Prabowo Bilang Jadi Presiden Itu "Enggak Enak", Tapi Kok Mau Lanjut Dua Periode?
FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut bahwa jabatan presiden itu "enggak enak" sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Di satu sisi, beliau mengeluhkan beratnya beban jabatan tersebut, namun di sisi lain, ada keinginan kuat…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut bahwa jabatan presiden itu "enggak enak" sebenarnya sangat menarik untuk dibahas.
Di satu sisi, beliau mengeluhkan beratnya beban jabatan tersebut, namun di sisi lain, ada keinginan kuat untuk lanjut ke periode kedua.
Fenomena ini menciptakan sebuah teka-teki politik yang unik.
Secara teori, ucapan "enggak enak" ini bisa dilihat sebagai strategi komunikasi atau framing. Tujuannya adalah mengubah persepsi masyarakat.
Jika biasanya orang melihat jabatan presiden sebagai fasilitas dan kemewahan, narasi ini justru ingin menonjolkan sisi pengorbanan, beban kerja yang berat, dan dedikasi tanpa henti.
Logikanya begini. Kekuasaan tidak lagi dipamerkan sebagai kenikmatan, melainkan sebagai bentuk "penderitaan" demi rakyat. Dengan begitu, posisi pemimpin tersebut secara moral terlihat lebih mulia di mata publik.
Namun, di sinilah letak anehnya. Kalau kita pakai logika sederhana (teori pilihan rasional), biasanya orang akan menghindari posisi yang bikin capek dan tidak membawa keuntungan pribadi.
Kalau memang jadi presiden itu melelahkan—kurang tidur, tekanan publik tinggi, dan tanggung jawabnya segunung—seharusnya seseorang lebih memilih untuk cepat selesai tugasnya, bukan malah ingin menambah masa jabatan.
Tapi kenyataannya justru terbalik. Meskipun secara lisan nilainya dikurangi (dibilang enggak enak), secara praktik, jabatan itu justru dipertahankan, bahkan diupayakan untuk lanjut.
Inilah yang disebut sebagai narasi "pemimpin yang terpaksa" (reluctant leadership). Ini adalah strategi klasik dalam dunia politik. Seorang pemimpin mengaku tidak menikmati kekuasaannya, tapi "terpaksa" menjalaninya demi kepentingan bangsa dan negara.
Strategi ini sangat efektif untuk mengamankan dukungan tanpa terlihat ambisius. Jadi, keluhan "enggak enak" tadi sebenarnya adalah alat untuk membenarkan alasan kenapa dia harus menjabat lagi.
Fenomena ini juga bisa disebut sebagai kontradiksi sikap. Saat jabatan presiden dibilang sebagai beban berat, tapi di saat yang sama ada tanda-tanda ingin lanjut dua periode, yang terjadi sebenarnya bukan sekadar tidak konsisten.
Ini adalah cara strategis untuk membangun tameng moral agar ambisi politiknya tidak dikritik. Seolah-olah kekuasaan itu bukan sesuatu yang dia kejar, tapi sesuatu yang harus dia "tanggung".
Di Indonesia, pola seperti ini bukan hal baru. Di sistem demokrasi sekarang, cara elite politik mempertahankan kekuasaan memang sudah berubah.
Kalau dulu alasannya adalah stabilitas atau pembangunan, sekarang alasannya sering kali dibungkus dengan narasi "pengorbanan pribadi".
Jadi, kalau ada yang bertanya, "Kalau jadi presiden enggak enak, kenapa mau dua periode?", jawabannya sederhana tapi mendalam.
Dalam politik, rasa "tidak enak" itu bukan alasan untuk berhenti. Sebaliknya, semakin jabatan itu dibilang berat, semakin besar alasan moral seseorang untuk terus memegangnya.
Jakarta, 9 April 2026 HAMDI PUTRA Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.