Fakta Nasional

Menteri KP Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah: Biaya Melaut Melambung, Ekspor Terancam Lesu

FAKTANASIONAL.NET – Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Sakti Wahyu Trenggono, memberikan peringatan serius mengenai kerentanan sektor perikanan Indonesia di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan global ini diprediksi aka…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 08 April 2026 📖 2 menit
Menteri KP Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah: Biaya Melaut Melambung, Ekspor Terancam Lesu
Menteri Kelautan dan Perikanan/Dok. Kompas

FAKTANASIONAL.NET – Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Sakti Wahyu Trenggono, memberikan peringatan serius mengenai kerentanan sektor perikanan Indonesia di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan global ini diprediksi akan berdampak domino, mulai dari lonjakan biaya operasional nelayan hingga penurunan daya saing produk perikanan di pasar internasional.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR pada Selasa (7/4/2026), Trenggono menyoroti ketergantungan mutlak sektor perikanan terhadap bahan bakar minyak (BBM).

Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik tersebut menjadi ancaman langsung bagi biaya produksi nelayan.

"Seperti kita ketahui bahwa dinamika geopolitik global saya kira semua sudah tahu sangat berdampak kepada salah satunya di Kementerian Kelautan dan Perikanan juga sangat berdampak. Di antaranya adalah soal penggunaan bahan bakar minyak untuk para nelayan yang 100 persen hingga saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak," ungkap Trenggono di hadapan anggota dewan.

Rantai Pasok dan Kinerja Ekspor

Baca Juga: Belajar dari Kasus Karo, Menteri Ekonomi Kreatif Tegaskan Karya Kreatif Tak Boleh Dihargai Nol Rupiah

Selain beban energi, Menteri KP mengkhawatirkan gangguan pada jalur logistik global yang dapat memicu kenaikan biaya distribusi.

Hal ini berisiko menghambat efisiensi distribusi hasil laut Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor.

"Kemudian harga-harga akibat dari distribusi juga masih terpengaruh sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global," tambahnya.

Meskipun sektor perikanan mencatatkan performa gemilang sepanjang 2025 dengan nilai ekspor mencapai 6,27 miliar Dolar AS, tanda-tanda perlambatan mulai terlihat di awal tahun 2026.

Hingga Februari 2026, nilai ekspor tercatat baru menyentuh 960 juta Dolar AS, angka yang menunjukkan tren lesu jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ancaman El Nino Godzilla dan Risiko Ekologis

Tantangan sektor perikanan tahun ini semakin kompleks dengan hadirnya fenomena iklim ekstrem El Nino Godzilla.

Fenomena ini membawa dampak ekologis yang serius, mulai dari kerusakan ekosistem pesisir hingga masalah pada perikanan budidaya.

Tingginya tingkat penguapan (evaporasi) menyebabkan lonjakan salinitas atau kadar garam, yang dapat memicu wabah penyakit pada komoditas tambak.

Selain itu, kondisi ini mengancam ekosistem karbon biru, yang jika rusak, akan meningkatkan emisi karbon secara signifikan.

Menteri KP berharap tensi global, terutama yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, dapat segera mereda. Stabilitas global dinilai menjadi kunci utama agar kinerja ekspor perikanan Indonesia kembali terakselerasi dan beban ekonomi yang dipikul nelayan kecil dapat ditekan seminimal mungkin.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK