Fakta Nasional

Menakar Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Perekonomian Indonesia pada kuartal I 2025 hanya tumbuh 4,87% secara tahunan, jauh di bawah ekspektasi. Angka ini memicu kekhawatiran bahwa Indonesia tengah memasuki fase perlambatan yang lebih serius. Penopang utama per…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 06 May 2025 📖 1 menit
Menakar Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025
Menakar Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia/(ilustrasi/fkn)
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Perekonomian Indonesia pada kuartal I 2025 hanya tumbuh 4,87% secara tahunan, jauh di bawah ekspektasi.

Angka ini memicu kekhawatiran bahwa Indonesia tengah memasuki fase perlambatan yang lebih serius. Penopang utama pertumbuhan, yaitu konsumsi rumah tangga, sudah menunjukkan tanda-tanda kejenuhan di tengah tekanan inflasi dan kenaikan tarif pajak.

Jika tidak diimbangi kebijakan fiskal yang memadai, pertumbuhan 4,87% bisa menjadi pintu gerbang ke pertumbuhan yang lebih lesu di kuartal-kuartal berikutnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 54,53%, dengan pertumbuhan 4,89% secara tahunan. Namun, data ini menurun dari tahun sebelumnya.

Inflasi yang masih tinggi dan tekanan harga komoditas pangan menjaga daya beli masyarakat di level rendah.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya bantuan sosial yang dapat meringankan beban belanja rumah tangga.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai respons pemerintah belum memadai. Belanja negara yang ditekan atas dalih efisiensi justru mengurangi ruang intervensi fiskal di sektor riil.

Padahal, saat ekspor dan investasi juga tumbuh lemah—masing-masing 1,38% dan 2,12%—konsumsi domestik menjadi satu-satunya jangkar pertumbuhan.

Jika pemerintah segera meluncurkan stimulus berupa insentif pajak untuk UMKM, subsidi harga pangan strategis, dan perluasan bantuan sosial produktif, daya beli masyarakat bisa terjaga dan pertumbuhan meningkat kembali.

Daya beli rumah tangga bukan sekadar angka statistik, melainkan fondasi utama ekonomi yang mampu menyerap guncangan eksternal.

Ketika permintaan domestik kuat, para pelaku usaha berani memperluas produksi dan menciptakan lapangan kerja.

Dengan demikian, strategi jangka panjang harus mengutamakan penguatan konsumsi dalam negeri, bukan semata-mata investasi dan ekspor.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK