Narabahasa Soroti Pentingnya Perencanaan Bahasa di Tengah Tsunami Digital
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Tidak ada bahasa yang benar-benar stabil sehingga perlu adanya sebuah perencanaan bahasa. Hal tersebut diungkapkan dalan Diskusi Selisik Kebahasaan (Lisan) episode ke-25 yang diselenggarakan lembaga Narabahasa yang disel…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Tidak ada bahasa yang benar-benar stabil sehingga perlu adanya sebuah perencanaan bahasa. Hal tersebut diungkapkan dalan Diskusi Selisik Kebahasaan (Lisan) episode ke-25 yang diselenggarakan lembaga Narabahasa yang diselenggarakan lembaga secara daring, baru-baru ini.
Dalam kegiatan yangmengangkat topik “Perencanaan Bahasa: Tantangan dan Masa Depan Bahasa” tersebut, Guru Besar Universitas Negeri Malang Djoko Saryono sebagai narasumber menekankan bahwa tidak ada bahasa yang benar-benar stabil sehingga perlu adanya sebuah perencanaan bahasa.
Lebih lanjut Djoko menjelaskan bahwa terdapat beberapa aspek mendasar yang harus diperhatikan secara serius. Ia menekankan bahwa model perencanaan bahasa yang paling penting mencakup tiga dimensi utama.
"Pertama, status bahasa berkaitan dengan fungsi dan peran bahasa Indonesia di tengah masyarakat," katanya dalam rilis yang diterima redaksi, Kamis (31/7/2025).
Menurut Djoko, penting untuk memastikan bahwa bahasa Indonesia tidak hanya hidup sebagai alat komunikasi, tetapi juga simbol pemersatu dan jati diri bangsa.
Kedua, korpus bahasa yang mencakup pengembangan kosakata, frasa, istilah, dan struktur bahasa yang digunakan. Dalam konteks ini, ia menyoroti pentingnya memperhatikan dinamika bahasa pada era digital.
“Kita hidup dalam realitas berbahasa yang unik. Etika berbahasa kita masih berakar pada komunikasi luring, padahal sebagian besar masyarakat kini lebih banyak berkomunikasi dengan gaya bahasa daring,” tuturnya.
Ketiga, pemerolehan atau akuisisi bahasa, yang tak hanya sekadar menghafal kata, tetapi juga mencakup pengembangan pola pikir.
“Sering kali kita telah memiliki kata atau istilah, tetapi belum tumbuh cara berpikir yang selaras dengan istilah itu. Atau sebaliknya, pola pikirnya sudah ada, tetapi belum tersedia istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia,” ungkapnya.
Djoko juga menjelaskan bahwa tujuan utama dari perencanaan bahasa adalah untuk memodernkan dan memajukan bahasa dan menjadikannya alat yang relevan dan bermanfaat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam mendukung ekonomi kreatif.
Ia mencontohkan bahwa apa yang dilakukan Narabahasa saat ini merupakan bagian dari praktik ekonomi kreatif berbasis bahasa dan sastra yang patut diapresiasi.
Perencanaan bahasa tidak hanya menyangkut pembakuan atau penyandian kosakata, tetapi juga perluasan jumlah penutur dan jangkauan penggunaannya, baik di dalam negeri (nasional) maupun tingkat internasional.
Pemerolehan bahasa tidak terjadi begitu saja, tetapi dibangun melalui proses pembelajaran, pembinaan, dan pengajaran yang berkelanjutan.
“Itulah ruang masa depan yang harus kita masuki dan kembangkan. Ada pekerjaan besar yang menanti, tugas yang begitu luas bagi para pencinta bahasa Indonesia dari berbagai profesi,” ujar Djoko.[zul]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.