Permintaan Biosolar Subsidi Melonjak, Pertamina Ungkap Tantangan Penerapan B50
FAKTANASIONAL.NET - PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan adanya peningkatan permintaan terhadap Biosolar subsidi di tengah penerapan biodiesel B50 yang kini telah mencakup sebagian besar jaringan SPBU di Indonesia. Direktur Utama Pertamina Patra N…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan adanya peningkatan permintaan terhadap Biosolar subsidi di tengah penerapan biodiesel B50 yang kini telah mencakup sebagian besar jaringan SPBU di Indonesia.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo mengatakan, perbedaan harga yang cukup lebar antara Biosolar subsidi dan BBM nonsubsidi menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan permintaan.
"Namun memang saat ini dengan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara Biosolar B50 subsidi dengan produk-produk nonsubsidi tentu saat ini ada peningkatan demand dari sektor Biosolar subsidi," ujar Mars Ega dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9), dikutip dari CNN Indonesia.
Menurut Mars Ega, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena peningkatan konsumsi dapat berpengaruh terhadap kelancaran distribusi dan ketersediaan B50 bagi masyarakat. Pertamina Patra Niaga sendiri memiliki jaringan penyaluran Biosolar yang luas di berbagai wilayah Indonesia.
Hingga Sabtu (5/9), sebanyak 6.050 dari total 6.412 SPBU yang menyalurkan Biosolar telah beralih dari B40 ke B50. Artinya, sekitar 94 persen SPBU Pertamina Patra Niaga kini sudah menyalurkan Biosolar B50.
Sebanyak 362 SPBU lainnya masih menggunakan B40. Mayoritas SPBU tersebut berada di wilayah remote area yang menghadapi kendala dalam proses handling maupun distribusi.
Secara regional, implementasi B50 telah mencapai 96 persen SPBU di Sumatera bagian utara, 93 persen di Sumatera bagian selatan, 99 persen di Jawa bagian barat, 98 persen di Jawa bagian tengah, 95 persen di Kalimantan, 96 persen di Sulawesi, serta 96 persen di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara dan wilayah sekitarnya.
Untuk mengantisipasi persoalan pasokan, Pertamina juga mengusulkan perubahan pengelolaan bahan baku biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME). Saat ini FAME di terminal Pertamina sudah dipisahkan berdasarkan kategori subsidi dan nonsubsidi.
Mars Ega berharap pemisahan tersebut tidak dilakukan sejak FAME masuk terminal, melainkan saat produk disalurkan kepada konsumen.
"Kami berharap FAME yang masuk ke terminal kami itu belum dibedakan mana FAME subsidi dan FAME nonsubsidi. Jadi perhitungan mana FAME subsidi maupun nonsubsidi dilakukan penyaluran kepada konsumen," jelasnya.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.