Ledakan SMA 72 Jakarta: Pelaku Tertutup dan Terinspirasi Kekerasan Ekstrem
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengungkapkan bahwa pelaku ledakan di SMA 72 Jakarta, yang disebut Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH), dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan jarang bergaul. Dari hasil an…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengungkapkan bahwa pelaku ledakan di SMA 72 Jakarta, yang disebut Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH), dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan jarang bergaul. Dari hasil analisis digital, polisi menemukan bahwa ABH tersebut tertarik pada konten kekerasan dan hal-hal ekstrem di internet.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menjelaskan motif pelaku didasari oleh dorongan untuk melakukan aksi tersebut. Pelaku mengaku merasa sendirian dan tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah, baik di lingkungan keluarga, rumah, maupun sekolah. Rasa terisolasi dan dendam atas perlakuan yang diterima menjadi pemicu utama.
Kronologi dan Bom Rakitan
Rekaman CCTV menunjukkan ABH tiba di sekolah, sempat memantau situasi di sekitar masjid, dan kemudian melepaskan seragamnya. Pada pukul 12.05 WIB, ABH terekam menuju masjid dengan celana hitam, kaus putih, dan membawa senjata mainan (dummy) yang permukaannya ditulisi nama tokoh teroris. Sekitar pukul 12.05.51, cahaya merah dan ledakan disertai asap putih terlihat keluar dari dalam masjid. Polisi menemukan dua kawah ledak di lokasi, mengindikasikan dua bom telah diledakkan. Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto memastikan bom tersebut merupakan bom aktif yang dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote.
Bukan Terorisme, Murni Kriminal Umum
Densus 88 Antiteror Polri menegaskan bahwa ledakan di SMA 72 Jakarta bukan merupakan aksi terorisme, melainkan murni tindakan kriminal umum. Juru bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menduga ABH terinspirasi dari aksi kekerasan dan terorisme yang terjadi di negara lain, sebagai bagian dari fenomena global komunikasi transnasional. Pelaku hanya mempelajari dan mengikuti aksi ekstremisme, yang ditunjukkan dengan penulisan nama enam tokoh teroris global pada senjata mainannya. Tidak ada satu ideologi konsisten yang diikuti, menunjukkan aksi ini sekadar inspirasi yang dipicu rasa tertindas dan kesepian.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.