Komunikasi Prabowo Meminimalisir Kritik
SI Fakta kali ini tidak ingin membedah panjang apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Fokusnya bukan pada siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan pada satu hal yang sering luput dari perhatian publik: teknik komunikasi seorang pem…
Dengarkan Ringkasan
SI Fakta kali ini tidak ingin membedah panjang apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Fokusnya bukan pada siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan pada satu hal yang sering luput dari perhatian publik: teknik komunikasi seorang pemimpin ketika berhadapan dengan kritik.
Prabowo mengatakan:
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok.”Ia juga menyampaikan;
“Nanti yang diulang-ulangin tadi itu.”Kalimat tersebut, jika dilihat dari sudut komunikasi politik, dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi menyerang sekaligus bertahan untuk meminimalisir kritik. Membuat orang ogah untuk mengkritik perkataan nya.
Serangan diarahkan kepada kelompok yang dianggap terlalu kritis, sementara pada saat yang sama muncul kemungkinan bahwa respons dari kelompok tersebut justru akan menjadi bahan perdebatan berikutnya.
Di sinilah komunikasi menjadi menarik.
Sebuah kalimat yang dilemparkan ke ruang publik tidak lagi menjadi milik orang yang mengucapkannya.
Setelah keluar, kalimat itu akan dipotong, dikutip, dianalisis, diperdebatkan, bahkan diulang berkali-kali.
Bagi Si Fakta, kalimat “nanti yang diulang-ulangin tadi itu” justru menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana sebuah komunikasi dapat bekerja seperti pancingan.
Ketika seorang pemimpin mengeluarkan pernyataan keras terhadap para pakar, maka terdapat kemungkinan muncul reaksi.
Para pakar merasa perlu menjelaskan, meluruskan, atau memberikan kritik. Perdebatan pun bergerak dari substansi kebijakan menuju pernyataan personal.
Jika itu terjadi, maka perhatian publik bisa bergeser.
Pertanyaan tentang apa kebijakannya, bagaimana datanya, apa risikonya, dan bagaimana hasilnya dapat kalah ramai oleh pertanyaan tentang siapa mengatakan apa kepada siapa.
Itulah sebabnya komunikasi dalam pemerintahan tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan gaya bicara.
Komunikasi adalah bagian dari kepemimpinan.
Pemimpin tentu memiliki hak untuk menjawab kritik. Namun kritik dari pakar, akademisi, ekonom, praktisi, maupun masyarakat seharusnya tidak otomatis diperlakukan sebagai serangan yang harus dibalas dengan serangan.
Justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji.
Kritik yang keras seharusnya dijawab dengan data yang lebih kuat. Kritik yang keliru seharusnya diluruskan dengan argumentasi. Kritik yang benar seharusnya menjadi bahan evaluasi.
Bukan dengan membuat kritik tersebut kehilangan arah.
Para pakar juga tidak perlu takut terhadap komunikasi yang bersifat memancing. Jika sebuah pernyataan dianggap sebagai umpan, maka jangan buru-buru menyambar.
Teliti dulu kailnya.
Periksa datanya.
Uji argumennya.
Kemudian jawab dengan substansi.
Sebab seorang pakar tidak perlu memenangkan perdebatan dengan suara paling keras. Cukup dengan argumentasi yang paling sulit dibantah.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu memahami bahwa para pakar bukan musuh pemerintahan.
Mereka dapat menjadi cermin yang memperlihatkan bagian yang mungkin tidak terlihat dari dalam kekuasaan.
Dalam negara demokrasi, kritik bukan gangguan yang harus disingkirkan. Kritik adalah bagian dari mekanisme pengawasan publik.
Karena itu, komunikasi menyerang dan bertahan sebaiknya tidak berhenti pada bagaimana memenangkan pertarungan kata-kata.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perdebatan membawa publik kembali kepada persoalan utama: kebijakan, data, kepentingan masyarakat, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Para pakar, silahkan kritik.
Tetapi jangan menjadi ikan kecil yang mudah ditarik oleh pancingan.
Jadilah ikan besar: tenang, kuat, dan membawa argumen yang kokoh.
Kalau memang umpannya dilempar, jangan sekadar memakan umpan.
Bawa pula pancing, tali, dan seluruh perdebatan itu kembali kepada dasar persoalannya: kebenaran data dan kepentingan rakyat.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.