Nurani yang Kehilangan Ruangnya
SAYA tau seorang pencuri memanglah harus dihukum, tapi tidak harus diambil nyawanya. Adakalanya masa ketika manusia terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan, hingga lupa bahwa di dalam dadanya masih pernah bersemayam sesuatu yang bernama nurani. Dun…
Dengarkan Ringkasan
SAYA tau seorang pencuri memanglah harus dihukum, tapi tidak harus diambil nyawanya.
Adakalanya masa ketika manusia terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan, hingga lupa bahwa di dalam dadanya masih pernah bersemayam sesuatu yang bernama nurani.
Dunia mengajarkan kecepatan menghukum, tetapi lupa mengajarkan kelambatan untuk memahami.
Padahal, sering kali kebenaran lahir bukan dari tangan yang paling cepat memukul, melainkan dari hati yang paling sabar mendengar.
Betapa aneh zaman ini. Kita membangun gedung-gedung tinggi untuk menampung ambisi, tetapi tak lagi menyisakan satu ruang kecil bagi belas kasih.
Kita memperluas jalan agar manusia dapat berlari lebih cepat, namun mempersempit lorong hati hingga nurani tersesat mencari tempat pulang.
Kerasnya dunia perlahan mengubah manusia menjadi hakim yang menjatuhkan vonis sebelum sempat mengenal cerita.
Di balik kisah seorang pria yang tewas setelah dihajar massa karena diduga mencuri ayam aduan, terselip duka yang jauh lebih sunyi. Saat jenazah KD tiba di rumah duka di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, putri bungsunya menangis histeris memanggil sang ayah yang telah terbujur kaku.
Momen memilukan itu viral di media sosial. Bocah perempuan tersebut tampak tak kuasa menahan kesedihan, terus memanggil ayahnya di tengah kerumunan pelayat.
Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, mengaku ikut larut dalam kesedihan keluarga korban. "Kemarin saya yang menjemput jenazahnya. Saat tiba di rumah, melihat anaknya menangis tersedu-sedu, saya benar-benar sedih," ujar, Sabtu (25/7/2026).
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa di balik setiap tragedi, selalu ada keluarga dan anak-anak yang harus menanggung luka paling dalam.
Seseorang mungkin telah bersalah, tetapi apakah kesalahannya menghapus seluruh haknya untuk diperlakukan sebagai manusia? Sebab keadilan yang kehilangan kasih sayang sering kali berubah menjadi dendam yang memakai topeng hukum.
Di sebuah sudut negeri, seorang ayah pulang bukan dengan langkah yang lelah, melainkan dalam diam yang abadi.
Yang menyambutnya bukan pelukan, melainkan tangisan seorang anak kecil yang memanggil-manggil nama ayahnya, seolah percaya bahwa cinta masih mampu membangunkan tubuh yang telah kehilangan napas.
Barangkali bocah itu tidak mengerti apa arti pencurian. Ia hanya tahu bahwa sosok yang biasa membelainya kini tak akan lagi menjawab panggilannya.
Dan dunia pun menyaksikan air mata itu beredar dari satu layar ke layar lain. Banyak yang menontonnya. Tidak sedikit yang bersimpati.
Namun pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah mengapa anak itu menangis. Pertanyaan yang lebih sunyi adalah: mengapa begitu banyak hati yang tak lagi menangis sebelum semuanya terlambat?
Manusia memang diberi akal untuk membedakan benar dan salah. Tetapi Tuhan juga menitipkan nurani agar akal tidak berubah menjadi senjata.
Ketika amarah memimpin keputusan, nurani dipaksa keluar dari rumahnya sendiri. Ia berdiri di luar pintu, mengetuk pelan, sementara kebencian telah lebih dulu masuk melalui jendela.
Bukankah setiap orang membawa luka yang tak terlihat? Ada yang mencuri karena tamak, ada pula yang tersesat oleh himpitan hidup.
Tidak semua alasan membenarkan kesalahan, tetapi setiap kesalahan tetap layak diadili oleh hukum, bukan oleh ledakan emosi yang menghapus batas antara keadilan dan kekejaman.
Sesungguhnya, sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kemampuannya menghukum pelaku kejahatan, melainkan juga dari kemampuannya menahan amarah ketika memiliki kesempatan untuk membalas.
Sebab peradaban bukan dibangun oleh tangan yang kuat, melainkan oleh hati yang mampu berkata, "Biarkan hukum bekerja, sementara kemanusiaan tetap hidup."
Ironisnya, sering kali manusia baru menemukan nuraninya setelah peti jenazah tertutup rapat. Penyesalan datang seperti hujan yang terlambat menyelamatkan ladang yang telah menjadi abu.
Air mata mengalir ketika kehidupan telah pergi, padahal belas kasih seharusnya hadir sebelum kematian mengambil hak terakhir seseorang untuk memperbaiki dirinya.
Mungkin dunia memang keras. Mungkin hidup tidak selalu adil. Tetapi jangan biarkan kerasnya dunia membuat hati kita lebih keras daripada batu.
Sebab batu hanya mampu menghancurkan tubuh, sedangkan hati yang kehilangan nurani mampu menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Pengadil yang tak pernah keliru. Di hadapan-Nya, bukan hanya pencuri yang akan dimintai pertanggungjawaban, melainkan juga mereka yang membiarkan amarah menggantikan keadilan.
Sebab Tuhan tidak hanya melihat apa yang dilakukan tangan kita, tetapi juga mendengar apa yang dibisikkan hati sebelum tangan itu bergerak.
Maka, jika suatu hari amarah datang mengetuk pintu dada kita, jangan buru-buru membukakannya. Dudukkanlah ia sejenak di beranda, lalu panggillah nurani untuk berbicara lebih dahulu.
Karena dunia ini tidak sedang kekurangan orang yang mampu menghukum; dunia sedang sangat merindukan manusia yang masih memiliki ruang bagi nurani.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.