Fakta Nasional

Program CSR Pertamina Ubah Wajah Pulau Merak

FAKTANASIONAL.NET - Di kawasan Kapling Baru 2, Kota Cilegon, Kecamatan Pulau Merak, sekelompok ibu rumah tangga kini menjalankan aktivitas produktif berbasis lingkungan. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa, mereka mengelola kebun hidroponi…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Editor Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 15 February 2026 📖 2 menit
Program CSR Pertamina Ubah Wajah Pulau Merak
CSR Pertamina Tanjung Sekong sukses ubah kebun hidroponik jadi usaha produktif ramah lingkungan dengan dampak ekonomi nyata/Dok. Pertamina.

FAKTANASIONAL.NET - Di kawasan Kapling Baru 2, Kota Cilegon, Kecamatan Pulau Merak, sekelompok ibu rumah tangga kini menjalankan aktivitas produktif berbasis lingkungan. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa, mereka mengelola kebun hidroponik yang tidak hanya menjadi sumber pangan keluarga, tetapi juga simbol transformasi energi bersih di tingkat komunitas.

Program bertajuk KreaSea Tumbuh merupakan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Pertamina Energy Terminal melalui Terminal LPG Tanjung Sekong. Inisiatif ini menjadi bagian dari pilar Green Terminal, yakni konsep operasional terminal energi yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat sekitar.

Beralih ke Energi Surya, Kurangi Emisi Karbon

Selaras dengan visi Green Terminal, rumah hidroponik yang dikelola KWT Wahid Sapa kini memanfaatkan energi terbarukan sebagai sumber listrik utama. Pertamina memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp untuk mendukung operasional pompa dan sistem sirkulasi air tanaman.

Penggunaan energi surya tersebut diperkirakan mampu menekan emisi karbon hingga 1,75 ton CO2 eq per tahun. Langkah ini menjadi contoh konkret integrasi antara teknologi ramah lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Tak hanya fokus pada energi, perusahaan juga membantu mengatasi kendala teknis yang sebelumnya dihadapi anggota kelompok. Inovasi incremental dilakukan melalui pemasangan tangki tekan air untuk menstabilkan aliran nutrisi ke rak tanaman. Selain itu, diterapkan sistem double wall insulation pada pipa guna mencegah pertumbuhan lumut yang dapat menghambat distribusi air.

Dari Coba-Coba Menjadi Usaha Terstruktur

Sejak pembangunan rumah hidroponik pada September 2024, program ini berkembang pesat. Awalnya hanya dijalankan secara sederhana oleh sembilan anggota pada 2023, kini jumlah partisipan meningkat menjadi 30 orang.

Dukungan infrastruktur dan pendampingan membuat sistem pertanian yang sebelumnya manual menjadi lebih tertata dan efisien. Produksi sayuran meningkat, kualitas panen lebih konsisten, dan aktivitas bercocok tanam berubah menjadi kegiatan rutin yang menghasilkan nilai ekonomi.

Ketua KWT Wahid Sapa, Ani Sosiawati, mengungkapkan bahwa sebelum adanya rumah hidroponik, pengelolaan dilakukan secara manual dan terbatas. Kini, hasil panen lebih optimal dan anggota kelompok memiliki keterampilan baru dalam budidaya tanaman modern.

Lebih dari sekadar sumber penghasilan tambahan, kebun hidroponik ini juga menjadi ruang belajar bagi ibu-ibu RW 06. Mereka tidak hanya memahami teknik tanam, tetapi juga manajemen produksi dan distribusi. Keuntungan panen sementara disisihkan dan direncanakan akan dibagikan menjelang bulan puasa sebagai bentuk solidaritas antaranggota.

Hasil Panen Diminati Warga

Manfaat program ini juga dirasakan masyarakat sekitar. Sayuran hidroponik KWT Wahid Sapa diminati pembeli karena kualitasnya segar, tahan lama, dan harganya kompetitif dibandingkan pasar tradisional.

Salah satu warga mengaku rutin membeli setiap kali panen karena kualitas produk dinilai lebih unggul. Harapannya, kapasitas produksi dapat terus meningkat agar ketersediaan stok lebih stabil dan panen lebih sering dilakukan.

Pemberdayaan Kelompok Rentan

Program KreaSea Tumbuh tidak hanya melibatkan anggota KWT. Inisiatif ini juga merangkul kelompok Pemuda Berani Inovasi (PBI), keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH), lansia, serta pengangguran usia produktif untuk mengikuti pelatihan keterampilan.

Melalui pendekatan ini, transformasi yang terjadi bukan hanya pada aspek energi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Integrasi PLTS dan pemberdayaan masyarakat menjadi bukti bahwa operasional terminal energi dapat berjalan berdampingan dengan peningkatan kesejahteraan sosial.

Langkah ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Implementasi prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) menjadi fondasi dalam setiap program keberlanjutan yang dijalankan perusahaan.[mut]

 


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK