Fakta Nasional

Prancis Desak Palestina Batalkan Penundaan Pemilu hingga September 2027

FAKTANASIONAL.NET - Prancis mendesak otoritas Palestina membatalkan keputusan penundaan pemilu legislatif dan segera menyelenggarakan pemilihan presiden serta parlemen. Desakan ini disampaikan setelah Presiden Palestina Mahmoud Abbas menetapkan jadw…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 13 October 2026 📖 2 menit
Prancis Desak Palestina Batalkan Penundaan Pemilu hingga September 2027
Gaza Tetap Bagian Palestina, Menlu Shahin Tegaskan Tak Boleh Dipisahkan dari Tepi Barat/Pixabay
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Prancis mendesak otoritas Palestina membatalkan keputusan penundaan pemilu legislatif dan segera menyelenggarakan pemilihan presiden serta parlemen.

Desakan ini disampaikan setelah Presiden Palestina Mahmoud Abbas menetapkan jadwal baru pemilu hingga 11 September 2027.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan penyesalan atas keputusan Abbas yang mengubah jadwal pemilihan tersebut. Paris menilai pemilu perlu segera dilaksanakan di seluruh wilayah Palestina.

"Prancis menyerukan kepada otoritas Palestina untuk membatalkan keputusan mereka dan menyelenggarakan pemilu parlemen serta presiden di seluruh wilayah Palestina sesegera mungkin," kata juru bicara kementerian dalam pernyataannya, Minggu (11/10), dikutip dari CNN Indonesia yang mengutip Reuters.

Pada Sabtu (10/10), Abbas mengumumkan penundaan pemilu legislatif yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada November. Ia menetapkan 11 September 2027 sebagai tanggal baru untuk pemilihan legislatif sekaligus pemilihan presiden.

Abbas menyalahkan Israel dan situasi keamanan di wilayah Palestina atas perubahan jadwal tersebut. Menurut kantor berita resmi Palestina, WAFA, dekret yang diterbitkan Abbas menekankan pentingnya kondisi politik, keamanan, dan lapangan yang memadai agar pemilu dapat berlangsung bebas, adil, dan inklusif.

Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dekret itu menyoroti serangan militer Israel, perluasan permukiman, kekerasan pemukim, serta pembatasan pergerakan. Penahanan pendapatan pajak Palestina oleh Israel juga disebut menghambat persiapan pemilihan.

Sementara itu, kondisi keamanan dan kemanusiaan di Gaza menjadi perhatian tersendiri. Dekret tersebut menyebut penarikan pasukan Israel yang belum tuntas dan rekonstruksi yang belum berjalan sebagai kendala. Akses petugas komisi pemilu serta pemantau internasional ke Gaza dan Yerusalem Timur juga disebut dibatasi Israel.

Dua pejabat Palestina sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pimpinan Fatah dan Hamas sepakat menunda pemilu dalam pertemuan di Kairo, Mesir, Rabu (7/10).

Keputusan penundaan tersebut muncul beberapa pekan setelah Abbas menegaskan jadwal pemilu November dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 24 September. Ia juga sebelumnya berjanji secara tertulis kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk menggelar pemilu presiden serta legislatif.

Janji itu menjadi bagian dari pengakuan Prancis terhadap negara Palestina pada September 2025. Pada Kamis (8/10), Kementerian Luar Negeri Prancis kembali menegaskan pentingnya pelaksanaan pemilu dan menyambut peluncuran misi pemantau pemilu Uni Eropa.

Palestina terakhir kali menyelenggarakan pemilu legislatif pada 2006 dan pemilu presiden pada 2005. Sejak masa jabatannya berakhir pada 2009, Abbas terus memerintah melalui dekret.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK