Kurs Rupiah Jebol ke Rp17.845 per Dollar AS, IHSG Mulai Tertekan Sentimen 'Capital Outflow'
FAKTANASIONAL.NET — Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mengalami koreksi tajam hingga menembus level psikologis baru. Pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2026), mata uang garuda di pasar spot ambruk 44,50 poin atau setara 0,2…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mengalami koreksi tajam hingga menembus level psikologis baru. Pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2026), mata uang garuda di pasar spot ambruk 44,50 poin atau setara 0,25 persen ke posisi Rp17.845 per dollar AS.
Pelemahan ini diprediksi tidak hanya menekan Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG), melainkan juga mulai membayangi rapor kinerja saham perbankan big caps (berkapitalisasi pasar besar) serta emiten yang memiliki eksposur utang dan beban operasional berbasis valuta asing (valas).
Senior Market Analyst, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa kejatuhan rupiah di atas level Rp17.800 per dollar AS kini menjadi fokus atensi utama para pelaku pasar. Depresiasi mata uang domestik ini dipastikan membawa dampak berantai bagi pergerakan indeks saham, terutama akibat maraknya aksi keluar dana asing (capital outflow).
Baca Juga: Catatkan Kinerja Moncer, Allianz Indonesia Dianugerahi Sederet Penghargaan
“Jadi tentunya ini bisa menyebabkan terjadi tekanan terhadap IHSG, tapi sifatnya jangka pendek. Dan tekanan tersebut memang bisa cukup besar hingga moderat, di mana pergerakan indeks akan relatif fluktuatif. Belum lagi juga ada outflow sama asing,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam.
Nafan menjelaskan, jebolnya nilai tukar biasanya memicu kepanikan investor global untuk melakukan aksi jual bersih (net sell). Langkah defensif ini diambil demi mengamankan portofolio investasi mereka ke aset-aset safe haven berbasis dollar AS guna menghindari risiko penurunan nilai mata uang (currency risk).
“Karena kalau misalnya pelemahan nilai tukar rupiah biasanya diikuti oleh aksi jualan bersih pelaku investor asing. Belum lagi juga investor global itu cenderung mengamankan aset mereka ke instrumen yang seperti dollar AS,” paparnya.
Akibat 'Higher for Longer' dan Musim Repatriasi Dividen
Kendati rupiah babak belur, Nafan menggarisbawahi bahwa koreksi ini murni dipicu oleh faktor eksternal dan siklus tahunan domestik, bukan karena keroposnya struktur makroekonomi nasional. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia sejauh ini masih kokoh.
Keperkasaan indeks dollar AS ditopang oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta sikap bank sentral AS (The Fed) yang diproyeksikan bakal mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer).
“Sebenarnya bukan karena fundamental makro ekonomi Indonesia yang rapuh itu bukan, sebenarnya saya yakin fundamental domestik kita masih solid. Kita lihat saja tren dollar mengalami penguatan, ini juga dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Serta ekspektasi higher for longer dari Fed rate policy, seperti itu,” tukas Nafan.
Di samping itu, tekanan internal dipicu oleh lonjakan musiman kebutuhan dollar AS di dalam negeri sepanjang Mei 2026. Periode ini merupakan masa puncak repatriasi dividen oleh korporasi asing di Indonesia ke negara asal, ditambah dengan tingginya kebutuhan valas untuk operasional musim haji.
Soroti Kebijakan Pemerintah dan Langkah Bank Indonesia
Di sisi lain, pasar juga tengah bersikap wait and see mencermati rentetan kebijakan domestik yang berpotensi memengaruhi persepsi risiko investasi. Beberapa poin yang disoroti investor mencakup kebijakan kenaikan royalti komoditas tambang hingga isu pelebaran defisit fiskal pada anggaran negara.
Kini, seluruh mata pelaku pasar tertuju pada ramuan strategi lanjutan dari Bank Indonesia (BI).
Pasar berharap bank sentral dapat mengendalikan volatilitas rupiah, baik melalui skema intervensi langsung di pasar valas (Spot dan DNDF) maupun opsi agresif berupa penyesuaian suku bunga acuan (BI Rate) dalam waktu dekat.
Baca Juga: NPI Jauh Lebih Besar dari Ferronikel, DPR Ingatkan Skema Ekspor Satu pintu Danantara Harus Selektif
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.