Rupiah Melemah Tertekan Dolar AS: Defisit NPI dan Ekspektasi The Fed Menjadi Beban
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (20/11/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,21% ke posisi Rp16.725/US$ dan telah berada di zona merah sej…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (20/11/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,21% ke posisi Rp16.725/US$ dan telah berada di zona merah sejak pembukaan. Pelemahannya sempat menyentuh Rp16.750/US$. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) bergerak positif, menguat tipis 0,02% ke level 100,249, menunjukkan dominasi Greenback di pasar global.
Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh faktor domestik dan global. Dari domestik, Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) periode kuartal III-2025 masih mencatatkan defisit sebesar US$6,4 miliar, meski sedikit membaik dari kuartal II-2025 yang defisit US$6,7 miliar.
Menguatnya Dolar Global dan Ketidakpastian Data AS
Pelemahan rupiah semakin diperparah oleh penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS melanjutkan kenaikannya sejak Rabu, didorong oleh kembali turunnya ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada Desember mendatang. Sentimen ini diperkuat oleh ketidakpastian data tenaga kerja AS.
FOMC Minutes Perkuat Tahan Suku Bunga Lebih Lama
Laporan nonfarm payrolls (NFP) untuk Oktober tidak dapat dipublikasikan akibat dampak penutupan pemerintahan (government shutdown) yang berkepanjangan. Minimnya ketersediaan data ekonomi menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) membuat pasar memperkirakan The Fed akan cenderung mempertahankan suku bunga lebih lama. Risalah rapat The Fed (FOMC Minutes) yang dirilis tadi malam juga memperkuat pandangan tersebut, di mana mayoritas pejabat memilih menahan pemangkasan suku bunga pada Desember. Hal ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan signifikan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.