Studi Ungkap Urine Pendaki Berpotensi Mencairkan 154 Ton Es di Gunung Everest
FAKTANASIONAL.NET - Pencemaran akibat aktivitas manusia di Gunung Everest, Nepal, ternyata tidak hanya berasal dari tumpukan sampah. Urine para pendaki juga berpotensi mempercepat pencairan es di kawasan gletser. Sebuah penelitian memperkirakan pana…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pencemaran akibat aktivitas manusia di Gunung Everest, Nepal, ternyata tidak hanya berasal dari tumpukan sampah.
Urine para pendaki juga berpotensi mempercepat pencairan es di kawasan gletser. Sebuah penelitian memperkirakan panas dari urine manusia dapat mencairkan sekitar 154 ton es dalam satu musim pendakian.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Regional Environmental Change. Penelitian ini menyoroti dampak aktivitas manusia terhadap Gletser Khumbu, kawasan yang menjadi lokasi base camp Everest di sisi Nepal.
Gunung Everest memiliki ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut (mdpl). Setiap tahun, ribuan pendaki, pejalan kaki, dan staf pendukung berkumpul di kawasan tersebut sebelum memulai perjalanan menuju puncak.
Menurut peneliti, urine manusia yang bersuhu sekitar 37 derajat Celsius dapat memindahkan panas ke permukaan es dan menyebabkan pencairan. Penjelasan tersebut disampaikan dalam studi yang dikutip dari New York Post.
Peneliti memusatkan pengamatan pada musim semi 2023, ketika sekitar 2.000 orang berada di base camp yang terletak pada ketinggian sekitar 5.473 mdpl.
Berdasarkan perhitungan mereka, aktivitas para pendaki menghasilkan sekitar 338.299 liter urine selama periode 50 hari. Jumlah tersebut diperkirakan dapat menyebabkan pencairan sekitar 154 ton es dalam satu musim.
Dampaknya berpotensi lebih besar jika penggunaan bahan bakar untuk pemanasan dan memasak ikut diperhitungkan. Peneliti memperkirakan gabungan panas dari urine dan ribuan galon bahan bakar dapat berkaitan dengan pencairan hingga 2.492 ton es.
Namun, angka tersebut memiliki keterbatasan. Perhitungan penelitian mengasumsikan seluruh panas dari urine berpindah ke es, padahal sebagian panas dapat hilang melalui berbagai proses di lapangan.
“Perkiraan ini kemungkinan merupakan batas atas, karena tidak memperhitungkan kehilangan panas melalui perkolasi ke dalam puing-puing, limpasan, transfer panas yang tidak sempurna, atau proses disipatif lainnya yang sulit diukur dalam kondisi lapangan,” tulis tim peneliti.
Para ilmuwan menilai meningkatnya jumlah pendaki dan staf pendukung memperburuk tekanan lingkungan terhadap Gletser Khumbu. Karena itu, mereka menyarankan pemindahan base camp utama ke lokasi yang lebih kering dan bebas es.
“Memindahkan perkemahan utama ke lokasi yang bebas es dapat membantu mengurangi pencairan gletser akibat aktivitas manusia sekaligus mendorong praktik pendakian gunung yang lebih berkelanjutan,” tulis mereka.
Relokasi tersebut juga dinilai berpotensi mengurangi tekanan pada Air Terjun Es Khumbu, meningkatkan keselamatan ekspedisi, dan mendukung ketahanan ekosistem pegunungan.
Selain urine, Everest menghadapi persoalan sampah yang serius. Menurut National Geographic, kawasan tersebut dilaporkan dipenuhi lebih dari 50 ton sampah. Sejak 2024, pendaki juga diwajibkan membawa kembali kotoran mereka menggunakan kantong khusus, meskipun pelanggaran masih terjadi.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dan aktivitas pendakian menjadi bagian penting dalam upaya melindungi lingkungan Everest.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.