Fakta Nasional

Rupiah Sukses Berbalik Menguat di Tengah Sentimen Negatif Global dan Risiko Fiskal

FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tajinya dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi Rabu (6/5/2026). Penguatan ini memberi sinyal positif bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian global. Melansir la…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 07 May 2026 📖 1 menit
Rupiah Sukses Berbalik Menguat di Tengah Sentimen Negatif Global dan Risiko Fiskal
/(ilustrasi/@pixabay
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tajinya dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi Rabu (6/5/2026).

Penguatan ini memberi sinyal positif bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian global. Melansir laporan CNBC Indonesia pada Kamis (7/5/2026), mata uang Garuda terpantau terapresiasi 0,03% ke posisi Rp17.405 per dolar AS pada pukul 11.27 WIB.

Data Refinitiv mencatat rupiah membuka hari di zona hijau, melesat 0,34% ke level Rp17.350 per dolar AS, membalikkan tren pelemahan 0,26% (Rp17.410/US$) pada penutupan sebelumnya.

Keperkasaan rupiah ini selaras dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY). Pada pukul 09.00 WIB, indeks DXY merosot 0,21% ke posisi 98,234. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tren capital outflow memang cukup menekan nilai tukar.

Namun, koreksi kurs ini justru membuat saham lokal lebih murah di mata investor asing. Di sisi lain, karena banyak saham kini berstatus oversold, investor domestik diimbau memanfaatkan momentum untuk menopang IHSG. Perhatian pelaku pasar kini turut tertuju pada prospek rebalancing indeks MSCI dan FTSE yang diharapkan membawa sentimen positif.

Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya memaparkan ragam faktor yang membayangi stabilitas ekonomi saat ini. Tensi konflik Timur Tengah serta mencuatnya risiko fiskal memicu investor beralih ke dolar AS sebagai aset pelindung.

Ketidakpastian fiskal tersebut bahkan berimbas pada penurunan rating outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Oleh karena itu, Herditya menyarankan investor pasar modal untuk tampil lebih selektif.

Pasalnya, emiten yang bergantung pada barang impor maupun memiliki utang berdenominasi dolar AS akan terdampak secara langsung oleh fluktuasi ini.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK