Fakta Nasional

Mas Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG

MAS Dar , Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG Mas... mas...Kalau ngomong sih memang mantap kali. Zero tolerance! Tidak ada ampun! Tidak ada kompromi! Tidak ada belas kasihan! Nadanya seperti panglima perang baru pulang men…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 06 August 2026 📖 3 menit
Mas Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG
Mas Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG/(FKN)

MAS Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG

Mas... mas...Kalau ngomong sih memang mantap kali. Zero tolerance! Tidak ada ampun! Tidak ada kompromi! Tidak ada belas kasihan!

Nadanya seperti panglima perang baru pulang menaklukkan tujuh kerajaan dan tiga galaksi. Mendengarnya, rakyat langsung tenang. Bakteri pun seharusnya takut. Kuman mestinya langsung mengurus surat pindah kewarganegaraan.

Tapi rupanya bakteri di Indonesia tidak menonton konferensi pers.

Baru beberapa hari setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, berharap kasus keracunan MBG di Semarang menjadi kasus pertama sekaligus terakhir selama dirinya menjabat, eh datang lagi episode berikutnya.

Belum sempat rakyat selesai mengucap "amin". Bam! Muncul Sentani.

Kalau Semarang kemarin membuat 707 orang tumbang, terdiri 693 siswa dan 14 guru, dengan bonus pusing, mual, muntah, dan diare. Di Papua seolah berkata, "Kami tidak mau ketinggalan trending."

Sedikitnya 294 orang lebih ikut menjadi korban. Siswa kena. Balita kena. Ibu hamil kena. Guru kena. Lansia kena. Lengkap.

Seolah program ini sedang mengejar target pemerataan nasional.

Menu disajikan juga terlihat sangat normal. Nasi. Sayur sawi campur jagung. Tempe bacem. Telur dadar. Semangka.

Tidak ada racun ular kobra. Tidak ada cairan radioaktif. Tidak ada bumbu dari laboratorium Kim Jong-un.

Tapi hasil akhirnya membuat delapan puskesmas dan RSUD Yowari sibuk seperti petugas bandara saat libur Natal. Bahkan sampai mendirikan tenda darurat.

Lalu rakyat bertanya. Apa penyebabnya? Nah, di sinilah logika mulai jungkir balik sambil salto.

Menurut penjelasan yang disampaikan, penyebabnya kurang lebih sama seperti kasus Semarang.

Waktu memasak terlalu cepat.

Saya ulangi lagi karena ini terlalu indah untuk dilewatkan. Masaknya. Terlalu. Cepat.

Di Papua, dapur mulai memasak sekitar pukul 07.00 atau 07.30 pagi pada H-1, lalu makanan dikirim keesokan harinya sekitar pukul 11 siang.

Di Semarang, memasak dimulai sekitar pukul 21.00 malam.

Sungguh teori yang mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Isaac Newton menemukan gravitasi karena apel jatuh. Albert Einstein menemukan relativitas karena berpikir.

Indonesia menemukan keracunan karena masak terlalu cepat. Nobel harus mempertimbangkan kategori baru. Yang jadi pertanyaan sederhana adalah begini.

Kalau penyebabnya sudah diketahui sejak Semarang, mengapa beberapa hari kemudian Sentani masih bisa terjadi?

Apakah bakteri mendapat bocoran jadwal? Apakah pengawasan sedang cuti? Ataukah standar operasional hanya dianggap sebagai karya sastra enak dibaca tetapi tidak wajib dijalankan?

Namun tenang. Negara bergerak cepat. Sangat cepat. Lebih cepat dari Whoosh yang utangnya dibayar Purbaya.

Sebanyak 137 Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) langsung dicopot. Empat puluh sembilan dari Jawa Barat. Dua puluh enam dari Lampung.Sebelas dari Jawa Timur. Sepuluh dari Sumatera Utara. Sepuluh dari Banten. Sisanya tersebar di berbagai daerah.

Lima di antaranya berasal dari Jawa Tengah yang dapurnya diduga terkait kasus Semarang. Luar biasa.

Kalau kecepatan mencopot pejabat bisa menghasilkan listrik, PLN mungkin sudah tidak perlu membangun pembangkit baru.

Masalahnya cuma satu. Keracunan berikutnya tetap datang.

Ini seperti rumah kebakaran lalu yang dipindahkan bukan tabung gasnya, melainkan keset di depan pintu.

Api tetap tertawa. Yang menarik lagi adalah perubahan istilah. Dulu disebut "kejadian menonjol." Sekarang naik kasta menjadi "kejadian fatal."

Indonesia memang jago dalam urusan mengganti nama. Jalan rusak bisa ganti nama. Program gagal bisa ganti nama. Keracunan pun naik level nama.

Padahal bakteri tidak pernah peduli istilah. Bakteri tidak membaca surat keputusan. Bakteri tidak hadir dalam rapat koordinasi. Bakteri hanya memanfaatkan kelalaian.

Selesai.

Maka rakyat akhirnya melihat pola yang mulai berulang. Setiap ada masalah, muncul janji. Setiap ada korban, muncul konferensi pers. Setiap ada sorotan, muncul pencopotan.

Tapi korban terus bertambah. Yang masuk ambulans bukan istilah. Yang dirawat di rumah sakit bukan narasi. Yang muntah-muntah bukan konferensi pers. Melainkan anak-anak, guru, balita, ibu hamil, dan warga biasa.

Karena itu pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi soal zero tolerance.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana. Kalau setelah 707 korban di Semarang masih muncul 294 korban lebih di Sentani, sebenarnya yang zero itu toleransinya atau hasil pengawasannya?

Jangan sampai nanti kita terus berganti istilah. Dari "menonjol" menjadi "fatal". Dari "fatal" menjadi "super fatal". Lalu "ultra fatal". Eh malah kegatalan, ups keceplosan, maaf.

Sementara rakyat tetap menjadi kelinci percobaan dalam program seharusnya memberi gizi, bukan memberi pengalaman mengenal ruang IGD.

Berganti pemimpin. Berganti slogan. Berganti konferensi pers. Berganti pejabat yang dicopot.

Tapi kalau racunnya masih datang juga, rakyat berhak curiga. Jangan-jangan yang benar-benar konsisten dalam program ini bukan gizinya. Melainkan keracunannya.

"Bang, untungnya yang minum Koptagul zero keracunan."

"Alhamdulillah, wak Koptagul selalu bikin otak encer dan waras "

Penulis: Rosadi Jamani


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK