Sebuah Tragedi, Kawanan Monyet Menyerang Manusia di Tembilahan Riau
MUNGKIN tuan pernya marah, “Monyet loe!” Sekarang, si monyet marah besar. Mereka menyerang pemukiman warga. Ada belasan terluka. Sampai saat ini, warga masih berjaga. Ada tragedi membuat manusia menangis. Ada membuat marah. Tapi tragedi di Parit 13,…
Dengarkan Ringkasan
MUNGKIN tuan pernya marah, “Monyet loe!” Sekarang, si monyet marah besar. Mereka menyerang pemukiman warga. Ada belasan terluka. Sampai saat ini, warga masih berjaga.
Ada tragedi membuat manusia menangis. Ada membuat marah. Tapi tragedi di Parit 13, Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau, ini membuat kita bertanya, sebenarnya siapa yang berkuasa di negeri ini?
Sejak 25 Juli 2026, permukiman warga berubah menjadi arena survival. Bukan karena perang, bukan kerusuhan, bukan pula invasi pasukan asing. Musuhnya? Monyet. Monyet benaran. Bukan monyet yang ono.
Makhluk yang biasanya kita lihat mencuri pisang, mengacak tempat sampah, lalu kabur ke pohon. Kini naik kelas menjadi penguasa wilayah. Manusia yang katanya makhluk paling cerdas justru dibuat bersembunyi di rumah sendiri.
Korban terus bertambah. Pada 31 Juli tercatat 10 orang. Pada 2–3 Agustus menjadi 11. Lalu 3 Agustus mencapai 15 korban. Lima belas manusia terluka.
Ada balita empat tahun digigit di leher. Ada Masiah, 43 tahun, yang harus menerima 33 jahitan di betis kiri. Tiga puluh tiga jahitan, wak! Dasar monyet! Kalau itu jahitan kain, mungkin sudah jadi seragam satu RT. Tapi ini kaki manusia.
Anak-anak seharusnya bermain kini harus diawasi. Orang tua seharusnya mencari nafkah malah sibuk menjaga pintu. Rumah seharusnya tempat paling aman berubah menjadi bunker.
Suara ranting patah bikin jantung berdebar. Nuan bayangan di pohon bikin panik. Monyet lewat? Rapat keluarga.
Parit 13 dan Parit 14 seolah berubah menjadi wilayah kekuasaan baru. Manusia menjadi penduduk. Monyet menjadi penguasa. Kalau monyet punya KTP, mungkin sekarang sedang mengurus kartu keluarga. Kalau punya baliho, mungkin tulisannya, “Monyet Untuk Perubahan.”
Yang lebih absurd, pasukan manusia akhirnya dikerahkan. DPKP, BPBD, TNI, Polri, hingga BKSDA Riau turun tangan. Strateginya? Kandang jebak dengan umpan susu dicampur obat penenang.
Setelah manusia menciptakan rudal, satelit, drone, kecerdasan buatan, dan teknologi luar angkasa, menghadapi monyet ternyata kembali ke metode, “Nak, ayo minum susu dulu.”
Monyetnya mungkin menjawab, “Emangnya saya balita?” Monyet diduga agresif juga pernah ditembak dengan senapan angin. Darahnya terlihat, tetapi dia tetap kabur. Bukan kabur kayak Harun Masiku dan Silpester.
Mungkin dia sudah memahami satu hukum kehidupan, yang punya ekor belum tentu gampang ditangkap. Sayembara penangkapan sempat dibuat, tetapi dihentikan. Warga biasa jelas bukan pasukan khusus penjinak primata. Akhirnya BKSDA turun tangan.
Sementara warga hanya bisa menunggu. Menunggu monyet tertangkap. Menunggu rumah aman. Menunggu anak-anak bisa bermain lagi. Menunggu suara ranting tidak lagi terdengar seperti sirene perang.
Pemerintah mengimbau warga tetap waspada, menutup celah rumah, mengawasi anak-anak, dan melapor jika menemukan monyet. Imbauan tentu penting. Tetapi ada pertanyaan satire yang agak nakal, kalau rakyat sudah harus menjaga rumah sendiri dari serangan monyet, negara sedang hadir atau cuma ikut mengawasi?
Kemudian seekor monyet ditemukan tewas tertembak di Parit 15 Hilir. Apakah dia pelakunya? Belum tentu. Jangan sampai warga sudah bersorak, “Penguasanya tumbang!”, ternyata yang mati cuma monyet salah tempat.
Pelaku sebenarnya mungkin masih berkeliaran. Si sinilah tragedinya. Manusia bisa mengirim satelit ke luar angkasa, membuat teknologi canggih, dan berdebat berjam-jam soal politik. Tetapi seorang anak kecil masih bisa dibuat takut keluar rumah oleh monyet.
Begitulah negeri ini kadang terasa. Kalau belum viral, mungkin biasa. Kalau sudah viral, baru bergerak. Kalau korban bertambah, baru rapat. Kalau kamera datang, baru serius.
Sementara monyet? Santai. Naik pohon. Melihat manusia dari atas. Mungkin dalam hati berkata, “Kalian sibuk berdebat siapa berkuasa. Saya sudah berkuasa di Parit 13.”
Untuk sementara, monyet memang unggul. Manusia punya rumah. Pemerintah punya aparat. Negara punya teknologi. Tetapi monyet punya pohon, kelincahan, dan keberanian.
Yang paling tragis, manusia punya negara, tetapi masih harus bersembunyi di balik pintu ketika penguasa berekor datang menyerbu. Selamat datang di Parit 13. Demokrasi masih milik manusia. Tapi wilayah kekuasaan, untuk sementara, milik monyet.
“Bang, ngeri juga kalau lihat monyet ngamuk. Semoga Presiden kita dapat laporan soal serangan monyet ini.”
“Aamin. Mudahan laporannya benar, wak!”
Penulis: Jamani
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.