Penyebab dan Solusi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal I 2025
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Pada kuartal I 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,87% year on year, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu sorotan dari Center of Economic and Law Studies (Ce…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Pada kuartal I 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,87% year on year, lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Kondisi ini memicu sorotan dari Center of Economic and Law Studies (Celios). Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mengingatkan bahwa tren pelemahan berkepanjangan bisa menurunkan potensial pertumbuhan jangka panjang Indonesia, mengingat puncak 6,5% pada era SBY dan 5% di era Jokowi.
Memahami faktor-faktor penyebab pelemahan ini penting agar pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat sasaran dan memperbaiki kinerja ekonomi nasional.
Sektor konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan menunjukkan performa kurang maksimal, bahkan di momen Ramadan yang biasanya memacu belanja.
Nailul menilai, belanja pemerintah ke program jangka panjang seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memang memiliki manfaat sosial, tapi efek ekornya baru terasa dalam 8–10 tahun ke depan.
Saat ini, perlu dukungan program jangka pendek untuk segera meningkatkan daya beli, misalnya Bantuan Subsidi Upah (BSU) dan subsidi pupuk bagi petani.
Nailul mengkritisi alokasi anggaran yang masih banyak tersedot ke program yang tidak langsung memicu aktivitas ekonomi. Ia menyarankan agar anggaran difokuskan pada skema yang mendorong belanja masyarakat saat ini, seperti insentif konsumsi dan dukungan langsung kepada UMKM.
Dengan langkah tersebut, laju perputaran uang di sektor riil akan meningkat, memberikan multiplier effect yang lebih cepat dibanding program investasi sosial jangka panjang.
Jika tanpa perubahan signifikan dalam komposisi belanja negara, target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo pada 2029 sulit dicapai. Nailul memproyeksikan, angka realistis untuk tahun tersebut berada di kisaran 5,8–6%.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.