Prabowo Mengubah Strategi, yang Sering Dipuji Harus Berhati-hati
FAKTANASIONAL.NET - Presiden yang dbilang bodoh, pakak, omon-omon, dan lain sebagainya itu, ternyata hanya sedang memainkan peran, bukan yang sebenarnya. Presiden Prabowo sudah melampaui cap-cap, stempel-stempel, atau apa pun terkait dirinya. Bahkan…
FAKTANASIONAL.NET - Presiden yang dbilang bodoh, pakak, omon-omon, dan lain sebagainya itu, ternyata hanya sedang memainkan peran, bukan yang sebenarnya. Presiden Prabowo sudah melampaui cap-cap, stempel-stempel, atau apa pun terkait dirinya.
Bahkan, keinginannya sendiri sudah dilampaui seperti yang sering dikatakannya bahwa tak ada lagi yang ia cari dalam kehidupan ini. Kecuali, pengabdian buat bangsa dan negara. Ini cukup terasa.
Kalau masih ada yang percaya bahwa Prabowo-lah yang meminta Gibran menjadi pendampingnya, berarti masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Justru Prabowo meminta Gibran itu karena ia tahu apa yang diinginkan Jokowi.
Jalur hukum di MK sudah dibabat, termasuk di Dikdasmen dan KPU. Masak Prabowo masih tidak meminta Gibran? Itu baru bodoh namanya. Bahkan, Gibranlah yang dipersiapkan Jokowi, bukan Prabowo. Hakikatnya, Prabowo pendamping Gibran.
Sebelum Jokowi meletakkan jabatannya banyak sekali yang dilakukannya. Melantik pimpinan KPK, melantik Kepala PCO, menitipkan menteri-menteri, dan lain sebagainya.
Itulah yang kemudian membuat kabinet menjadi sangat gemuk. Presiden Prabowo harus melakukan itu, karena tak mau hanya di keliling menteri-menterinya Jokowi. Satu persatu dilihat Prabowo sepak terjangnya, tapi tak terlalu dipelototi. Prabowo hanya melihat dengan ujung mata saja.
Maka, ada semacam pola baru bahwa pejabat yang dipuji-puji di hadapan publik bisa jadi orang itulah yang paling bermasalah. Bukannya memperbaiki diri, malah ia makin lupa diri.
Kepala dan Wakil Kepala BGN misalnya. Terbaru, Kepala KSP sekaligus mantan Kapolri, termasuk juga mungkin Menteri ATR/BPN, Menteri Kehutanan, yang masih baik-baik saja sampai saat ini. Semua pernah dipuji Presiden Prabowo, dan akhirnya bermasalah, bahkan sangat-sangat parah.
Presiden Prabowo sudah mengubah taktiknya sejak tahun 2019 lalu, lawannya belum juga. Prabowo bukan lagi Prabowo yang sering kalah. Bahkan, sudah menang pun kekalahannya itu sering diulang-ulang tanpa rasa malu, agar yang merasa menang tetaplah bukan dirinya. Prabowo bukan lagi orang yang tempramental.
Bahkan, orang yang dicopotnya pun, masih dikasih jabatan, hingga orang itu benar-benar lupa daratan, baru kemudian dibenamkan tanpa ada ampun. Jadi Prabowo yang kini bukan lagi Prabowo yang dulu. Itu. (ERIZAL)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.