Persahabatan Laki-laki Dan Perempuan
YAH .. ini adalah satu perdebatan lama yang seolah tidak pernah selesai: mungkinkah laki-laki dan perempuan benar-benar menjadi sahabat tanpa menyimpan perasaan lain di baliknya? Michel de Montaigne, filsuf dan penulis dari Prancis, pernah memandang…
Dengarkan Ringkasan
YAH.. ini adalah satu perdebatan lama yang seolah tidak pernah selesai: mungkinkah laki-laki dan perempuan benar-benar menjadi sahabat tanpa menyimpan perasaan lain di baliknya?
Michel de Montaigne, filsuf dan penulis dari Prancis, pernah memandang persoalan ini dengan skeptis. Dalam pemikirannya tentang relasi manusia, persahabatan antara laki-laki dan perempuan dianggap sulit sepenuhnya steril dari unsur eros—nuansa ketertarikan, hasrat, atau romantisme yang mungkin hadir secara sadar maupun tidak.
Pandangan itu terdengar keras. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin terasa tidak adil. Sebab bukankah manusia mampu membangun hubungan berdasarkan kecocokan pikiran, kepedulian, pengalaman hidup, dan rasa saling menghormati tanpa harus berakhir menjadi hubungan romantis?
Namun justru di sinilah persoalannya menjadi menarik.
PERSAHABATAN BISA MURNI, TETAPI MANUSIA TIDAK SELALU SEDERHANA
Mengatakan bahwa persahabatan laki-laki dan perempuan pasti mengandung cinta tentu merupakan generalisasi. Tidak semua kedekatan berubah menjadi hubungan romantis. Ada laki-laki dan perempuan yang bertahun-tahun bersahabat, saling membantu, saling mendengarkan, tetapi tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi pasangan.
Persahabatan semacam itu nyata.
Masalahnya, manusia bukan makhluk yang selalu mampu mengendalikan perasaannya secara rasional. Kedekatan yang awalnya biasa dapat perlahan menciptakan keterikatan emosional. Sering kali bukan karena seseorang sengaja mencari pasangan, tetapi karena terlalu sering hadir, terlalu banyak berbagi cerita, terlalu nyaman untuk saling terbuka, dan terlalu terbiasa menjadi tempat pulang ketika hidup sedang berantakan.
Di titik tertentu, batas antara "sahabat" dan "seseorang yang istimewa" dapat menjadi sangat tipis.
Yang lebih rumit adalah ketika hanya salah satu pihak yang memiliki perasaan. Si laki-laki menganggap hubungan itu persahabatan, sementara perempuan diam-diam berharap lebih. Atau sebaliknya. Hubungan tetap berjalan dengan nama "sahabat", tetapi di dalamnya terdapat perasaan yang tidak pernah diucapkan.
Karena itu, mungkin yang ingin disentuh oleh pemikiran Montaigne bukan sekadar persoalan apakah laki-laki dan perempuan bisa bersahabat. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: seberapa jujur manusia mengenali perasaannya sendiri?
Seseorang bisa berkata, "Kami hanya sahabatan."
Tetapi apakah hati mereka juga mengatakan hal yang sama?
Ada kesalahan ketika eros langsung diterjemahkan sebagai keinginan untuk memiliki seseorang secara romantis atau seksual. Dalam konteks pemikiran klasik, eros dapat dipahami lebih luas sebagai daya tarik, hasrat, atau dorongan yang membuat seseorang merasa tertarik dan terikat kepada orang lain.
Karena itu, keberadaan eros tidak otomatis berarti persahabatan tersebut palsu.
Seseorang dapat mengagumi kecerdasan sahabatnya. Ia bisa merasa nyaman dengan kehadirannya. Ia bisa merasa kehilangan ketika sahabatnya menjauh. Ia bahkan bisa merasa cemburu ketika sahabatnya memiliki pasangan.
Pertanyaannya kemudian: apakah itu masih persahabatan?
Jawabannya tidak selalu sederhana.
Cemburu, misalnya, merupakan salah satu tanda yang patut diperiksa. Seorang sahabat tentu bisa merasa khawatir kehilangan teman. Tetapi apabila seseorang mulai merasa tidak nyaman ketika sahabatnya dekat dengan orang lain, mulai menuntut perhatian khusus, atau merasa dirinya seharusnya menjadi orang pertama yang selalu diprioritaskan, maka hubungan tersebut mungkin sudah bergerak melewati batas persahabatan biasa.
Di sinilah manusia sering melakukan kebohongan paling halus: bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri.
Ia mengatakan tidak memiliki perasaan apa-apa karena takut merusak persahabatan. Ia memilih menyebutnya "nyaman", padahal mungkin ada ketertarikan. Ia menyebutnya "sayang sebagai sahabat", padahal kehilangan perhatian dari orang tersebut terasa seperti kehilangan pasangan.
Namun kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam pandangan Montaigne secara mutlak.
Tidak semua kedekatan adalah hasrat.
Tidak semua perhatian adalah cinta.
Tidak semua rasa nyaman merupakan romantisme.
Dan tidak semua persahabatan laki-laki dan perempuan harus dicurigai sebagai hubungan yang sedang menunggu waktu untuk berubah menjadi percintaan.
YANG SERING MERUSAK PERSAHABATAN BUKAN EROS, MELAINKAN KETIDAKJUJURAN
Barangkali persoalan terbesar bukan keberadaan eros, tetapi ketidakmampuan manusia menetapkan batas.
Persahabatan dapat bertahan selama kedua pihak memahami posisi masing-masing. Masalah muncul ketika salah satu pihak mulai berharap lebih, tetapi tetap mempertahankan label "sahabat" sambil menuntut perlakuan seperti pasangan.
Ia ingin selalu dikabari.
Ia ingin menjadi prioritas.
Ia ingin mengetahui dengan siapa sahabatnya pergi.
Ia marah ketika perhatian dibagi kepada orang lain.
Tetapi ketika ditanya mengenai hubungan mereka, jawabannya tetap sama: "Kami cuma sahabatan."
Kalimat itu dapat menjadi tameng sekaligus jebakan.
Sebab sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh label, tetapi juga oleh ekspektasi yang hidup di dalamnya.
Persahabatan yang sehat membutuhkan kebebasan. Sahabat tidak seharusnya merasa memiliki hak eksklusif atas kehidupan sahabatnya. Ia boleh peduli, tetapi tidak berhak menguasai. Ia boleh merasa kehilangan, tetapi tidak boleh menjadikan perasaan itu sebagai alasan untuk mengendalikan.
Dan yang paling penting, ia harus berani mengakui apabila perasaannya telah berubah.
Kejujuran memang berisiko.
Mengakui perasaan kepada sahabat bisa membuat hubungan menjadi canggung. Bahkan mungkin persahabatan tersebut berakhir. Tetapi menyembunyikan perasaan selama bertahun-tahun sambil berharap orang lain suatu hari menyadarinya juga bukan bentuk persahabatan yang sepenuhnya sehat.
JADI, APAKAH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN BISA BENAR-BENAR BERSAHABAT?
Bisa.
Tetapi "bisa" bukan berarti selalu mudah.
Persahabatan laki-laki dan perempuan membutuhkan kematangan emosional yang mungkin lebih besar dibanding sekadar kedekatan biasa. Keduanya harus mampu membedakan antara perhatian dan kepemilikan, kenyamanan dan ketergantungan, kasih sayang dan hasrat, serta persahabatan dan harapan romantis.
Montaigne mungkin benar ketika mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sesederhana yang ingin mereka tampilkan. Ada dorongan-dorongan batin yang terkadang tidak disadari. Eros bisa muncul tanpa diundang.
Namun mengatakan bahwa eros pasti menghancurkan persahabatan juga merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Justru kedewasaan seseorang terlihat ketika ia menyadari adanya perasaan, kemudian mampu menempatkannya dengan benar.
Sahabat bukan milik kita.
Sahabat adalah manusia merdeka yang kebetulan memilih berjalan bersama kita dalam bagian tertentu dari kehidupan.
Karena itu, persahabatan laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia hanya menuntut satu hal yang sering kali paling sulit dilakukan manusia: kejujuran terhadap isi hati sendiri.
Mungkin persoalannya bukan apakah ada eros atau tidak.
Persoalan sebenarnya adalah apakah manusia cukup dewasa untuk mengakui keberadaan eros tanpa harus menjadikan orang yang dicintai sebagai miliknya.
Sebab pada akhirnya, persahabatan yang benar bukan tentang tidak pernah memiliki rasa.
Melainkan tentang mampu menghormati seseorang, bahkan ketika hati kita menginginkan lebih.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.