Fakta Nasional

Mantiq al-Tair: Musyawarah Burung

TIDAK semua perjalanan harus berakhir di tempat yang jauh. Sebagian perjalanan justru membawa manusia kembali kepada dirinya sendiri. Bagi saya, gagasan itulah yang membuat Mantiqu't-Tair atau Musyawarah Burung karya penyair sufi Fariduddin Attar te…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 01 October 2026 📖 8 menit
Mantiq al-Tair: Musyawarah Burung
Mantiq al-Tair: Musyawarah Burung/foto: Ilustrasi)
) -->

TIDAK semua perjalanan harus berakhir di tempat yang jauh. Sebagian perjalanan justru membawa manusia kembali kepada dirinya sendiri.

Bagi saya, gagasan itulah yang membuat Mantiqu't-Tair atau Musyawarah Burung karya penyair sufi Fariduddin Attar tetap menarik dibaca dalam kehidupan hari ini.

Kisah tentang sekumpulan burung yang mencari raja mereka, Simurgh, sekilas seperti dongeng spiritual.

Namun semakin dalam dibaca, kisah tersebut terasa seperti cermin yang diarahkan kepada manusia: tentang keinginan, ketakutan, kesombongan, keterikatan, pencarian makna, hingga ego yang diam-diam sering menjadi pusat kehidupan.

Attar tidak sekadar menceritakan perjalanan menuju suatu tempat. Ia menghadirkan perjalanan batin.

Para burung dalam kisah tersebut memiliki berbagai alasan untuk tidak ikut.

Sebagian terikat oleh kenyamanan, sebagian takut menghadapi kesulitan, sementara yang lain memiliki alasan yang membuat mereka merasa perjalanan itu bukan untuk mereka.

Dalam pembacaan saya, di sinilah kisah lama itu justru bertemu dengan kehidupan modern.

Manusia hari ini mungkin tidak lagi tinggal di hutan dan berbicara sebagai burung.

Namun kita memiliki bentuk keterikatan yang berbeda. Kita terikat pada jabatan, uang, popularitas, kenyamanan, penilaian orang lain, bahkan citra yang kita bangun sendiri.

Kita ingin berubah, tetapi tidak ingin kehilangan kenyamanan. Kita ingin menjadi lebih baik, tetapi tidak selalu bersedia mengoreksi diri.

Kita ingin menemukan kebenaran, tetapi terkadang hanya mencari pembenaran.

Karena itu, Musyawarah Burung bagi saya bukan hanya karya sastra sufistik. Ia merupakan bahan renungan tentang manusia dan perjalanan panjangnya mengenal diri.

Ketika Manusia Mulai Bertanya kepada Dirinya Sendiri

Perjalanan menuju Simurgh dimulai dari sebuah kesadaran bahwa keadaan tidak dapat terus dibiarkan sebagaimana adanya.

Dalam kisah Attar, burung-burung berkumpul dan membicarakan kebutuhan mereka terhadap seorang raja.

Di balik cerita alegoris tersebut, saya melihat sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: apakah kehidupan yang sedang dijalani sudah benar-benar memiliki arah?

Pertanyaan semacam itu sering muncul ketika seseorang berhenti sejenak dari rutinitas.

Selama manusia sibuk mengejar kebutuhan sehari-hari, pertanyaan tentang makna kehidupan sering tersingkir.

Bangun, bekerja, mendapatkan uang, mengejar target, membangun hubungan, mencari pengakuan, kemudian mengulang semuanya.

Rutinitas membuat kehidupan bergerak, tetapi belum tentu membuat manusia mengerti ke mana ia bergerak.

Di sinilah Lembah Pencarian dalam perjalanan menuju Simurgh dapat dibaca sebagai simbol kegelisahan intelektual dan spiritual.

Pencarian bukan sekadar mencari jawaban. Pencarian juga berarti berani mengakui bahwa kita belum mengetahui.

Bagi saya, ini penting dalam kehidupan modern. Dunia hari ini dipenuhi informasi, tetapi banyak informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.

Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi belum tentu memahami dirinya sendiri.

Kita mengetahui bagaimana orang lain hidup melalui media sosial. Kita mengetahui keberhasilan orang lain, perjalanan orang lain, kekayaan orang lain, bahkan pendapat orang lain.

Namun semakin banyak melihat kehidupan di luar diri, manusia terkadang justru semakin jauh dari dirinya sendiri.

Karena itu, pertanyaan paling sulit bukan selalu tentang dunia.

Kadang pertanyaan paling sulit adalah: mengapa saya hidup seperti ini?

Mengapa saya begitu membutuhkan pengakuan? Mengapa kritik membuat saya marah? Mengapa keberhasilan orang lain terasa mengganggu? Mengapa saya takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi milik saya?

Pertanyaan semacam itu merupakan awal perjalanan.

Tujuh Lembah sebagai Pendidikan Jiwa

Perjalanan burung-burung menuju Simurgh digambarkan melalui tujuh lembah. Dalam tradisi kisah tersebut, lembah-lembah itu menjadi tahapan perjalanan spiritual.

Saya melihatnya bukan sebagai peta perjalanan geografis, melainkan sebagai peta perubahan manusia.

Lembah pertama adalah pencarian. Manusia mulai meninggalkan kehidupan yang berjalan otomatis dan bertanya tentang arah hidupnya.

Kemudian terdapat Lembah Cinta. Dalam kerangka sufistik, cinta tidak sebatas hubungan romantis.

Cinta merupakan kekuatan batin yang mendorong manusia melewati batas kepentingan dirinya.

Cinta menuntut keberanian untuk memberikan, melepaskan, dan mendekati sesuatu yang dianggap lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.

Di zaman ketika hampir segala sesuatu mudah dihitung berdasarkan keuntungan, gagasan tersebut terasa penting.

Tidak semua hal yang bernilai dapat dihitung dengan angka.

Kejujuran mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung. Menolong orang lain mungkin tidak memberikan popularitas.

Menjaga prinsip mungkin membuat seseorang kehilangan kesempatan tertentu.

Namun kehidupan manusia tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan apa yang dapat diperoleh.

Setelah itu terdapat Lembah Kesadaran. Bagi saya, tahap ini sangat dekat dengan persoalan manusia modern.

Kesadaran berarti belajar melihat sesuatu lebih dalam daripada permukaannya. Kita tidak hanya bertanya apa yang terjadi, tetapi mengapa sesuatu terjadi dalam diri kita.

Marah, misalnya, bukan hanya persoalan suara yang meninggi. Bisa jadi terdapat luka, ketakutan, rasa tidak dihargai, atau ego yang tersentuh di belakangnya.

Demikian pula ambisi. Ambisi dapat menjadi energi untuk berkembang, tetapi dapat pula berubah menjadi keterikatan ketika harga diri seseorang sepenuhnya bergantung pada pencapaian.

Kemudian hadir Lembah Kebebasan. Saya memahami kebebasan dalam konteks ini bukan sebagai kebebasan melakukan apa saja, melainkan kebebasan dari belenggu batin.

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap merasa miskin apabila hidupnya dikuasai ketakutan kehilangan. Seseorang bisa memegang jabatan tinggi tetapi tidak bebas jika seluruh harga dirinya bergantung pada jabatan tersebut.

Maka kebebasan sejati juga berkaitan dengan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki.

Lembah Tauhid membawa perjalanan kepada kesadaran tentang keesaan Tuhan.

Dalam pembacaan keislaman, ini berarti manusia menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari seluruh kehidupan.

Keberhasilan dan kegagalan tidak lagi semata-mata menjadi alasan untuk membesarkan atau menghancurkan ego.

Kemudian datang Lembah Keheranan atau Ketakjuban.

Di sinilah manusia belajar bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan dengan kemampuan akalnya sendiri.

Bagi saya, ketidaktahuan tidak selalu merupakan kelemahan. Mengakui keterbatasan pengetahuan justru dapat menjadi awal kerendahan hati.

Tahap terakhir berkaitan dengan kefanaan, yaitu berkurangnya dominasi ego atau rasa keakuan.

Saya membaca gagasan ini bukan sebagai penghapusan keberadaan manusia, melainkan sebagai kritik terhadap ego yang menjadikan diri sendiri pusat segala sesuatu.

Manusia tetap bekerja, berpikir, berusaha, memiliki cita-cita, bahkan mengejar keberhasilan. Tetapi semua itu tidak lagi harus menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain.

Ketika Ego Menjadi Penghalang Terbesar

Bagian paling menarik dari Musyawarah Burung bagi saya justru terletak pada kenyataan bahwa perjalanan menuju Simurgh tidak mudah.

Banyak burung tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Di sinilah Attar seolah memperlihatkan bahwa hambatan terbesar manusia tidak selalu berasal dari luar. Kadang penghalang terbesar justru terdapat dalam dirinya sendiri.

Kita sering menyalahkan keadaan.

Kita menyalahkan lingkungan, keluarga, pemerintah, pekerjaan, ekonomi, bahkan orang lain. Tentu berbagai faktor eksternal memang memengaruhi kehidupan.

Namun manusia juga perlu memiliki keberanian untuk bertanya: bagian mana dari persoalan ini yang berasal dari diri saya?

Pertanyaan tersebut tidak mudah karena ego lebih menyukai pembelaan daripada pemeriksaan.

Dalam kehidupan sosial, fenomena semacam ini mudah ditemukan. Seseorang dapat berbicara panjang tentang moral, tetapi sulit menerima kritik.

Orang dapat menuntut keadilan ketika dirinya dirugikan, tetapi lupa pada keadilan ketika memiliki kekuasaan.

Begitu pula dalam pendidikan.

Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab soal, tetapi manusia yang mampu bertanya kepada dirinya sendiri. Pengetahuan tanpa refleksi dapat menghasilkan orang pintar yang belum tentu bijaksana.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan beragama.

Bagi saya, keberagamaan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan berbicara mengenai Tuhan.

Ukurannya juga terlihat pada bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain, bagaimana ia mengendalikan kesombongan, bagaimana ia menghadapi perbedaan, dan bagaimana ia bersikap ketika memperoleh kekuasaan.

Sebab mudah berbicara tentang kebaikan ketika kita sedang dilihat.

Yang sulit adalah tetap menjaga kebaikan ketika tidak seorang pun memberikan tepuk tangan.

Simurgh dan Cermin Diri Manusia

Puncak perjalanan menjadi bagian paling simbolis dari kisah Attar.

Setelah perjalanan panjang, hanya tiga puluh burung yang mencapai tujuan. Dalam bahasa Persia, si berarti tiga puluh dan murgh berarti burung. Dari sinilah simbol Simurgh memperoleh kekuatan alegorisnya.

Ketika mereka sampai, pencarian terhadap raja yang mereka bayangkan ternyata membawa mereka kepada sebuah pengalaman yang berkaitan dengan diri mereka sendiri.

Saya tidak membaca bagian ini sebagai pernyataan bahwa manusia adalah Tuhan. Justru sebaliknya, bagi saya, maknanya harus ditempatkan dalam kerangka perjalanan spiritual: manusia semakin mengenal dirinya ketika ia semakin menyadari kedudukannya sebagai makhluk di hadapan Allah.

Ini merupakan perbedaan penting.

Mengenal diri bukan berarti memuja diri.

Mengenal diri berarti memahami kelemahan, keterbatasan, keinginan, ketakutan, sekaligus tanggung jawab sebagai manusia.

Ada manusia yang menghabiskan hidup untuk membangun citra dirinya. Ia ingin terlihat berhasil, bijaksana, kaya, berpengaruh, atau benar. Tetapi citra tidak selalu sama dengan kenyataan.

Kita bisa terlihat kuat di depan banyak orang, sementara di dalam diri masih terdapat ketakutan yang belum selesai.

Kita bisa terlihat rendah hati, tetapi diam-diam sangat membutuhkan pujian.

Kita bisa berbicara tentang keadilan, tetapi menjadi tidak adil ketika kepentingan sendiri terganggu.

Karena itu, perjalanan menuju Simurgh dapat saya baca sebagai perjalanan melewati lapisan-lapisan kepalsuan yang kita bangun sendiri.

Semakin jauh manusia berjalan ke dalam dirinya, semakin sulit ia berbohong kepada dirinya sendiri.

Pelajaran Musyawarah Burung untuk Kehidupan Hari Ini

Saya melihat relevansi Musyawarah Burung justru semakin kuat ketika kehidupan modern bergerak semakin cepat.

Kita hidup dalam zaman yang mendorong manusia untuk terus menunjukkan pencapaian. Media sosial membuat keberhasilan mudah dipamerkan. Dunia kerja menuntut produktivitas. Persaingan sosial membuat banyak orang takut tertinggal.

Dalam situasi seperti itu, manusia mudah mengira bahwa hidup adalah perlombaan.

Siapa yang paling kaya, paling terkenal, paling berpengaruh, paling banyak pengikut, paling tinggi jabatannya, atau paling sering dipuji.

Namun Attar mengajukan pertanyaan yang berbeda: setelah seluruh perjalanan itu ditempuh, siapa sebenarnya manusia tersebut?

Bagi saya, pertanyaan ini memiliki konsekuensi moral.

Kekuasaan, misalnya, seharusnya tidak hanya dipahami sebagai kemampuan memerintah. Kekuasaan juga merupakan ujian terhadap ego.

Ketika seseorang memiliki kewenangan, apakah ia semakin rendah hati atau semakin merasa tidak tersentuh?

Begitu pula dengan ilmu.

Ilmu seharusnya membuat manusia semakin sadar akan luasnya sesuatu yang belum ia ketahui, bukan membuatnya merasa paling benar.

Demikian juga dengan agama.

Keimanan semestinya membawa manusia pada ketundukan kepada Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Kesalehan yang hanya menghasilkan kesombongan kehilangan ruh reflektifnya.

Di titik ini saya melihat Musyawarah Burung sebagai pendidikan tentang manusia.

Pencarian mengajarkan keberanian.

Cinta mengajarkan ketulusan.

Kesadaran mengajarkan introspeksi.

Kebebasan mengajarkan pelepasan dari keterikatan.

Tauhid mengajarkan bahwa manusia bukan pusat segala sesuatu.

Ketakjuban mengajarkan kerendahan hati di hadapan misteri kehidupan.

Kefanaan mengajarkan bahwa ego tidak layak dijadikan pusat kehidupan.

Pada akhirnya, perjalanan tersebut bukan perlombaan untuk menjadi manusia yang paling suci di hadapan orang lain. Justru perjalanan itu mengajak manusia semakin jujur terhadap dirinya sendiri.

Saya kira di sinilah kekuatan Musyawarah Burung masih terasa sampai sekarang.

Manusia boleh mengejar pendidikan, karier, kekayaan, jabatan, popularitas, dan berbagai cita-cita. Tidak satu pun dari itu harus ditolak.

Tetapi semua pencapaian tersebut perlu ditempatkan dalam kesadaran bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan.

Sebab jika seluruh kehidupan hanya digunakan untuk mengejar pengakuan, manusia mungkin mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Dan jika seluruh perjalanan hanya digunakan untuk membuktikan bahwa diri kita lebih hebat daripada orang lain, kita mungkin semakin jauh dari tujuan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, perjalanan terjauh mungkin bukan perjalanan menuju tempat yang belum pernah kita datangi. Perjalanan terjauh adalah perjalanan masuk ke dalam diri sendiri.

Di sana kita bertemu dengan ketakutan yang selama ini disembunyikan, ambisi yang selama ini dibenarkan, luka yang belum selesai, ego yang terus meminta pengakuan, sekaligus kerinduan untuk menemukan kehidupan yang lebih bermakna.

Bagi saya, itulah salah satu renungan terpenting dari perjalanan burung-burung menuju Simurgh: manusia tidak hanya perlu bertanya ke mana ia akan pergi, tetapi juga siapa dirinya ketika perjalanan itu berakhir.

Sebab pada akhirnya, seluruh pencarian kehidupan akan membawa kita kepada satu kesadaran sederhana: manusia bukan pusat dari segala sesuatu.

Kita hanya sedang berjalan.

Dan barangkali, semakin jauh perjalanan itu ditempuh, semakin kita belajar bahwa tujuan terbesar bukan menjadi seseorang yang dikagumi dunia, melainkan menjadi manusia yang mengenal dirinya, menyadari keterbatasannya, membersihkan egonya, dan tahu kepada siapa seluruh perjalanan kehidupan akhirnya kembali.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK