Mengapa Bencana Terus Melanda?
INDONESIA kembali diingatkan bahwa manusia hidup di negeri yang berdiri di atas wilayah penuh dinamika alam. Gunung berapi erupsi. Banjir datang ketika hujan tak berhenti. Tanah longsor mengancam permukiman. Kebakaran menghanguskan lahan. Di wilayah…
Dengarkan Ringkasan
INDONESIA kembali diingatkan bahwa manusia hidup di negeri yang berdiri di atas wilayah penuh dinamika alam.
Gunung berapi erupsi.
Banjir datang ketika hujan tak berhenti.
Tanah longsor mengancam permukiman.
Kebakaran menghanguskan lahan.
Di wilayah lain, laut dan gempa selalu menyimpan kemungkinan yang tidak bisa ditebak manusia.
Hari-hari ini, perhatian kembali tertuju kepada Gunung Anak Krakatau.
Erupsi pada awal September 2026 bahkan mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.
Lebih dari 1.500 penerbangan terdampak dan sekitar 170.000 penumpang ikut terkena dampaknya.
Lima gunung api di Indonesia juga berada pada level siaga, termasuk Anak Krakatau dan Semeru.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya, mengapa gunung itu meletus?
Secara ilmiah, tentu ada jawabannya. Ada aktivitas vulkanik, tekanan magma, kondisi geologi, hingga mekanisme alam yang memang harus dipahami melalui ilmu pengetahuan.
Tetapi sebagai seorang Muslim, saya kira ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita?
Bukan berarti setiap erupsi harus langsung disebut sebagai azab.
Saya tidak ingin gegabah sampai menghakimi korban atau merasa mengetahui secara pasti maksud Allah di balik sebuah musibah.
Tidak.
Justru di sinilah kedewasaan iman diuji.
Kita percaya pada ilmu pengetahuan sekaligus percaya bahwa di balik setiap kejadian terdapat pelajaran bagi manusia.
Anak Krakatau dan Cermin Kesombongan Manusia
Gunung tidak pernah berjanji akan selalu diam.
Laut tidak pernah menjanjikan akan selalu tenang.
Alam tidak pernah menandatangani kontrak dengan manusia bahwa kehidupan akan berjalan sesuai keinginan kita.
Yang sering bermasalah justru manusia.
Kita membangun terlalu dekat dengan wilayah rawan.
Menutup daerah resapan.
Merusak hutan.
Membuang sampah ke sungai. Mengabaikan tata ruang.
Kadang setelah bencana datang, barulah kita sibuk mencari siapa yang salah.
Padahal jauh sebelum bencana, manusia sebenarnya sudah diberi tanda untuk berhati-hati.
Al-Qur'an mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini semestinya tidak digunakan untuk menunjuk hidung korban.
Ayat ini justru pertama-tama harus diarahkan kepada diri sendiri.
Ketika hutan ditebang, ketika lingkungan dirusak, ketika keserakahan mengalahkan keselamatan, bukankah kita juga harus bertanya apakah manusia sedang menciptakan sebagian risiko bagi dirinya sendiri?
Karena itu, mitigasi bencana bukan hanya urusan pemerintah.
Ia juga persoalan moral.
Jangan Hanya Takut Gunung, Takutlah Kehilangan Kesadaran
Ada sesuatu yang sering kita lakukan ketika bencana terjadi.
Kita panik.
Setelah itu kita mencari berita.
Kemudian mencari video.
Lalu mencari siapa yang harus disalahkan.
Tetapi jarang kita bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang harus saya ubah setelah melihat semua ini?”
Padahal musibah seharusnya membuat manusia lebih sadar bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Kisah para ulama salaf memberikan pelajaran tentang keberanian bercermin ketika kesulitan datang.
Ibnu Sirin, misalnya, pernah mengaitkan kesulitan yang dialaminya dengan kesalahan yang pernah dilakukan puluhan tahun sebelumnya.
Bukan berarti setiap musibah boleh kita simpulkan sebagai akibat dosa tertentu.
Tetapi sikap itu mengajarkan sesuatu yang sangat mahal: jangan terlalu cepat merasa diri kita sudah benar.
Hari ini Anak Krakatau mengeluarkan abu.
Besok mungkin persoalan lain datang.
Karena itu, kewaspadaan harus berjalan bersama ketakwaan. Ilmu harus berjalan bersama iman. Teknologi harus berjalan bersama tanggung jawab.
Pemerintah wajib memperkuat mitigasi, sistem peringatan dini, tata ruang dan kesiapsiagaan masyarakat.
Masyarakat pun wajib menjaga lingkungan dan mematuhi peringatan resmi.
Sedangkan kita sebagai manusia beriman punya pekerjaan tambahan: bermuhasabah.
Sebab mungkin bencana bukan hanya menguji seberapa kuat bangunan kita.
Ia juga menguji seberapa kuat hati kita.
Jangan sampai ketika gunung meletus kita hanya takut kehilangan rumah, tetapi tidak takut kehilangan arah hidup.
Jangan sampai ketika banjir datang kita sibuk menyalahkan hujan, tetapi lupa bahwa tangan manusia mungkin ikut memperparah kerusakan.
Dan jangan sampai setelah keadaan kembali normal, kita kembali menjadi manusia yang sama.
Sebab bisa jadi, pelajaran terbesar dari sebuah musibah bukan terletak pada dahsyatnya bencana.
Melainkan pada apakah setelah bencana itu kita menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih bertanggung jawab, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Allah.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.