jadi rujukan ke depannya,” kata Candra saat peluncuran buku di Kompas Gramedia, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Ia menilai, buku tersebut juga membuka ruang bagi perusahaan untuk berkontribusi dalam memperkaya informasi mengenai lingkungan dan keanekaragaman hayati yang terkadang belum sepenuhnya terjangkau oleh kalangan akademisi.

“Buku ini menjadi jawaban bahwa ada informasi-informasi yang disampaikan perusahaan, yang bisa jadi kampus juga perlu waktu untuk turun lebih dalam, maka perusahaan menjadi satu wahana baru untuk berperan di situ,” ujarnya.

Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Dunia Usaha

Candra menilai, dokumentasi mengenai ekosistem laut seperti yang dilakukan dalam buku tersebut akan semakin bernilai apabila dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.

Ke depan, menurut dia, keterlibatan peneliti diperlukan untuk memperdalam kajian mengenai berbagai spesies dan ekosistem yang terdapat di wilayah pesisir barat Pulau Obi.

“Ke depan, kolaborasi berbagai pihak, termasuk dengan peneliti, dinilai perlu dilakukan untuk bisa memperkaya informasi mengenai keanekaragaman hayati dan membagikannya kepada generasi penerus,” ungkapnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Pengendalian Pemanfaatan Ruang Laut pada Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Fajar Kurniawan.

Menurut Fajar, buku yang disusun berdasarkan hasil pengamatan dan dokumentasi tim Departemen Lingkungan Harita Nickel tersebut sejalan dengan misi KKP dalam mendorong pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap ekosistem laut.

“Buku ini dapat menjadi jembatan antara sains dan masyarakat, data yang rumit menjadi cerita yang mudah dipahami, spesies yang selama ini berada di bawah permukaan laut menjadi lebih terlihat, dan ekosistem yang sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari menjadi dekat bagi para pembaca,” katanya.

Fajar berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari proses pembelajaran dan edukasi publik.

“Saya berharap buku ini tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari proses pembelajaran. Penelitian yang lebih mendalam di seri-seri berikutnya menjadi program edukasi, serta kerja sama lintas pihak,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga ekosistem laut. Pemerintah, kata dia, tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga laut. Demikian pula dunia usaha membutuhkan dukungan akademisi dan masyarakat.

“Kolaborasi menjadi kunci, pemerintah tidak bisa menjaga laut sendirian, dunia usaha tidak bisa bekerja sendirian, akademisi memiliki kekuatan ilmu pengetahuan, masyarakat memiliki pengetahuan lokal dan hubungan langsung dengan laut,” tuturnya.

Dokumentasi Kekayaan Laut Pulau Obi

Sementara itu, Komisaris Utama Harita Nickel, Donald J. Hermanus, mengatakan penerbitan buku Ikan Karang Obi merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mengenali sekaligus menjaga kekayaan alam di sekitar wilayah operasional.

Menurut Donald, tanggung jawab lingkungan bagi perusahaan tidak semata-mata diwujudkan melalui penerapan praktik industri berkelanjutan. Dokumentasi terhadap kekayaan alam juga dinilai penting agar pengetahuan mengenai ekosistem tersebut dapat diwariskan kepada masyarakat dan generasi mendatang.

“Bagi Harita Nickel, tanggung jawab lingkungan tidak berhenti pada praktik industri yang berkelanjutan, tetapi juga mengabadikan kekayaan alam di sekitar, khususnya kawasan yang menjadi pusat kehidupan laut tropis seperti pesisir barat Pulau Obi,” katanya.

Ia menambahkan, keanekaragaman organisme yang hidup di pesisir barat Pulau Obi memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi ekologis, tetapi juga dari aspek edukasi dan sosial.

“Keanekaragaman organisme yang hidup di pesisir barat Pulau Obi dinilai tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menyimpan nilai edukatif dan sosial yang tinggi,” ujar Donald.

Penerbitan seri pertama yang berfokus pada ikan karang tersebut diharapkan menjadi awal dari dokumentasi yang lebih luas mengenai kehidupan laut di kawasan Pulau Obi.

Dengan mempertemukan perspektif industri, pemerintah, akademisi, dan masyarakat, buku ini sekaligus membuka ruang bagi pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati untuk tidak hanya tersimpan sebagai data, tetapi dapat diakses dan dipahami oleh publik.

Lebih jauh, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa dokumentasi lingkungan dapat menjadi bagian dari kontribusi dunia usaha dalam membangun pengetahuan bersama mengenai kekayaan alam Indonesia, khususnya ekosistem pesisir dan laut tropis.[Bal]

 


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK