Fakta Nasional

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah di Level Rp17.676, Menkeu: Kondisinya Beda dengan 1998!

FAKTANASIONAL.NET — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai fluktuasi tajam nilai tukar Rupiah yang terus menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan hingga menembus level psikologis baru di atas Rp…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 18 May 2026 📖 2 menit
Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah di Level Rp17.676, Menkeu: Kondisinya Beda dengan 1998!
/(ilustrasi/@pixabay
) -->

FAKTANASIONAL.NET — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai fluktuasi tajam nilai tukar Rupiah yang terus menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan hingga menembus level psikologis baru di atas Rp17.600 per dolar AS hari ini.

Kendati tekanan eksternal kian berat, Purbaya membantah keras narasi publik yang menyamakan kondisi kejatuhan mata uang Garuda saat ini dengan bayang-bayang krisis moneter jelang reformasi 1998 silam.

"Kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti '97, '98 lagi. Beda, '97 '98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi," tegas Purbaya saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Purbaya Yudhi Sadewa “Bersih-Bersih” Kemenkeu: Direktur Jenderal Dicopot!

Purbaya menggarisbawahi bahwa pada periode kelam tersebut, Indonesia sudah didera resesi parah sejak pertengahan tahun 1997. Sementara pada kondisi hari ini, fundamental ekonomi domestik dinilai jauh lebih kokoh, tidak berada dalam fase resesi, dan justru mencatatkan pertumbuhan yang impresif.

"Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," imbuhnya optimistis.

Kemenkeu Turun Tangan Lewat Bond Stabilization Fund

Guna meredam volatilitas, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tidak tinggal diam dan memilih mengambil langkah konkret guna menyokong intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

Purbaya mengungkapkan pihaknya tengah melakukan operasi pasar di pasar surat utang negara melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF).

Mulai hari ini, intensitas intervensi fiskal tersebut akan ditingkatkan secara masif untuk menahan laju kejatuhan harga obligasi negara.

"Kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini. Minggu lalu udah masuk, tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali," papar Purbaya.

Melalui strategi ini, pemerintah berharap dapat memberikan kepastian dan menyuntikkan sentimen positif bagi para investor portofolio, khususnya asing.

"Asing yang pegang obligasi nggak keluar, karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," urai Menkeu.

Rupiah Lewati Rekor Terlemah Krismon 1998

Tekanan terhadap mata uang domestik memang kian nyata dalam lantai perdagangan awal pekan ini. Pada Senin (18/5/2026) siang, nilai tukar Rupiah terpantau terus tergerus hingga nyaris menyentuh level Rp17.700 per dolar AS.

Berdasarkan data kompilasi pasar spot dari Bloomberg hingga pukul 12.00 WIB, mata uang Garuda bertengger di posisi Rp17.676 per dolar AS.

Posisi ini mencerminkan pelemahan sebesar 80 poin atau anjlok 0,45 persen jika dibandingkan dengan harga penutupan pada hari perdagangan sebelumnya.

Rapor merah ini semakin memperparah posisi pembukaan pasar pada pagi hari yang sebelumnya sudah terkoreksi di level Rp17.630 per dolar AS (turun 33 poin).

Secara nominal, angka Rp17.676 per dolar AS ini secara resmi telah melampaui titik terendah saat puncaknya krisis moneter (krismon) 1998 silam, di mana kala itu nilai tukar Rupiah sempat terpuruk ke kisaran Rp16.800 per dolar AS.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Lantik Robert Leonard Marbun Jadi Sekjen Kemenkeu Baru!


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK