Pemeriksaan Sutrimo Akan Berlangsung Sampai 3 Pekan, Tim Dokter Forensik: Kondisi Jenazah Masuk Proses Pembusukan
FAKTANASIONAL.ID - Tim Dokter Forensik mengatakan proses ekshumasi makam Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) telah selesai. Namun, pemeriksaan di laboratorium membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga p…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.ID - Tim Dokter Forensik mengatakan proses ekshumasi makam Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) telah selesai.
Namun, pemeriksaan di laboratorium membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga pekan.
“Itu artinya pemeriksaan laboratoriumnya bisa terselesaikan semua," kata Prof Ahmad Yudianto saat konferensi pers di Mapolresta Banyumas pada Rabu (12/8/2026).
Proses pemeriksaan ini diakui berlangsung lama akibat jumlah sampel yang banyak dan kondisi jenazah yang telah dimakamkan selama hampir tiga pekan.
Sutrimo dimakamkan pada 23 Juli 2026, sehingga berdasarkan ilmu kedokteran forensik, kondisi tersebut telah masuk dalam proses pembusukan lanjut.
"Sehingga secara visual itu hampir semua sama, warna-warnanya dan semuanya. Sehingga ini perlu dilakukan pemeriksaan secara laboratorium secara mendetail," ujarnya.
Ahmad Yudianto mengemukakan tim belum akan menyampaikan kesimpulan tentang penyebab kematian Sutrimo sebelum seluruh pemeriksaan laboratorium selesai.
"Sehingga sudah sampai sekali ini proses untuk finalisasi masih tetap berlangsung, menunggu sampai hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut yaitu pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan toksikologi, dan pemeriksaan DNA," ujarnya.
Tim dokter forensik telah menyelesaikan ekshumasi dan autopsi jenazah Sutrimo di Desa Wlahar. Dari pemeriksaan luar dan dalam secara visual, tim tidak menemukan tanda-tanda luka akibat kekerasan benda tumpul maupun senjata tajam.
Ahmad Yudianto, mengatakan pemeriksaan belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian Sutrimo. Sebab, tim mengambil puluhan sampel dari berbagai bagian tubuh untuk diperiksa di laboratorium.
Dari hasil pemeriksaan, tim memastikan jenazah yang diperiksa merupakan laki-laki dengan perkiraan usia sekitar 40 tahun dan panjang badan 166 sentimeter.
"Dari hasil pemeriksaan kami, dari hasil ekshumasi dan autopsi, bahwasanya yang kami periksa itu adalah jenazah laki-laki umur sekitar 40 tahun dengan panjang badan 166 cm," ucapnya kepada wartawan di Mapolresta Banyumas pada Rabu (12/8/2026).
Namun, dalam pemeriksaan luar dan dalam, tim tidak menemukan tanda-tanda luka yang secara visual menunjukkan adanya kekerasan benda tumpul ataupun senjata tajam.
"Dari hasil pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam, secara visual kami tidak mendapatkan tanda-tanda luka yang diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul maupun senjata tajam," ujarnya.
Namun, temuan tersebut belum cukup untuk menentukan penyebab kematian Sutrimo dan Tim masih melakukan pemeriksaan lanjutan melalui tiga jenis pemeriksaan laboratorium, yakni histopatologi, toksikologi, dan DNA.
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk memeriksa jaringan tubuh, sedangkan pemeriksaan toksikologi dilakukan untuk mengetahui kemungkinan racun atau zat tertentu dalam tubuh.
Pemeriksaan DNA dilakukan untuk kepentingan identifikasi sekaligus melengkapi pemeriksaan penyebab kematian.
"Untuk itu kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengambil sampel-sampel untuk memastikan mencari penyebab pasti kematian," ujarnya.
Ahmad Yudianto mengemukakan sampel yang diambil tidak hanya berasal dari satu atau dua bagian tubuh. Tim mengambil sampel dari berbagai bagian tubuh mulai dari kepala hingga bagian tubuh bawah.
"Mulai dari kulit yang kami curigai, di situ ada kelainan, kami ambil. Dan juga termasuk swab, dan termasuk isi organ-organ dalam, seperti lambung dan juga ada jantung," ujarnya.
Ada puluhan sampel yang dikumpulkan dalam proses tersebut dan sampel-sampel itu kemudian akan diperiksa secara mendetail di laboratorium.
"Kami mengupayakan semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini, untuk menentukan sebab kematiannya secara scientific dan ilmiah. Jadi kalau tidak salah itu, ada puluhan sampel yang kami ambil," ujarnya. (adm)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.