Fakta Nasional

Policy Brief IDEAS: Dengan Dana Setara MBG, Indonesia Bisa Tutup Jurang Pendidikan

  FAKTANASIONAL.NET - Di tengah perdebatan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul temuan kebijakan yang menunjukkan bahwa realokasi anggaran program tersebut justru berpotensi memberi dampak jauh lebih besar dan berkelanjutan ba…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Editor Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 24 January 2026 📖 2 menit
Policy Brief IDEAS: Dengan Dana Setara MBG, Indonesia Bisa Tutup Jurang Pendidikan
Hasil Kajian IDEAS/Dok. Ist.

 

FAKTANASIONAL.NET - Di tengah perdebatan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul temuan kebijakan yang menunjukkan bahwa realokasi anggaran program tersebut justru berpotensi memberi dampak jauh lebih besar dan berkelanjutan bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Dengan realokasi anggaran MBG, negara berpotensi menutup jurang pendidikan secara sistemik yaitu menuntaskan wajib belajar 12 tahun bagi seluruh anak Indonesia, memberikan beasiswa bagi hampir 2,9 juta mahasiswa miskin, serta menaikkan gaji 2,1 juta guru honorer SD, SMP, dan SMA setara Upah Minimum Provinsi (UMP).

Temuan tersebut tertuang dalam policy brief Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) berjudul “Makan Bergizi (Tidak) Gratis, Reformasi MBG untuk Pendidikan Anak Bangsa” yang dirilis pada Januari 2026.

Berdasarkan simulasi IDEAS, anggaran sebesar Rp 156,6 triliun cukup untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun bagi seluruh anak Indonesia. Dana ini mencakup beasiswa dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi hampir delapan juta anak miskin yang saat ini tidak bersekolah, sekaligus pembangunan ruang kelas dan sekolah baru agar tidak ada anak yang terhambat oleh jarak, biaya, atau ketiadaan fasilitas.

Secara rinci, kebutuhan anggaran tersebut terdiri dari Rp 12,6 triliun untuk SD, Rp 52,1 triliun untuk SMP, dan Rp 91,9 triliun untuk SMA. Dengan alokasi ini, Indonesia berpeluang mencatat sejarah yaitu tidak ada lagi anak yang terpaksa berhenti sekolah sebelum lulus SMA.

“Dengan alokasi anggaran Rp 156,6 triliun, kita bisa memastikan setiap anak menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, bukan hanya mendapat piring makanan yang akan hilang dalam hitungan jam,” ujar Muhammad Anwar, Peneliti IDEAS pada, Jum'at (23/1/2026)

Alokasi kedua sebesar Rp 64,6 triliun diarahkan untuk pendidikan tinggi. Dana ini memungkinkan sekitar 2,2 juta anak miskin memperoleh beasiswa kuliah di luar program Kartu Indonesia Pintar (KIP Kuliah) yang sudah ada, sekaligus menekan biaya kuliah di 201 Perguruan Tinggi Negeri melalui subsidi BOPTN. Skema ini diproyeksikan mampu meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi dari 22,3 persen menjadi 40 persen.

“Investasi pendidikan tinggi bukan sekadar biaya, tetapi strategi ekonomi jangka panjang. Anak-anak berpendidikan tinggi adalah motor inovasi, daya saing, dan produktivitas bangsa,” ungkap Anwar.

Alokasi ketiga difokuskan pada peningkatan kesejahteraan guru honorer. Saat ini, sekitar 2,1 juta guru honorer hidup dengan upah jauh di bawah standar layak. Dengan anggaran Rp 47,7 triliun, negara dapat memastikan seluruh guru honorer menerima gaji setara UMP.

“Guru yang sejahtera bukan sekadar soal upah, tetapi fondasi kualitas pendidikan. Guru yang terus memikirkan cara bertahan hidup tidak mungkin sepenuhnya fokus mendidik,” tambah Anwar.

Jika ketiga kebutuhan tersebut digabungkan (Rp 156,6 triliun untuk wajib belajar 12 tahun, Rp 64,6 triliun untuk pendidikan tinggi, dan Rp 47,7 triliun untuk kesejahteraan guru honorer) total anggarannya mencapai sekitar Rp 268 triliun, setara dengan anggaran MBG saat ini.

Dengan demikian, Indonesia dihadapkan pada pilihan yang sangat nyata: apakah Rp 268 triliun akan habis menjadi piring-piring makanan dengan dampak yang cepat menghilang, atau diinvestasikan menjadi sekolah, guru, dan mahasiswa yang manfaatnya bertahan puluhan tahun lintas generasi.

IDEAS menegaskan, reformasi MBG bukan berarti menghentikan program, melainkan memastikan anggaran publik benar-benar bekerja untuk anak-anak yang paling membutuhkan dan bagi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih adil.[mut]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK