Fakta Nasional

Mandatori Biodiesel B50 Bisa Setop Impor Solar dan Hemat Devisa Rp157 Triliun

FAKTANASIONAL.NET – Kebijakan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi langkah yang sangat strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Selain mendongkrak kemandirian energi, program ini diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan Indonesia…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 20 June 2026 📖 2 menit
Mandatori Biodiesel B50 Bisa Setop Impor Solar dan Hemat Devisa Rp157 Triliun
Penerapan kebijakan mandatori B50 diproyeksikan ekonom mampu menghemat devisa negara hingga Rp157 triliun melalui penghentian impor solar./Dok. Listrik Indonesia

FAKTANASIONAL.NET – Kebijakan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi langkah yang sangat strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain mendongkrak kemandirian energi, program ini diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar secara signifikan.

Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai bahwa program pencampuran 50 persen bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ini membawa efek domino yang masif.

Tidak hanya berdampak positif bagi penyelamatan devisa negara, tetapi juga berkontribusi besar pada pengurangan emisi karbon.

"Kalau yang disampaikan demikian, memang itu akan menurunkan angka impor. Salah satu dampaknya nanti juga bisa terhadap apresiasi nilai tukar rupiah," ujar Hendry dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/6).

Hendry menambahkan, target ambisius penerapan B50 yang digadang-gadang mampu menghentikan total impor solar dan menghemat devisa negara hingga Rp157 triliun bukanlah hal yang mustahil.

Baca Juga: Siap-Siap! Implementasi Biodiesel B50 Bakal Hemat Anggaran Impor BBM hingga Rp48 Triliun

Namun, target tersebut dapat dicapai asalkan pemerintah telah menghitung secara cermat kesiapan pasokan bahan baku, kapasitas produksi industri biodiesel domestik, hingga skema pembiayaan yang berkelanjutan.

"Kalau nanti B50 digunakan dan sektor industri juga menggunakan B50, itu bisa menjadi salah satu pilot project bagi ketahanan energi,” tuturnya.

Pemicu Investasi Baru dan Efek Berganda

Lebih jauh lagi, Hendry memprediksi implementasi B50 akan menjadi stimulus kuat bagi pertumbuhan industri biodiesel di dalam negeri.

Lonjakan permintaan bahan bakar nabati ini diyakini akan membuka keran investasi baru, meningkatkan utilisasi pabrik pengolahan biodiesel, serta menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang positif bagi sektor perkebunan kelapa sawit dan kesejahteraan petani.

Dengan keberanian mengambil langkah ini, Indonesia juga berpeluang besar untuk mengukuhkan posisi sebagai pemimpin global dalam pemanfaatan energi terbarukan berbasis sawit.

“Indonesia juga berpeluang menjadi pionir dalam penerapan biodiesel dengan campuran tinggi. Sejumlah negara masih menerapkan kadar biodiesel lebih rendah, seperti Malaysia yang berada di kisaran B10 hingga B20, Thailand sekitar B20, serta sejumlah negara Eropa yang menggunakan campuran sekitar 7 sampai 10 persen,” demikian pungkas Hendry.

Baca Juga: Kejar Mandatori B50 Mulai 1 Juli, Kapasitas Kilang Biodiesel Nasional Harus Naik Jadi 26 Juta Kiloliter


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK