Fakta Nasional

Puja-Puji Ekonom Global Atau Narasi Pemasaran? Menguliti Kredibilitas Shan Saeed Dalam Membingkai MBG Dan Ekonomi Indonesia

FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai “investasi jangka panjang” dan fondasi ekonomi masa depan Indonesia perlu dibaca secara kritis, bukan sekadar diterima se…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 30 April 2026 📖 3 menit
Puja-Puji Ekonom Global Atau Narasi Pemasaran? Menguliti Kredibilitas Shan Saeed Dalam Membingkai MBG Dan Ekonomi Indonesia
(ilustrasi/@pixabay)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai “investasi jangka panjang” dan fondasi ekonomi masa depan Indonesia perlu dibaca secara kritis, bukan sekadar diterima sebagai validasi ilmiah atas kebijakan pemerintah.

Dalam pernyataannya, Shan bahkan menegaskan bahwa dampak kebijakan seperti MBG baru akan terasa dalam 12 hingga 15 bulan dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui 6 persen.

Pernyataan ini sekilas terdengar optimis, tetapi justru membuka celah serius dalam hal kredibilitas, metodologi, dan independensi analisis.

Masalah pertama terletak pada posisi institusional Shan Saeed sendiri.

Ia bukan ekonom dari lembaga kebijakan publik seperti IMF, Bank Dunia, atau bank sentral, melainkan Chief Economist dari perusahaan real estate global, Juwai IQI—perusahaan yang bergerak di sektor properti dan investasi lintas negara.

Ini berarti setiap narasi optimisme terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia memiliki insentif bisnis yang jelas: meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong arus modal ke sektor properti.

Dengan kata lain, analisis ekonomi yang disampaikan berpotensi tidak netral, melainkan selaras dengan kepentingan komersial perusahaan.

Pola puja-puji Shan terhadap Indonesia juga bukan fenomena baru, melainkan konsisten dan berulang.

Ia menyebut ekonomi Indonesia “stabil secara struktural”, “kredibel”, bahkan sebagai “jangkar kestabilan makroekonomi di ASEAN”.

Ia juga menilai Indonesia sebagai “primadona investasi global” dan menyebut minat investor asing tetap tinggi karena stabilitas kebijakan dan kredibilitas pemerintah.

Narasi ini membentuk pola yang jelas: hampir tidak pernah ada kritik substantif terhadap risiko fiskal, beban anggaran, atau potensi distorsi kebijakan. Dalam dunia ekonomi, pola seperti ini bukan analisis—melainkan framing.

Kedua, klaim bahwa MBG adalah investasi jangka panjang yang akan memperkuat ekonomi tidak disertai dengan model kuantitatif yang transparan.

Tidak ada proyeksi multiplier effect yang jelas, tidak ada simulasi dampak fiskal terhadap defisit, dan tidak ada analisis opportunity cost terhadap anggaran yang sangat besar.

Sebaliknya, pernyataan tersebut hanya bersandar pada argumen normatif bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan akan meningkatkan produktivitas.

Secara teori, argumen ini benar, tetapi dalam praktik kebijakan publik, ukuran keberhasilan tidak bisa hanya bergantung pada asumsi umum tanpa parameter empiris yang terukur.

Ketiga, terdapat kontradiksi internal dalam narasi yang dibangun. Di satu sisi, Shan mengakui bahwa dunia berada dalam tekanan global akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.

Namun di sisi lain, ia tetap mempromosikan optimisme tinggi terhadap ekonomi Indonesia tanpa mengaitkan secara konkret bagaimana tekanan eksternal tersebut akan mempengaruhi daya tahan fiskal, terutama ketika pemerintah menjalankan program berskala ratusan triliun rupiah seperti MBG.

Dalam analisis ekonomi yang serius, variabel global bukan sekadar latar belakang—melainkan faktor penentu.

Keempat, absennya rekam jejak prediksi yang teruji menjadi persoalan fundamental. Shan Saeed secara konsisten memberikan outlook positif terhadap Indonesia, tetapi tidak ada dokumentasi publik yang menunjukkan akurasi prediksinya secara historis.

Dalam standar ekonomi profesional, kredibilitas seorang ekonom tidak ditentukan oleh seberapa sering ia tampil di media, tetapi oleh seberapa akurat proyeksinya dibandingkan realisasi.

Tanpa itu, opini ekonomi mudah berubah menjadi retorika yang tidak terukur.

Kelima, penggunaan bahasa yang terlalu normatif dan politis—seperti “berkah besar”, “fondasi kuat”, dan “kredibilitas pemerintah”—menunjukkan bahwa pernyataan tersebut lebih dekat dengan narasi legitimasi kebijakan daripada analisis independen.

Dalam dunia akademik, istilah seperti ini jarang digunakan tanpa disertai indikator kuantitatif yang spesifik.

Ketika seorang ekonom mulai menggunakan bahasa yang selaras dengan narasi politik pemerintah, maka independensi analisisnya patut dipertanyakan.

Dalam konteks ini, puja-puji terhadap MBG dan ekonomi Indonesia bukan sekadar opini personal, melainkan bagian dari ekosistem narasi yang lebih luas: membangun persepsi stabilitas dan optimisme untuk menarik investasi global.

Masalahnya, ketika narasi ini tidak diimbangi dengan kritik dan evaluasi risiko yang seimbang, maka publik berpotensi menerima gambaran ekonomi yang terlalu ideal dan tidak mencerminkan kompleksitas nyata.

Oleh karena itu, penting untuk menempatkan pernyataan Shan Saeed secara proporsional.

Bukan sebagai validasi objektif atas keberhasilan kebijakan, melainkan sebagai perspektif dari aktor pasar dengan kepentingan tertentu.

Dalam kebijakan publik bernilai ratusan triliun rupiah seperti MBG, Indonesia tidak membutuhkan puja-puji global—melainkan analisis yang jujur, transparan, dan dapat diuji secara empiris.

Jika tidak, maka yang terjadi bukanlah penguatan kredibilitas ekonomi nasional, melainkan reproduksi narasi optimisme yang rapuh—yang bisa runtuh ketika berhadapan dengan realitas fiskal, tekanan global, dan akuntabilitas publik yang sesungguhnya.

Penulis : Hamdi Putra - Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK