Fakta Nasional

ROA Danantara: Klaim 300 Persen, Realitas Hanya 2 Persen

PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto bahwa Return on Asset (ROA) Danantara meningkat lebih dari 300 persen terdengar sangat impresif. Angka tersebut dengan cepat menciptakan kesan bahwa lembaga pengelola investasi negara itu berhasil mencetak lonjak…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: admin Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 12 March 2026 📖 2 menit
ROA Danantara: Klaim 300 Persen, Realitas Hanya 2 Persen
Foto ilustrasi - Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) ramah lingkungan. PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) kembali membuka pendaftaran Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) untuk menjaring mitra strategis di sektor waste to energy./scsht net.

PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto bahwa Return on Asset (ROA) Danantara meningkat lebih dari 300 persen terdengar sangat impresif. Angka tersebut dengan cepat menciptakan kesan bahwa lembaga pengelola investasi negara itu berhasil mencetak lonjakan kinerja luar biasa dalam waktu singkat.

Namun ketika angka tersebut dibaca lebih cermat dan ditempatkan dalam konteks skala aset yang dikelola, gambaran yang muncul justru jauh dari mengesankan.

Masalah pertama terletak pada makna “kenaikan 300 persen”. Kenaikan sebesar itu tidak berarti ROA mencapai 300 persen, melainkan bahwa ROA meningkat tiga kali lipat dari angka sebelumnya.

Dengan kata lain, jika ROA sebelumnya berada di kisaran 0,5 persen, maka setelah naik 300 persen nilainya menjadi sekitar 2 persen.

Secara matematis kenaikan tersebut memang spektakuler, tetapi secara ekonomi masih berada pada level yang relatif rendah.

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat skala aset yang dikelola Danantara. Pemerintah beberapa kali menyebut bahwa lembaga ini pada akhirnya akan mengelola aset sekitar US$1 triliun.

Dengan menggunakan kurs rata-rata rupiah sepanjang 2025 sebesar Rp16.475 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp16.475 triliun.

Jika laba bersih Danantara mencapai sekitar Rp332 triliun, maka perhitungan sederhana menunjukkan bahwa ROA riil lembaga ini berada di kisaran 2 persen.

Kenaikan besar secara persentase memang bisa terjadi karena basis awalnya sangat kecil, sementara secara absolut kinerjanya masih jauh dari target.

Namun di sinilah letak persoalan komunikasi publiknya. Angka kenaikan yang sangat besar cenderung menimbulkan persepsi keberhasilan yang jauh lebih besar daripada realitasnya.

Dalam dunia investasi, ROA sekitar 2 persen sebenarnya masih berada pada tahap awal. Banyak sovereign wealth fund (SWF) besar di dunia mencatat return jangka panjang yang lebih tinggi.

SWF Norwegia, misalnya, dalam jangka panjang mampu mencatat return sekitar 6–7 persen. Temasek di Singapura juga berada dalam kisaran yang tidak jauh berbeda.

Dengan demikian, jika target pemerintah adalah ROA 10 persen, maka tantangan yang dihadapi Danantara masih sangat besar.

Untuk mencapai angka tersebut dengan aset sekitar Rp16.475 triliun, lembaga ini harus mampu menghasilkan laba lebih dari Rp1.600 triliun per tahun, hampir lima kali lipat dari laba yang disebutkan saat ini.

Target tersebut bukan sekadar soal efisiensi, tetapi juga menyangkut kualitas investasi, tata kelola, dan kemampuan memilih proyek yang benar-benar produktif.

Dalam konteks ini, yang lebih penting daripada sekadar angka lonjakan awal adalah keberlanjutan kinerja. Banyak lembaga investasi negara di berbagai negara menunjukkan lonjakan kinerja pada fase awal restrukturisasi aset atau konsolidasi laporan keuangan.

Namun setelah fase tersebut lewat, kinerja biasanya kembali ke level yang lebih stabil dan realistis. Ujian sebenarnya justru terletak pada kemampuan mempertahankan return yang konsisten dari tahun ke tahun.

Karena itu, publik seharusnya tidak terlalu terpukau oleh statistik yang terdengar spektakuler tanpa melihat basis perhitungannya.

Dalam ekonomi, angka yang besar sering kali hanya mencerminkan titik awal yang kecil. Kenaikan 300 persen mungkin terdengar impresif, tetapi jika hasil akhirnya baru sekitar 2 persen, maka cerita yang sesungguhnya adalah bahwa perjalanan menuju target masih sangat panjang.

Bagi Danantara, yang akan menentukan reputasinya bukanlah lonjakan persentase pada tahun pertama, melainkan kemampuan menciptakan return investasi yang stabil, transparan, dan bebas dari intervensi politik.

Jika hal itu berhasil dicapai, maka lembaga ini benar-benar dapat menjadi mesin penggerak kekayaan negara. Namun jika tidak, angka-angka impresif di awal hanya akan menjadi catatan statistik yang cepat terlupakan.[***]

Penulis: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK