Fakta Nasional

Pernyataan Ustaz Dasad Latif Terkait Pendidikan, MBG, Putusan MK, dan PDIP

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang penggunaan anggaran pendidikan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai beragam respons. Salah satunya datang dari Ustaz Dasad Latif, yang menyampaikan rasa syukur da…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 31 July 2026 📖 2 menit
Pernyataan Ustaz Dasad Latif Terkait Pendidikan, MBG, Putusan MK, dan PDIP

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang penggunaan anggaran pendidikan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai beragam respons.

Salah satunya datang dari Ustaz Dasad Latif, yang menyampaikan rasa syukur dan apresiasi, terutama kepada PDI Perjuangan yang dinilainya konsisten mengkritisi kebijakan tersebut.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @dasadlatif1212 pada Kamis (30/7/2026), pendakwah asal Sulawesi Selatan itu mengunggah tangkapan layar pemberitaan terkait putusan MK tentang MBG tak boleh potong anggaran pendidikan.

Dalam unggahan tersebut, ia menuliskan kalimat yang mengundang perhatian luas:

"ALHAMDULILLAH syukurnya masih ada partai yang peduli dunia pendidikan."

Ia juga secara tegas menuliskan:

"MK SELAMATKAN PENDIDIKAN INDONESIA. PDI Perjuangan kritisi anggaran MBG yang menggunakan Rp 223 Triliyun dana Pendidikan."

"Mahkamah Konstitusi putuskan DANA MBG TIDAK BOLEH PAKAI ANGGARAN PENDIDIKAN!!"

Meski dalam unggahan awalnya sempat mencantumkan kalimat "pertolongan datang melalui PDIP" yang kemudian diedit, Ustaz Dasad Latif tetap konsisten menyuarakan apresiasinya terhadap partai berlambang banteng tersebut.

Saat dikonfirmasi wartawan, Ustaz Dasad Latif memperjelas pendiriannya. Ia menegaskan bahwa meskipun niat MBG baik, namun dana pendidikan 20% dari APBN harus diprioritaskan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945.

Ia pun membawa perspektif sejarah peradaban, mengingatkan bahwa saat Islam hadir 1.400 tahun silam untuk memutus rantai masyarakat jahiliah, perintah pertama yang Allah turunkan adalah "Iqra" (bacalah)—bukan "At'im" (makanlah). Baginya, ini adalah pengingat bahwa membangun peradaban harus dimulai dari pendidikan yang baik.

"Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanah konstitusi yang seharusnya jadi kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Menariknya, Ustaz Dasad Latif secara eksplisit menyatakan bahwa apresiasinya bukan semata-mata karena nama partai. "Saya tidak melihat partainya, tapi semangat besarnya memajukan kecerdasan bangsa," tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi klarifikasi atas tudingan warganet yang menyebutnya sebagai orang PDI Perjuangan. Ia merespons dengan bijak:

"Jika hati sudah dipenuhi su'uzan dan kebencian, memang sulit menerima postingan baik. Saya bukan orang PDIP, tapi saya menerima ide dan pikiran dari partai manapun jika untuk kemaslahatan umat."

Sebagai informasi, MK mengabulkan sebagian gugatan terkait anggaran MBG. Dalam putusannya, MK menyatakan bahwa anggaran MBG harus dipisahkan dari anggaran pendidikan dalam APBN, paling lambat pada APBN Tahun Anggaran 2028. MK menilai program MBG tidak dapat dikategorikan sebagai komponen utama pendidikan sehingga tidak tepat jika dibiayai dari dana yang secara konstitusional wajib dialokasikan minimal 20% untuk pendidikan.

Hingga berita ini diturunkan, unggahan Ustaz Dasad Latif telah mendapatkan ribuan tanda suka dan ratusan komentar dari warganet yang sebagian besar mendukung pernyataannya.

Berikut petikan pernyataan Ustadz Dasad Latif kepada wartawan terkait isu dimaksud.

"Bagi saya, MBG niatnya baik, tapi lebih prioritas dana pendidikan digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanah pembukaan UUD 1945.

1400 tahun silam, saat Islam hadir untuk memutus rantai masyarakat jahiliah, yang Allah perintahkan adalah Iqra (bacalah), pendidikan harus baik. Bukan perintah at'im (makanlah).

Mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah amanah konsitusi, yang seharusnya jadi kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara.

Alhamdulillah, ada partai yang mewakili pikiran saya soal ini. saya tidak melihat partainya, tapi semangat besarnya memajukan kecerdasan bangsa."


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK