Fakta Nasional

Plastik Nabati Jadi Solusi: Pemerintah Siapkan Singkong dan Rumput Laut Guna Lawan Krisis Impor

FAKTANASIONAL.NET – Eskalasi konflik di Asia Barat yang memicu kelangkaan pasokan nafta —komponen utama plastik—memaksa Pemerintah Indonesia mengambil langkah berani. Guna menyelamatkan pelaku UMKM dari jeratan harga kemasan yang melambung pasca-Leb…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 12 April 2026 📖 2 menit
Plastik Nabati Jadi Solusi: Pemerintah Siapkan Singkong dan Rumput Laut Guna Lawan Krisis Impor
Menteri UMKM menegaskan skema potongan komisi aplikator sebesar 8 persen berhasil mendongkrak kesejahteraan pendapatan para mitra pengemudi ojol./Foto: TV Parlemen.
) -->

FAKTANASIONAL.NET – Eskalasi konflik di Asia Barat yang memicu kelangkaan pasokan nafta—komponen utama plastik—memaksa Pemerintah Indonesia mengambil langkah berani.

Guna menyelamatkan pelaku UMKM dari jeratan harga kemasan yang melambung pasca-Lebaran 2026, substitusi bahan baku lokal berbasis nabati kini menjadi prioritas nasional.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk lepas dari ketergantungan impor melalui kekayaan alamnya sendiri.

“Rumput laut, singkong. Ini baru dua itu saja ya baru dua itu yang yang bisa dipakai untuk plastik ini,” ujar Maman di Jakarta, dikutip Jumat (10/4/2026).

Mengganti Nafta dengan Potensi Lokal

Selama ini, industri plastik domestik sangat rapuh terhadap gejolak geopolitik karena ketergantungan pada nafta yang merupakan turunan minyak bumi.

Pemerintah kini mulai serius mengkaji peralihan ke arah bioplastic yang lebih stabil dan berkelanjutan.

“Dari nafta yang kita impor dari luar ya kita ganti jadi produk-produk yang di Indonesia sudah cukup banyak. Paling penting adalah substitusi pemanfaatan atau penggunaan raw material nafta,” tambah Maman.

Secara teknis, kedua bahan ini bukan hanya sekadar alternatif, tetapi memiliki keunggulan kompetitif:

  1. Pati Singkong: Mengandung amilosa dan amilopektin yang mampu menghasilkan thermoplastic starch (TPS) yang mudah terurai secara alami.

  2. Rumput Laut: Ekstrak keraginan dan alginatnya dapat menciptakan kemasan yang bisa dimakan (edible packaging) dan larut dalam air, menjadikannya jauh lebih ramah lingkungan dibanding plastik konvensional.

Strategi Jangka Pendek dan Panjang

Meski visi menuju plastik nabati sudah didepan mata, Menteri Maman mengakui bahwa proses transisi membutuhkan pengkajian yang matang secara administratif dan teknis.

“Saya belum bisa bicara sampai sejauh itu (kapan bisa diterapkan),” tuturnya saat ditanya mengenai target waktu implementasi massal.

Sambil menunggu riset bioplastik matang, pemerintah bergerak cepat mengamankan stok jangka pendek dengan mengalihkan sumber impor nafta ke wilayah yang lebih stabil seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Langkah ini diambil agar biaya produksi UMKM tidak semakin tercekik.

“Nah sekarang lagi proses administrasi dan pengiriman dan segala macamnya,” tutup Maman.

Melalui sinergi antara Kementerian UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan, diharapkan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi korban gejolak rantai pasok global, melainkan bertransformasi menjadi pelopor kedaulatan bahan baku industri berbasis komunitas lokal.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK