Fakta Nasional

Rupiah Kembali Sentuh Rp16.610, Ekonom Salahkan Tekanan Eksternal dan Aksi Ambil Untung

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar Rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda harus rela melemah terhadap Dolar AS, bahkan kembali menyentuh level Rp16.600-an. Berdasarkan data Refinitiv, Senin (27/10/202…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 28 October 2025 📖 1 menit
Rupiah Kembali Sentuh Rp16.610, Ekonom Salahkan Tekanan Eksternal dan Aksi Ambil Untung
/(ilustrasi/@pixabay)
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar Rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda harus rela melemah terhadap Dolar AS, bahkan kembali menyentuh level Rp16.600-an. Berdasarkan data Refinitiv, Senin (27/10/2025), Rupiah ditutup di posisi Rp16.610 per Dolar AS, atau terdepresiasi 0,12% dari penutupan sebelumnya.

Para ekonom menilai bahwa pelemahan Rupiah kali ini murni disebabkan oleh berbagai tekanan eksternal. Sentimen global masih menjadi pemberat utama yang membuat investor cenderung wait and see dan memilih memegang Dolar AS.

Tarif Dagang AS-China dan Bobot MSCI

Chief Economist BCA, David Sumual, menyebut ada dua isu eksternal utama yang sedang diamati pasar. Pertama adalah ketidakpastian terkait rencana penerapan tarif dagang Amerika Serikat terhadap China yang akan segera dilakukan. "Masih terkait isu eksternal. Pasar wait and see kemungkinan penerapan tarif dagang AS dengan China," ucap David.

Selain itu, faktor perubahan bobot MSCI terhadap perhitungan konstituen di Bursa Efek Indonesia juga turut memberikan tekanan. Meski demikian, David memprediksi pergerakan Rupiah ke depan akan cenderung stabil di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.800 per Dolar AS.

Permintaan Dolar Musiman dan Dana Asing Keluar

Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memiliki pandangan sedikit berbeda. Ia menilai pelemahan ini wajar karena adanya peningkatan permintaan dolar yang bersifat musiman. "Saya lihat ini ada permintaan dolar yang memang secara musiman atau secara rutin itu meningkat pada akhir bulan," kata Myrdal. Permintaan ini biasanya untuk kebutuhan pembayaran bunga utang luar negeri maupun aktivitas impor.

Di sisi lain, Myrdal juga menyoroti adanya aksi ambil untung (profit taking) di pasar Surat Berharga Negara (SBN). "Terutama profit taking di government bond market. Investor asing kelihatannya banyak yang keluar, sambil mereka menunggu nanti yield kita naik lagi," pungkasnya.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK