Fakta Nasional

Pembunuh Diduga Panik, Buang Mayat Korban di Bandung

FAKTANASIONAL.NET - Problem tersulit pembunuh: pemusnahan mayat korban. Mayat Siti Maimunah, 41, dalam kardus paket di Bandung, terungkap akibat kepanikan terduga pelaku pria inisial SDS, 36, yang cekcok dengan sopir kurir Lalamove bernama Tegar, 28…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 04 September 2026 📖 5 menit
Pembunuh Diduga Panik, Buang Mayat Korban di Bandung
Ilustrasi Harian Disway
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Problem tersulit pembunuh: pemusnahan mayat korban. Mayat Siti Maimunah, 41, dalam kardus paket di Bandung, terungkap akibat kepanikan terduga pelaku pria inisial SDS, 36, yang cekcok dengan sopir kurir Lalamove bernama Tegar, 28, saat pembuangan.

Harian Disway (pada halaman 8)

YA… cekcok SDS dengan Tegar terjadi saat mereka sama-sama naik mobil pick up Lalamove di jok depan, sedangkan bungkusan mayat di bak belakang. Hal itu diceritakan Tegar kepada polisi.

Kapolrestabes Bandung Kombes Dedi Supriyadi, kepada wartawan, Rabu, 2 September 2026, mengatakan, salah satu saksi kunci adalah Tegar, sopir perusahaan pengiriman barang Lalamove di Bandung. Tegar dipesan tersangka SDS untuk membuang bungkusan mayat Siti.

Tegar menceritakan proses itu lewat video di TikTok, Rabu, 2 September 2026, begini:

Selasa pagi, 1 September 2026 SDS pesan mobil ke Lalamove. Saat itu SDS berada di kamar kontrakannya di Kelurahan Dunguscariang, Kecamatan Andir, Bandung.

Yang datang Tegar, sopir Lalamove, bersama mobil pick up hitam. SDS mengatakan ke Tegar, ia akan mengirim paket barang ke daerah Kopo, Bandung. Tegar mengatakan, hayo saja.

Tegar: “Terus, ia bilang, Aak (kakak Bahasa Sunda) ini berat. Minta tolong diangkat, naik ke mobil. Saya bantu angkat naikin ke mobil. Barangnya memang besar dan berat. Saya tanya, isinya apa? Ia jawab, besi sama pakaian.”

Bungkusan pun naik ke bak belakang mobil. Lalu, Tegar dan SDS duduk di jok depan. Mobil pun berangkat menuju arah Kopo.

Dalam perjalanan, Tegar berubah pikiran. Karena, ia merasa curiga dengan bungkusan tersebut.

Tegar: “Baru beberapa ratus meter mobil jalan, saya mencium bau busuk di bungkusan. Saya emang sudah curiga sejak ngangkat barang itu tadi, kok bau busuk. Dalam perjalanan, saya merasa takut dan curiga.”

Tegar bertanya ke SDS lagi, apa isi bungkusan itu? Dijawab sama seperti semula, isinya besi dan pakaian.

Tegar: "Terus, saya bilang: 'kalau emang gitu, coba kita buka sekarang'. Ia seperti panik, bilang: 'jangan, jangan, jangan'. Di situ saya makin curiga. Saya mulai takut, mulai panik, semakin saya yakin itu mayat. Saya mau turunin.”

Buih di Mulut Mayat Sutrimo Diteliti di Lab Forensik

Kemudian Tegar menghentikan mobil di pinggir Jalan Soekarno-Hatta. Lalu ia keluar mobil, sambil berteriak-teriak kepada SDS agar bungkusan diturunkan, sekarang. Pesanan pengiriman dibatalkan.

Tentu, SDS kaget dan panik. Ia kebingungan.

Tegar: “Terus, bungkusan ia turunin sendiri. Bungkusan ia tarik, ia gusur sampai akhirnya jatuh ke tanah. Setelah itu saya naik lagi ke mobil. Saya majuin mobil sedikit, supaya agak jauh dari dia. Di depan ada satpam, saya teriak ke satpam itu: Tolong bang… telepon polisi, kayaknya orang itu bawa mayat.”

Dalam kondisi panik, SDS menyeret bungkusan diarahkan ke pinggir jalan. Diseret sampai bungkusan agak tersembunyi di dekat didin tembok gedung kosong bekas pabrik. Kemudian SDS melarikan diri.

Tegar pun pergi bersama mobilnya. Ia merasa terbebas dari ketakutan mengangkut barang berbau busuk yang mencurigakan.

Tak lama kemudian, tim polisi tiba di TKP pembuangan bungkusan tersebut. Polisi membuka kardus berbentuk kemasan paket itu, menyembullah tangan manusia. Kardus dibuka seluruhnya. Tampaklah mayat perempuan. Kondisi mayat masih utuh, tapi bau busuk.

TKP di Jalan Terusan Suryani, Kecamatan Babakan Ciparay, Bandung. Berada di pinggir Jalan Soekarno-Hatta, masuk sedikit ke jalan kecil.

Polisi menyelidiki. Hasilnya, polisi mencurigai SDS. Pun SDS dikejar polisi.

Kombes Dedi: “Ia kami tangkap saat dalam perjalanan hendak melarikan diri ke Palembang, Sumatera Selatan, sekitar pukul 16.00 (WIB) hari itu juga. Atau sekitar enam jam sejak penemuan mayat korban.”

SDS dalam interogasi polisi mengakui, bahwa ia membunuh Siti Maimunah. Polisi belum mengungkap motifnya.

Proses Pembunuhan Driver Taksi Online di Deli Serdang

Siti asal Lampung yang bekerja dan mengontrak rumah di Bandung. Polisi belum mengungkap hubungan SDS dengan Siti. Diduga, mereka saling kenal. Mungkin juga ada hubungan asmara.

Dari kronologi tersebut kelihatan, strategi SDS membuang mayat korban berantakan di tengah jalan. Tampak, ia tak menduga sopir Lalamove bakal berontak, sehingga mayat korban dibuang secara serampangan.

Prof Eric Beauregard dan Melissa Martineau dalam buku mereka The Sexual Murderer: Offender Behaviour and Implications for Practice (Routlefge, 2016) mengungkap hasil riset tentang cara pembunuh memusnahkan mayat korban.

Beauregard, guru besar kriminologi di Departemen Kriminologi, Simon Fraser University, Burnaby, British Columbia, Canada.

Martineau, doktor bidang cyberpsychology di Capitol Technology University, Maryland, AS.

Penerbit Routledge menjelaskan, bahwa buku ini membahas pembunuhan menyangkut, antara lain, modus operandi, penghindaran deteksi polisi, serta body disposal pathways (jalur pembuangan mayat).

Buku ini mengungkap pemusnahan atau pembuangan mayat korban sebagai bagian dari rangkaian perilaku pelaku, bukan sekadar tindakan tambahan setelah pembunuhan.

Setelah seseorang membunuh, situasinya berubah secara drastis. Pelaku kini menghadapi masalah baru: bagaimana menangani tubuh korban dan bagaimana mengurangi kemungkinan dirinya terhubung dengan kejahatan tersebut.

Dengan demikian, tindakan setelah pembunuhan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik pelaku, kondisi emosionalnya, pengalaman kriminalnya, serta tingkat kerumitan perencanaannya.

Hasil penelitian di buku tersebut menunjukkan bahwa body disposal bukan perilaku yang seragam. Ada pelaku yang meninggalkan mayat di tempat pembunuhan, ada yang memindahkannya, ada yang menyembunyikannya, dan ada pula yang melakukan upaya lebih jauh untuk menghilangkan bukti.

Dalam penelitian terhadap pembunuhan berantai, misalnya, ditemukan beberapa pola utama: tubuh dipindahkan lalu disembunyikan, dipindahkan lalu dibuang, ditinggalkan di tempat pembunuhan, atau ditinggalkan tetapi disembunyikan.

Disebutkan, pembuangan mayat tidak selalu merupakan hasil perencanaan matang. Keputusan pelaku dapat dipengaruhi oleh tekanan situasional setelah pembunuhan.

Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Jalan Raya Ngabang Serimbu Kabupaten Landak

Pelaku mungkin tiba-tiba menyadari bahwa keberadaan mayat merupakan ancaman besar bagi dirinya. Akibatnya, ia mengambil keputusan yang cepat dan pragmatis, bukan keputusan yang optimal.

Sebaliknya, ada pelaku yang sejak awal sudah memikirkan apa yang akan dilakukan terhadap korban setelah pembunuhan. Dalam kasus seperti itu, body disposal menjadi bagian dari perencanaan kejahatan, bukan sekadar respons spontan yang panik.

Dengan kata lain, tindakan membuang mayat dapat dipandang sebagai jendela untuk memahami proses pengambilan keputusan pelaku.

Penting: cara mayat dibuang dapat membantu penyidik membaca hubungan antara pelaku dan korban. Penelitian yang lebih baru bahkan menunjukkan, bahwa lokasi dan metode pembuangan berkaitan dengan hubungan korban-pelaku.

Korban yang mempunyai hubungan intim dengan pelaku, misalnya, menunjukkan pola pembuangan yang berbeda dibandingkan korban yang merupakan orang asing.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pelaku sering memilih lokasi pembuangan yang dikenalnya, termasuk tempat yang berkaitan dengan tempat tinggal, hubungan masa lalu, atau tempat kerja.

Faktor waktu, jarak, akses kendaraan, cuaca, dan kondisi lingkungan ikut mempengaruhi keputusan tersebut.

Jadi, dari perspektif kriminologi, mayat yang dibuang bukan sekadar “barang bukti yang ingin dihilangkan”.

Cara pelaku memperlakukan tubuh korban dapat meninggalkan behavioral signature tertentu: seberapa terburu-buru dia, seberapa jauh ia berpikir ke depan, seberapa mengenal wilayah tersebut, bagaimana hubungan dengan korban, dan seberapa besar usaha yang dilakukan untuk menghindari deteksi.

Pelaku yang pada awalnya sangat emosional atau panik, mengambil keputusan berbeda dibandingkan pelaku yang mempunyai waktu untuk berpikir dan merencanakan pembunuhan.

Di kasus Bandung, tampak bahwa pelaku sebenarnya sudah cukup rapi mengemas mayat dengan kardus paket barang. Cukup tersamarkan. Namun ia gegabah memesan Lalamove, yang pasti bersama sopirnya. Bukan membawa mobil sendiri, misalnya, sewa mobil yang tidak didampingi sopir.

Belum diungkap polisi, mengapa pelaku mengarahkan pemuatan bungkusan ke arah Kelurahan Kopo? Ada apa di Kopo? Apa yang akan ia lakukan atas mayat itu di Kopo?

Banyak detil yang belum diungkap polisi. Sehingga tidak banyak pelajaran yang bisa didapat masyarakat dari kasus tersebut sampai hari ini. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK