Fakta Nasional

Rahasia Kekuatan Militer RI di Tengah Perang Logistik Bahan Baku Global

FAKTANASIONAL.NET - Peta geopolitik modern kini tidak lagi bertumpu pada jumlah prajurit, melainkan pada ketahanan rantai pasok material strategis pertahanan. Dilansir dari CNBC, laporan terbaru JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: the global energy sh…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 29 May 2026 📖 1 menit
Rahasia Kekuatan Militer RI di Tengah Perang Logistik Bahan Baku Global
Rahasia Kekuatan Militer RI di Tengah Perang Logistik Bahan Baku Global/(Foto:Ilustrasi/@pixabay)

FAKTANASIONAL.NET - Peta geopolitik modern kini tidak lagi bertumpu pada jumlah prajurit, melainkan pada ketahanan rantai pasok material strategis pertahanan.

Dilansir dari CNBC, laporan terbaru JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: the global energy shock of 2026 menggarisbawahi bahwa intensitas konflik bersenjata memicu lonjakan kebutuhan logam pertambangan dalam waktu singkat.

Dinamika ini terlihat nyata dalam operasi militer Amerika Serikat pada awal perang Iran, akhir Februari 2026 lalu.

Di tengah tren global di mana anggota NATO didorong mengalokasikan 5 persen PDB untuk anggaran pertahanan, serta AS yang menggelontorkan dana hingga US$ 831,5 miar, pemenuhan bahan baku teknologi pertahanan menjadi penentu utama kemenangan.

Dalam pusaran persaingan ini, posisi Indonesia di peta kekuatan pertahanan global sangat diperhitungkan. Merujuk data Global Firepower (GFP) 2026, Indonesia sukses menduduki peringkat ke-13 dari 145 negara berkat penilaian komprehensif pada aspek personel, keuangan, hingga geografi konvensional.

Jakarta bahkan mencatatkan keunggulan mutlak pada sektor maritim dengan menempati posisi nomor satu untuk kategori armada laut niaga (merchant fleet). Keunggulan ini memberikan basis logistik laut yang solid, yang berfungsi sebagai otot penyokong mobilisasi pasukan dan amunisi saat krisis bersenjata melanda negara kepulauan ini.

Meskipun memiliki modal hulu yang melimpah, ketahanan hilir Indonesia masih menghadapi tantangan berat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan lonjakan nilai impor senjata dan peluru sebesar 160 persen dalam tiga tahun terakhir, hingga mencapai US$ 467,97 juta pada tahun 2025.

Ketergantungan pada komponen canggih seperti mesin jet dan sensor elektronik membuat industri pertahanan domestik rawan terkena dampak disrupsi pasokan global.

Pemerintah terus memacu kemandirian lewat PT Pindad yang kini menjadi ujung tombak utama. Produksi munisi kaliber kecil terus digenjot dari 400 juta butir per tahun menjadi target 600 juta butir.

Kendaraan taktis lokal seperti Maung dan Anoa juga telah dikuasai penuh, membuktikan bahwa Indonesia perlahan sedang merajut kemandirian pertahanan dari hulu ke hilir secara nyata.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK