Fakta Nasional

Pemerintah Wajibkan Standar ISPO, Sawit Indonesia Maksimalkan Hilirisasi

FAKTANASIONAL.NET – Di tengah tekanan pasar global terkait isu lingkungan, pemerintah kini mewajibkan penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi seluruh pelaku industri kelapa sawit nasional. Langkah ini diambil sebagai upaya memp…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 11 March 2026 📖 1 menit
Pemerintah Wajibkan Standar ISPO, Sawit Indonesia Maksimalkan Hilirisasi
/Dok, Kementan

FAKTANASIONAL.NET – Di tengah tekanan pasar global terkait isu lingkungan, pemerintah kini mewajibkan penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi seluruh pelaku industri kelapa sawit nasional.

Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat posisi tawar Indonesia sekaligus merespons dinamika perdagangan internasional yang kian ketat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa tata kelola sawit harus diperkuat untuk memastikan komoditas ini tetap menjadi motor ekonomi, dengan fokus utama pada pengembangan industri turunan ketimbang sekadar mengekspor bahan mentah.

“Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa. Karena itu, tata kelolanya harus kuat dan berkelanjutan, serta didorong ke arah hilirisasi agar manfaat ekonominya semakin luas bagi masyarakat,” ujar Amran dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).

Baca Juga: Pria 42 Tahun Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun Sawit Parindu

Ambisi Produksi 48 Juta Ton CPO

Meski dibayangi kampanye negatif di pasar global, industri sawit domestik tetap mencatatkan angka pertumbuhan yang masif.

Luas perkebunan saat ini mencapai 16,83 juta hektare dengan proyeksi produksi Crude Palm Oil (CPO) pada tahun 2025 diperkirakan menyentuh 48,12 juta ton.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, mengeklaim bahwa sawit Indonesia masih memiliki keunggulan kompetitif jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, terutama dari sisi produktivitas lahan.

Namun, ia menekankan bahwa angka produksi tersebut harus dibarengi dengan keberlanjutan.

“Sawit menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, produktivitas dan keberlanjutan harus berjalan beriringan,” kata Roni.

Ketergantungan 16 Juta Tenaga Kerja

Berdasarkan data pemerintah, sektor ini menampung lebih dari 16 juta tenaga kerja, termasuk 5,2 juta pekebun rakyat.

Untuk menjaga stabilitas sektor yang padat karya ini, pemerintah menjanjikan pendampingan melalui program peremajaan sawit dan peningkatan kapasitas SDM.

Langkah kewajiban ISPO dan percepatan hilirisasi ini dipandang sebagai benteng pertahanan agar industri sawit tidak hanya menjadi penyokong devisa, tetapi juga mampu bertahan dari diskriminasi perdagangan global yang sering kali menyasar isu keberlanjutan.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK