Pulang
PERNAH kupikir, perjalanan yang paling jauh adalah perjalanan meninggalkanmu. Aku berjalan dengan keyakinan bahwa jarak akan mengajarkan hati bagaimana caranya melupakan. Namun waktu justru membawaku pada sebuah kesadaran yang tidak pernah kuduga: s…
PERNAH kupikir, perjalanan yang paling jauh adalah perjalanan meninggalkanmu. Aku berjalan dengan keyakinan bahwa jarak akan mengajarkan hati bagaimana caranya melupakan.
Namun waktu justru membawaku pada sebuah kesadaran yang tidak pernah kuduga: sejauh apa pun kaki melangkah, hati selalu tahu ke mana ia ingin kembali.
Kini aku tidak lagi menganggap kepulangan sebagai kekalahan. Sebab mungkin, setelah begitu banyak kehilangan, pulang bukan berarti aku gagal meninggalkan masa lalu, melainkan aku telah menemukan keberanian untuk melihatnya kembali dengan mata yang lebih dewasa.
Tetapi semakin aku menjalani hidup, semakin aku mengerti bahwa tidak semua kepulangan adalah bentuk kekalahan.
Ada kepulangan yang justru lahir dari kesadaran.
Kesadaran bahwa kita pernah memiliki sesuatu yang begitu berharga, tetapi kita tidak cukup dewasa untuk menjaganya.
Aku ingin kembali kepadamu.
Namun, kalau kepulanganku hanya untuk mengulang apa yang pernah kita jalani, mungkin lebih baik aku tetap berada di tempatku sekarang. Aku tidak ingin kembali untuk menghidupkan masa lalu. Masa lalu sudah menjadi bagian dari kita, dan biarlah ia tetap berada di tempatnya.
Aku ingin kembali untuk memungut puing-puing yang pernah kita tinggalkan.
Satu per satu.
Tidak perlu semuanya sekaligus.
Mungkin ada puing dari percakapan yang dulu berakhir dengan kemarahan. Ada puing dari janji yang tidak kita tepati. Ada pula puing dari kata-kata yang seharusnya tidak pernah kita ucapkan.
Kita pernah saling mencintai, tetapi pada saat yang sama kita juga pernah saling melukai.
Dan mungkin itulah bagian paling menyedihkan dari sebuah hubungan. Bukan ketika dua orang tidak lagi saling mencintai, tetapi ketika dua orang yang masih memiliki rasa justru tidak tahu bagaimana cara menjaga perasaan satu sama lain.
Aku tidak ingin menyalahkanmu.
Aku juga tidak ingin membela diriku sendiri.
Sebab jika kita terus mencari siapa yang paling salah, mungkin kita tidak akan pernah selesai dengan masa lalu.
Aku pernah salah. Kau juga mungkin pernah salah. Kita manusia. Kita punya ego, punya ketakutan, punya cara masing-masing dalam menghadapi luka. Kadang kita memilih diam ketika seharusnya berbicara. Kadang kita berbicara terlalu keras ketika sebenarnya yang dibutuhkan hanya sebuah pelukan.
Dan dari semua itu, kita kehilangan sesuatu yang dulu kita kira akan selalu ada.
Kini aku tahu, ternyata tidak ada yang benar-benar selalu ada jika tidak dijaga.
Cinta pun begitu.
Ia bukan benda yang setelah dimiliki kemudian dapat kita tinggalkan begitu saja.
Cinta harus dirawat.
Harus didengarkan.
Harus diberi ruang untuk tumbuh.
Dan terkadang, cinta juga harus diperjuangkan ketika keadaan membuat semuanya terasa begitu berat.
Karena itu, jika suatu hari aku kembali, aku tidak ingin datang membawa daftar kesalahanmu.
Aku ingin datang membawa kesadaranku sendiri.
Aku ingin mengakui bahwa ada banyak hal yang dahulu tidak mampu kulakukan dengan baik.
Mungkin dahulu aku terlalu ingin dimengerti, sampai lupa bahwa aku juga harus belajar memahami.
Mungkin dahulu aku terlalu sibuk mempertahankan pendapatku, sampai lupa bahwa hubungan bukan tempat untuk menentukan siapa yang menang.
Dan mungkin aku pernah mengira bahwa meminta maaf berarti kalah.
Padahal ternyata tidak.
Meminta maaf adalah salah satu bentuk keberanian paling sederhana dalam sebuah hubungan. Kita harus cukup rendah hati untuk mengatakan, "Aku salah," tanpa menunggu orang lain lebih dulu mengakuinya.
Begitu pula dengan memaafkan.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa semua yang terjadi tidak penting. Memaafkan berarti kita memilih untuk tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai senjata untuk menghancurkan masa depan.
Aku ingin luka-luka kita menjadi batu pertama.
Bukan karena aku ingin mengingat rasa sakitnya, tetapi karena aku ingin menjadikannya dasar agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Biarlah air mata yang pernah jatuh menjadi hujan.
Hujan yang menyuburkan tanah tempat kita akan membangun sesuatu yang baru.
Dan biarlah kesalahan menjadi tiang-tiang yang mengingatkan kita bahwa sebuah rumah dapat runtuh bukan hanya karena badai dari luar, tetapi juga karena fondasinya tidak pernah diperhatikan.
"Aku ingin kembali, bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi memungut puing-puingnya dan membangun kembali rumah yang pernah kita runtuhkan.Aku tidak ingin membangun istana yang terlihat indah dari luar tetapi kosong di dalam.Biarlah luka menjadi fondasi, air mata menjadi hujan, dan kesalahan menjadi pelajaran agar kita tak lagi saling kehilangan.
Sebab aku tak ingin sekadar kembali kepadamu. Aku ingin kembali bersama dirimu—membangun cinta yang lebih kuat, lebih indah, dan lebih tenang."
- Si Fakta
Aku ingin rumah yang sederhana, tetapi di dalamnya ada ketenangan.
Tempat kita tidak perlu berpura-pura menjadi siapa-siapa.
Tempat ketika salah satu dari kita sedang lelah, yang lain tidak langsung pergi.
Tempat ketika ada masalah, kita memilih duduk dan berbicara, bukan saling menghilang.
Mungkin terdengar sederhana.
Tetapi justru hal-hal sederhana seperti itulah yang sering kali kita abaikan.
Kita terlalu sibuk mencari cinta yang besar, sampai lupa bahwa cinta sebenarnya dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.
Menanyakan kabar.
Mendengarkan cerita yang sama.
Menghargai waktu.
Menjaga kepercayaan.
Mengatakan terima kasih.
Meminta maaf.
Dan tetap tinggal ketika keadaan sedang tidak menyenangkan.
Aku tidak ingin kembali hanya karena aku merindukanmu.
Rindu saja tidak cukup untuk membangun kembali sebuah hubungan.
Aku ingin kembali karena aku percaya bahwa manusia bisa berubah ketika ia benar-benar mau belajar dari apa yang telah terjadi.
Aku tidak tahu apakah kita masih memiliki kesempatan.
Aku juga tidak tahu apakah kau masih melihatku sebagai seseorang yang layak untuk berjalan bersamamu.
Dan aku tidak ingin memaksamu.
Cinta yang benar tidak seharusnya menjadi paksaan.
Kalau suatu hari kau memilih untuk membuka pintu itu lagi, aku ingin masuk bukan sebagai orang yang sama.
Aku ingin masuk sebagai seseorang yang telah belajar.
Begitu pula aku ingin melihatmu bukan sebagai seseorang dari masa lalu, tetapi sebagai dirimu yang sekarang.
Sebab mungkin kita berdua telah berubah.
Dan itu tidak apa-apa.
Kita tidak harus kembali menjadi dua orang yang dahulu.
Kita hanya perlu menjadi dua orang yang sekarang, lalu memutuskan apakah masih ingin berjalan bersama.
Aku ingin membangun istana kita kembali.
Tetapi kali ini, aku tidak ingin membangunnya dari janji-janji yang terlalu tinggi.
Aku ingin membangunnya dari tindakan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai suatu saat kita tidak perlu lagi bertanya apakah hubungan ini akan bertahan.
Kita hanya menjalaninya.
Mungkin nanti akan ada pertengkaran lagi. Mungkin ada hari ketika kita saling kecewa. Mungkin ada saat ketika salah satu dari kita kembali merasa lelah.
Tetapi semoga kali ini kita tahu apa yang harus dilakukan.
Bukan pergi.
Bukan menghilang.
Bukan saling menghukum dengan diam.
Melainkan kembali duduk di tempat yang sama dan berkata, "Mari kita selesaikan."
Karena menurutku, hubungan yang kuat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki masalah.
Hubungan yang kuat adalah hubungan yang membuat dua orang memilih menyelesaikan masalah tanpa menjadikan perpisahan sebagai jalan pertama.
Aku ingin rumah itu memiliki banyak jendela.
Agar tidak ada lagi ruang untuk menyimpan terlalu banyak rahasia.
Aku ingin pintunya selalu bisa diketuk.
Agar ketika salah satu dari kita merasa jauh, ia tahu masih ada tempat untuk pulang.
Dan aku ingin rumah itu memiliki halaman yang luas.
Tempat kita bisa duduk suatu hari nanti, ketika usia telah berjalan jauh, lalu mengenang semuanya tanpa rasa marah.
Kita mungkin akan tertawa mengingat betapa keras kepala kita dahulu.
Mungkin juga kita akan terdiam ketika mengingat berapa banyak air mata yang pernah jatuh.
Tetapi setidaknya kita tahu, semua itu tidak berakhir sia-sia.
Karena dari reruntuhan itu kita belajar membangun.
Dari luka kita belajar menjaga.
Dari kesalahan kita belajar mencintai dengan lebih hati-hati.
Dan dari kehilangan kita belajar menghargai sebuah kehadiran.
Aku tidak ingin kembali kepadamu hanya untuk mengatakan bahwa aku masih mencintaimu.
Aku ingin kembali dan menunjukkan bahwa kali ini aku tahu bagaimana caranya mencintaimu.
Mungkin aku tidak akan selalu sempurna.
Mungkin masih akan ada kesalahan.
Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang ketika salah, mau memperbaiki.
Ketika kau terluka, mau mendengarkan.
Ketika kita berbeda, mau memahami.
Dan ketika kehidupan membuat kita lelah, aku ingin kita tidak saling menjadikan satu sama lain sebagai musuh.
Aku ingin kita menjadi tempat untuk beristirahat.
Sebab pada akhirnya, aku tidak mencari seseorang untuk membuat hidupku sempurna.
Aku hanya ingin seseorang yang bersedia berjalan bersamaku ketika hidup sedang tidak sempurna.
Dan mungkin itu alasan sebenarnya mengapa aku ingin kembali.
Bukan karena aku tidak bisa hidup tanpamu.
Aku bisa.
Kau juga bisa.
Tetapi ada perbedaan antara mampu hidup tanpa seseorang dan memilih untuk menjalani hidup bersama seseorang.
Aku ingin memilihmu, jika kau juga masih ingin memilihku.
Bukan karena kita takut kehilangan.
Bukan karena kesepian.
Bukan karena masa lalu terlalu indah untuk dilupakan.
Tetapi karena setelah semuanya terjadi, kita masih percaya bahwa ada sesuatu yang layak diperjuangkan.
Jika memang masih ada kesempatan, mari kita mulai dari awal.
Bukan dari nol, karena kita sudah membawa banyak pelajaran.
Kita mulai dari semua yang pernah kita lalui.
Dari luka.
Dari air mata.
Dari kesalahan.
Dari kehilangan.
Lalu kita bangun kembali sesuatu yang lebih kuat daripada sebelumnya.
Tidak perlu istana yang megah.
Cukup sebuah rumah yang tenang.
Rumah bagi dua hati yang pernah patah, tetapi tidak sepenuhnya kehilangan kepercayaan kepada cinta.
Dan jika suatu hari nanti kita benar-benar sampai di sana, aku ingin kita melihat ke belakang tanpa penyesalan.
Lalu kita akan tahu bahwa kita tidak kembali untuk menghidupkan masa lalu.
Kita kembali karena akhirnya kita mengerti bagaimana cara membangun masa depan.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah arti sebuah kepulangan.
Bukan menemukan kembali apa yang pernah hilang.
Tetapi menemukan dua manusia yang pernah kehilangan satu sama lain, lalu memilih untuk saling menemukan kembali dengan versi diri yang lebih dewasa.
Aku ingin kembali kepadamu.
Bukan untuk mengulang cerita lama.
Aku ingin kita menulis cerita yang baru.
Dengan tangan yang pernah terluka.
Dengan hati yang pernah patah.
Dengan air mata yang pernah jatuh.
Tetapi juga dengan keberanian untuk percaya sekali lagi:
bahwa cinta, jika dijaga oleh dua hati yang sama-sama mau belajar, masih pantas diperjuangkan.[MFQ]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.