Fakta Nasional

Menperin Akui Sektor Manufaktur Tengah Tertekan, PHK Massal Mengancam

FAKTANASIONAL.NET - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengakui sektor manufaktur nasional tengah berada dalam tekanan berat di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini dinilai berpotensi memicu gelombang pemut…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Editor Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 06 May 2026 📖 2 menit
Menperin Akui Sektor Manufaktur Tengah Tertekan, PHK Massal Mengancam
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat berkoordinasi Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (5/5/2026)/Dok. Kemenperin.

FAKTANASIONAL.NET - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengakui sektor manufaktur nasional tengah berada dalam tekanan berat di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini dinilai berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama jika gangguan global terus berlanjut.

Dalam keterangannya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026), Agus menegaskan bahwa tekanan terhadap sektor manufaktur tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga negara-negara lain yang terintegrasi dalam rantai pasok global.

"Kita ini sekarang dalam kondisi yang memang harus diberi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia," kata Agus.

Ia menyebut gangguan distribusi, lonjakan harga bahan baku, serta pelemahan permintaan sebagai faktor utama yang membebani industri.

Meski demikian, pemerintah menilai tekanan tersebut bersifat temporer karena dipicu faktor eksternal. Agus menyampaikan keyakinannya bahwa kondisi pasar global akan kembali stabil seiring meredanya ketegangan geopolitik.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sektor manufaktur Indonesia memiliki rekam jejak ketahanan yang kuat dalam menghadapi krisis. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 menjadi indikator penting bahwa industri nasional mampu beradaptasi di tengah tekanan besar.

Namun di sisi lain, kalangan serikat pekerja menyuarakan kekhawatiran yang lebih konkret. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memproyeksikan potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan, terutama di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).

Presiden KSPI, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan telah mulai berdiskusi dengan pekerja terkait kemungkinan pengurangan tenaga kerja.

Menurutnya, tekanan paling terasa pada industri berbasis tekstil—mulai dari produksi benang, kain, hingga polyester—yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga bahan baku dan permintaan ekspor.

"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya," katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026

Ancaman serupa juga membayangi industri plastik yang bergantung pada bahan baku impor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperbesar beban biaya produksi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan efek berantai ke sektor lain seperti elektronik dan otomotif yang menggunakan komponen plastik.

"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya," kata Said Iqbal.

Di saat yang sama, industri semen menghadapi tekanan dari sisi domestik akibat kelebihan pasokan (oversupply) di tengah melemahnya permintaan. Kombinasi faktor global dan domestik ini menciptakan tantangan kompleks bagi sektor manufaktur nasional dalam jangka pendek.[Zul]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK