Pagi-Pagi Mencintainya
PAGI selalu datang dengan cara yang sederhana. Ia tidak mengetuk pintu dengan suara keras, tidak pula meminta kita bersiap menyambutnya. Cahaya hanya perlahan menyelinap melalui celah jendela, menyentuh dinding, lantai, lalu wajah seseorang yang dia…
Dengarkan Ringkasan
PAGI selalu datang dengan cara yang sederhana. Ia tidak mengetuk pintu dengan suara keras, tidak pula meminta kita bersiap menyambutnya.
Cahaya hanya perlahan menyelinap melalui celah jendela, menyentuh dinding, lantai, lalu wajah seseorang yang diam-diam menjadi alasan mengapa pagi terasa berbeda.
Barangkali begitulah cinta bekerja.
Ia tidak selalu datang dengan bunga, kata-kata manis, atau janji yang terdengar megah.
Kadang cinta hanya berupa keinginan sederhana untuk melihat seseorang baik-baik saja ketika hari baru dimulai.
Kita mencintainya bahkan sebelum ia membuka mata. Mencintainya sebelum dunia kembali sibuk meminta banyak hal darinya.
Pagi-pagi mencintainya adalah tentang mengingat seseorang sebelum mengingat banyak urusan sendiri.
Ada perasaan yang tidak membutuhkan pengumuman. Ia cukup tinggal di dada, seperti embun yang memilih bertahan sebentar di ujung daun sebelum akhirnya menghilang bersama panas matahari.
Mungkin orang lain tidak akan pernah tahu betapa sering namanya hadir dalam doa-doa kecil. Tidak terdengar. Tidak tertulis. Bahkan kadang tidak pernah sampai kepadanya.
Namun bukankah cinta memang tidak selalu tentang diketahui?
Ada cinta yang tumbuh karena ingin memiliki. Ada pula cinta yang tumbuh karena ingin menjaga, meski tangan tidak selalu bisa menggenggam.
Yang pertama mungkin mudah disebut. Yang kedua sering kali hanya bisa dirasakan.
Aku menyukai pagi karena pada waktu itulah dunia belum terlalu ramai. Belum banyak suara yang berusaha menentukan bagaimana seseorang harus menjalani hidupnya.
Belum ada kesibukan yang memaksa hati berlari. Di antara sunyi dan udara yang masih dingin, perasaan menjadi lebih jujur.
Dan dalam kejujuran itu, aku menemukan dia.
Bukan sebagai seseorang yang harus selalu berada di sampingku, tetapi sebagai seseorang yang keberadaannya membuat hidup terasa mempunyai alasan untuk disyukuri.
Pagi-pagi mencintainya berarti menyadari bahwa mencintai seseorang bukan perkara seberapa sering kita mengatakan "aku cinta". Kadang justru terlihat dari hal-hal yang tidak pernah diucapkan.
Menanyakan apakah ia sudah makan.
Berharap pekerjaannya hari itu tidak terlalu berat.
Diam-diam mendoakan agar langkahnya dijauhkan dari sesuatu yang menyakitkan.
Atau sekadar tersenyum ketika melihat namanya muncul dalam ingatan, padahal tidak ada satu pun pesan yang masuk.
Cinta semacam itu tidak gaduh.
Ia tidak menuntut balasan seperti pedagang yang menunggu uang setelah memberikan barang. Ia tidak menghitung berapa kali telah memberi, lalu kecewa ketika tidak menerima jumlah yang sama.
Sebab jika cinta harus selalu dihitung, mungkin ia telah berubah menjadi transaksi.
Aku tidak tahu apakah dia menyadari semua itu. Mungkin tidak. Mungkin juga ia tidak pernah tahu bahwa di suatu pagi, ada seseorang yang menyebut namanya dalam hati dengan cara yang begitu lembut.
Namun aku tidak ingin memaksa waktu untuk memberitahunya.
Biarlah pagi menjadi saksi bahwa pernah ada hati yang mencintai tanpa banyak suara.
Sebab terkadang manusia terlalu sibuk mencari bukti bahwa dirinya dicintai, sampai lupa bahwa cinta yang paling tulus justru sering berjalan tanpa meminta bukti.
Kita ingin dicari ketika pergi. Ingin ditanyakan ketika diam. Ingin dirindukan ketika jauh. Ingin namanya disebut ketika tidak ada. Tetapi cinta yang dewasa mengajarkan sesuatu yang lebih sulit: mencintai tanpa menjadikan orang yang dicintai sebagai kewajiban.
Jika suatu hari ia datang dan memilih tinggal, tentu ada bahagia yang tidak perlu dijelaskan.
Tetapi jika ia memilih jalan lain, semoga cinta tidak berubah menjadi kebencian hanya karena harapan tidak menemukan rumahnya.
Sebab mencintai seseorang tidak selalu berarti mendapatkan tempat di hidupnya. Kadang mencintai berarti menerima bahwa seseorang pernah begitu berarti, lalu membiarkannya menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Pagi kembali meninggi.
Embun perlahan lenyap. Jalan mulai ramai. Orang-orang berangkat membawa tujuan masing-masing. Dan aku masih menyimpan satu nama yang tidak perlu disebut keras-keras.
Hari mungkin akan membawa banyak perkara. Ada pekerjaan, kegagalan, kabar buruk, pertemuan, juga perpisahan yang tidak pernah direncanakan.
Tetapi sebelum semua itu datang, izinkan hati mencintainya sekali lagi.
Pagi-pagi.
Dalam diam.
Karena mungkin, mencintai seseorang tidak selalu tentang bagaimana kita memilikinya.
Kadang, ia hanya tentang bagaimana satu nama mampu membuat kita tersenyum ketika matahari baru saja terbit.
Dan jika itu adalah cinta, biarlah ia tumbuh seperti pagi: tidak tergesa-gesa, tidak berisik, tetapi selalu datang membawa cahaya.
— Si Fakta
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.