Fakta Nasional

MBG Ayam Goreng Belatung, Maaf Boleh, Tapi Jangan Anak Orang Ente Korbankan

KITA lanjutkan cerita menu MBG ayam goreng belatung. Akhirnya si pemilik SPPG keluar kandang. Keduanya dengan wajah memelas minta maaf ke publik. Apakah urusannya selesai dengan minta maaf? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Kubu Raya kem…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 12 August 2026 📖 2 menit
MBG Ayam Goreng Belatung, Maaf Boleh, Tapi Jangan Anak Orang Ente Korbankan
MBG Ayam Goreng Belatung, Maaf Boleh, Tapi Jangan Anak Orang Ente Korbankan/(Ilustrasi AI)
) -->

KITA lanjutkan cerita menu MBG ayam goreng belatung. Akhirnya si pemilik SPPG keluar kandang. Keduanya dengan wajah memelas minta maaf ke publik. Apakah urusannya selesai dengan minta maaf? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kubu Raya kembali mempertontonkan drama paling absurd dari program MBG. Senin, 10 Agustus 2026, paket makanan di SD Negeri 01 Teluk Pakedai dilaporkan ditemukan belatung di antara nasi, ayam goreng, tempe, tumis sayur, dan semangka.

Belatung! Makhluk kecil putih menggeliat di atas makanan. Bukan tauge. Bukan kecambah. Bukan bonus protein yang sengaja dipesan. Belatung alias ulat kecil nan imut.

Nuan bayangkan anak membuka ompreng. Harapan menemukan ayam goreng mendadak berubah menjadi adegan film horor. Ayam yang semula menggoda selera mendadak menjadi barang bukti. Nasi dicurigai. Tempe diperiksa. Semangka pun mungkin ikut diinterogasi.

Saya kira si pemilik SPPG menghilang. Menunggu momen di saat orang sudah lupa, ia akan muncul. Ia tidak memilih menghilang ke hutan. Akhirnya mucul ke publik juga. Kepala SPPG, Ahmad Pauzi, telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

Kita hargai permintaan maaf itu. Tetapi maaf bukanlah deterjen otomatis membersihkan masalah. Maka izinkan publik bertanya dengan pertanyaan paling sederhana, kalau ayam goreng yang ditemukan belatung itu benar-benar disodorkan ke pemilik SPPG, mau tidak beliau memakannya? Kira-kira gini, “Hei..Fauzi, ente mau ndak makan ayam goreng belatung ini, mau ndak?”

Kalau mau, silakan. Duduk. Ambil nasi. Ambil ayam. Lalu santap. Kalau ternyata tidak sanggup, jangan anak orang yang disuruh menelan risikonya. “Yang ente suruh makan itu, anak orang, bukan anak kucing, dongok!”

Kalau perlu, Mas Dar alias Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), ikut duduk di meja makan. Bukan untuk menghukum siapa-siapa. Sekadar membuktikan, makanan disebut bergizi itu memang layak masuk ke perut manusia.

Sebab anak-anak bukan kelinci percobaan. Mereka bukan peserta acara MasterChef: Edisi Ompreng Misterius. Mereka juga bukan pasukan harus dilatih menghadapi protein yang bisa merayap.

Satgas MBG Kubu Raya, melalui Ketua Satgas sekaligus Sekda Yusran Anizam menyatakan, kasus tersebut akan diperiksa sesuai SOP. Jika ada unsur kesengajaan, pihak yang bertanggung jawab akan ditindak. Jika tidak disengaja tetapi makanan terbukti tidak layak konsumsi, pengelola tetap harus bertanggung jawab. Pengelola SPPG bahkan bisa diganti.

Ketua Komisi IV DPRD Kubu Raya Muhammad Amri juga meminta dapur SPPG ditutup sementara jika terbukti melanggar. “Sikat saja, Pak. Saatnya ente beraksi!” Bagus. Sebab permintaan maaf harus diikuti pertanggungjawaban.

Terlebih SPPG Selat Remis Teluk Pakedai melayani sekitar 2.035 penerima manfaat di 26 sekolah. Ini bukan satu piring. Ini ribuan perut anak.

Mas Dar sebelumnya menyatakan 833 SPPG telah ditutup permanen hingga 27 Juli 2026 karena berbagai pelanggaran, mulai higienitas, sanitasi, kualitas makanan, kasus keracunan, hingga persoalan IPAL. Maka Teluk Pakedai jangan dianggap sekadar insiden kecil.

Anak-anak membutuhkan makanan bergizi, bukan makanan membutuhkan penyidik sebelum dimakan. Kalau ayam belatung itu benar-benar layak, silakan yang paling bertanggung jawab mencicipinya terlebih dahulu. Sebab ada satu prinsip sederhana, kalau kita sendiri tidak mau memakannya, jangan pernah menyuruh anak orang memakannya.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK