Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp17.105, Bank Indonesia Siapkan Intervensi di Seluruh Lini
FAKTANASIONAL.NET – Bank Indonesia (BI) memberikan respons cepat setelah nilai tukar rupiah terperosok ke level terlemah sepanjang sejarah, yakni Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Angka ini melampaui titik terendah masa pande…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Bank Indonesia (BI) memberikan respons cepat setelah nilai tukar rupiah terperosok ke level terlemah sepanjang sejarah, yakni Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026).
Angka ini melampaui titik terendah masa pandemi Covid-19 (Rp16.600) dan rekor krisis moneter 1998 (Rp16.800).
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral akan mengerahkan seluruh kekuatan operasi moneter untuk meredam gejolak yang dipicu oleh tingginya ketidakpastian global.
"BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Destry dalam keterangan tertulisnya.
Intervensi Konsisten di Pasar Uang
Guna menjaga kepercayaan pasar dan menstabilkan pergerakan mata uang garuda, BI berkomitmen untuk hadir secara konsisten di berbagai segmen pasar keuangan, baik di dalam maupun luar negeri.
"BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) maupun NDF (Non-Deliverable Forward) di offshore market," jelas Destry.
Intervensi di lini derivatif seperti DNDF dan NDF menjadi krusial untuk mengelola ekspektasi pelaku pasar terhadap nilai tukar di masa depan, sehingga potensi pelemahan lebih dalam dapat ditekan.
Sisi Positif Kenaikan Harga Komoditas
Meskipun rupiah berada di bawah tekanan hebat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, Destry melihat adanya peluang penyeimbang bagi fundamental ekonomi Indonesia.
Sebagai negara pengekspor komoditas, Indonesia berpotensi mendapatkan berkah dari kenaikan harga energi dan pangan dunia.
"Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara ekspotir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," pungkasnya.
Catatan Sejarah Baru
Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah tercatat melemah 70 poin atau 0,41 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Situasi ini menempatkan nilai tukar rupiah di posisi terlemahnya sejak Indonesia merdeka.
Para analis kini menyoroti bagaimana efektivitas instrumen intervensi BI dan durasi konflik global akan menentukan pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan, mengingat tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan bagi pasar keuangan domestik.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.