Logika Sudaryono Soal Sekolah Rusak: 'Sudah dari Dulu', Tapi Justru Itu Pengakuan Kegagalan
FAKTANASIONAL.NET – Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengenai kondisi sekolah rusak menuai beragam respons di ruang publik. Dalam unggahan yang dikutip redaksi dari akun Facebook Andrian Saputra pada 1 Agustus 2026, Sudaryono…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengenai kondisi sekolah rusak menuai beragam respons di ruang publik. Dalam unggahan yang dikutip redaksi dari akun Facebook Andrian Saputra pada 1 Agustus 2026, Sudaryono menegaskan bahwa kerusakan sekolah bukan disebabkan oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia mengatakan, "Dulu nggak ada MBG, kan sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG. Betul nggak? Kita objektif aja, sekolah itu rusak memang sebelum ada program MBG," dikutip dari unggahan Facebook Andrian Saputra.
Sudaryono juga mempertanyakan mengapa persoalan sekolah rusak sudah ada sejak sebelum MBG berjalan. Menurutnya, jika program tersebut belum ada pada masa lalu, seharusnya kondisi sekolah telah lebih baik.
Pernyataan itu dinilai sebagian kalangan sebagai upaya menjelaskan bahwa persoalan infrastruktur pendidikan merupakan masalah lama yang tidak berkaitan langsung dengan pelaksanaan MBG.
Dalam unggahan yang sama, Andrian Saputra justru menilai pernyataan tersebut membuka kembali perdebatan mengenai prioritas kebijakan pemerintah.
Ia mempertanyakan mengapa banyak sekolah yang telah lama mengalami kerusakan baru mendapat perhatian setelah muncul sorotan publik yang membandingkan fasilitas dapur MBG dengan kondisi ruang belajar.
Sudaryono sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah mempercepat renovasi sekitar 70.000 hingga 90.000 sekolah pada 2026, serta meminta masyarakat melaporkan bangunan sekolah yang rusak melalui portal Kemendikdasmen, dikutip dari unggahan Facebook Andrian Saputra.
Selain itu, ia meminta publik tidak membandingkan dapur MBG dengan bangunan sekolah karena keduanya memiliki skema pendanaan berbeda.
Namun, menurut Andrian Saputra, masyarakat cenderung melihat kedua program tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab negara sehingga perbandingan dianggap wajar.
Ia berpendapat bahwa alasan "sekolah memang sudah rusak sejak dulu" bukan menjadi pembenaran, melainkan pengingat bahwa persoalan tersebut telah berlangsung lama dan membutuhkan penyelesaian yang lebih cepat.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.