Fakta Nasional

Pasar Minyak Tertekan: Kekhawatiran Geopolitik Mereda dan Lemahnya Data Ekonomi Tiongkok

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan awal, melanjutkan tren penurunan sesi sebelumnya. Harga minyak Brent turun 0,4 persen menjadi 60,32 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermedia…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 16 December 2025 📖 1 menit
Pasar Minyak Tertekan: Kekhawatiran Geopolitik Mereda dan Lemahnya Data Ekonomi Tiongkok
Harga minyak mentah Brent dilaporkan anjlok kembali ke level sebelum konflik di kisaran 72 dolar AS per barel akibat melimpahnya pasokan dan penurunan permintaan dari China./(Ilustrasi/@pixabay)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan awal, melanjutkan tren penurunan sesi sebelumnya. Harga minyak Brent turun 0,4 persen menjadi 60,32 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,39 persen menjadi 56,60 Dolar AS per barel. Penurunan ini dipicu oleh dua faktor utama: meredanya ketegangan geopolitik dan data ekonomi dari Tiongkok yang mengecewakan, 16 Desember 2025.

Harapan Negosiasi dan Jaminan Keamanan

Pasar minyak merespons langkah Amerika Serikat (AS) yang menawarkan jaminan keamanan bergaya NATO kepada Ukraina dalam sebuah pertemuan di Berlin. Langkah tak terduga ini memunculkan harapan di sejumlah negara Eropa bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut semakin dekat. Potensi meredanya konflik geopolitik cenderung mengurangi premi risiko pada harga minyak, sehingga menyebabkan tekanan jual.

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok

Tekanan terbesar datang dari Tiongkok, konsumen minyak terbesar dunia. Data ekonomi terbaru menunjukkan perlambatan signifikan. Pertumbuhan output pabrik Tiongkok anjlok ke level terendah dalam 15 bulan terakhir, dan pertumbuhan penjualan ritel mencatat angka paling lambat sejak puncak pandemi COVID-19 di Desember 2022. Analis pasar IG, Tony Sycamore, menyatakan data Tiongkok yang lemah ini menambah kekhawatiran bahwa permintaan global belum cukup kuat untuk menyerap pasokan minyak. Perlambatan ini, ditambah peningkatan penggunaan kendaraan listrik, mengancam permintaan minyak global lebih jauh.[dit]

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK