Pelaku dan Barang Bukti Tak Sembarangan, Legislator DPR Minta Pengusutan Sindikat Uang Palsu di Kampus Dituntaskan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Anggota Komisi XI DPR RI, M Hasanuddin Wahid, menyoroti kasus sindikat uang palsu yang terbongkar di lingkungan kampus UIN Alauddin Makassar. Ia meminta Bank Indonesia (BI) dan kepolisian untuk serius menangani kasus yan…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Anggota Komisi XI DPR RI, M Hasanuddin Wahid, menyoroti kasus sindikat uang palsu yang terbongkar di lingkungan kampus UIN Alauddin Makassar. Ia meminta Bank Indonesia (BI) dan kepolisian untuk serius menangani kasus yang mencoreng dunia pendidikan tersebut.
“Kasus ini jelas mencoreng nama baik kampus. Para pelaku tampaknya ingin mengelabui semua orang, terutama aparat penegak hukum,” kata Hasanuddin, Jumat (20/12/2024).
Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan 17 pelaku, termasuk individu dengan latar belakang yang mengejutkan. Di antara mereka terdapat seorang kepala perpustakaan bergelar doktor, Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, hingga dua karyawan bank BUMN.
“Ini bukan sembarang orang yang terlibat. Sindikat uang palsu ini melibatkan orang-orang berpengalaman di bidangnya,” ungkap legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya itu.
Barang bukti yang disita kepolisian menunjukkan skala besar operasi sindikat ini. Polisi menemukan mesin pencetak uang palsu bernilai Rp 600 juta yang didatangkan langsung dari China, surat berharga negara (SBN), dan sertifikat deposito Bank Indonesia.
Nilai barang bukti mencapai ratusan triliun rupiah, termasuk sertifikat deposit BI senilai Rp 45 triliun dan SBN senilai Rp 700 triliun.
Hasanuddin menegaskan bahwa peredaran uang palsu memiliki dampak besar terhadap perekonomian. Hal ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap uang dan sistem keuangan, serta menyebabkan kerugian finansial bagi individu maupun bisnis.
“Peredaran uang palsu bisa merusak stabilitas ekonomi negara. Oleh karena itu, BI dan aparat penegak hukum harus segera melacak dan mengamankan peredaran uang palsu ini agar tidak semakin meluas,” tegasnya.
Sekjen DPP PKB ini juga meminta BI untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait deteksi uang palsu. Ia mengingatkan pentingnya pengamanan dalam proses produksi dan peredaran uang.
“Kerjasama antara bank, kepolisian, dan pihak berwenang sangat penting untuk memastikan sistem keuangan kita tetap aman dari ancaman seperti ini,” ujar Hasanuddin.
Ia berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, khususnya dalam meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap peredaran uang palsu.
“Pemberantasan sindikat uang palsu harus dilakukan dengan serius, sehingga masyarakat tidak menjadi korban dan kepercayaan terhadap sistem keuangan tetap terjaga,” pungkasnya.[dnl]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.