Sebut Ekonom Bodoh, Menkeu Purbaya Dinilai Keliru Memahami Skenario Ekonomi
FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut “ekonom bodoh” karena memprediksi harga minyak dunia bisa menembus US$200 per barel mencerminkan kegagalan negara memahami cara kerja ekonomi modern–yakni melalui ske…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut “ekonom bodoh” karena memprediksi harga minyak dunia bisa menembus US$200 per barel mencerminkan kegagalan negara memahami cara kerja ekonomi modern–yakni melalui skenario, bukan kepastian.
Hal ini disampaikan Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (Forsiber) dalam opininya yang dikutip redaksi, Jumat (20/3/2025).
Lebih lanjut Hamdi mengungkapkan bahwa dalam disiplin ekonomi, terutama di sektor energi, tidak ada satu angka tunggal yang dianggap benar. Yang ada adalah spektrum kemungkinan.
"Harga minyak bukan ditentukan semata oleh hukum permintaan dan penawaran yang stabil, melainkan oleh kombinasi rapuh antara geopolitik, spekulasi pasar, gangguan distribusi, hingga konflik bersenjata," tulisnya.
Karena itu, ungkap dia, prediksi ekstrem seperti US$200 per barel bukanlah omong kosong, melainkan bagian dari stress test terhadap sistem ekonomi global.
"Menertawakan skenario terburuk justru menunjukkan ketidakpahaman atas prinsip dasar tersebut," ungkap Hamdi.
"Purbaya berargumen bahwa harga setinggi itu tidak masuk akal karena akan memicu resesi global dan pada akhirnya menekan kembali harga. Argumen ini terdengar logis, tetapi sesungguhnya menyesatkan," tambahnya.
menurut Hamdi, Purbaya mencampuradukkan dua hal yang berbeda. Durasi dan kemungkinan. Bahwa harga tidak akan bertahan lama bukan berarti ia tidak bisa terjadi. Dalam ekonomi energi, justru lonjakan singkat—price spike—yang paling berbahaya.
"Sejarah telah berulang kali menunjukkan hal ini. Krisis minyak 1970-an mengguncang ekonomi dunia bukan karena harga tinggi yang stabil, melainkan karena lonjakan tajam yang tidak diantisipasi," terangnya.
Pada 2008, harga minyak mendekati US$150 sebelum runtuh, meninggalkan dampak luas terhadap inflasi dan stabilitas fiskal berbagai negara.
Dalam konteks Indonesia, lonjakan seperti itu berarti tekanan langsung pada APBN. Subsidi energi akan membengkak. Defisit berpotensi melebar. Ruang fiskal yang sudah sempit akan semakin terhimpit.
"Di sinilah pernyataan Purbaya menjadi problematik. Ia bukan hanya menolak skenario ekstrem, tetapi juga meremehkannya. Padahal, tugas utama seorang Menteri Keuangan bukan memastikan bahwa skenario buruk tidak terjadi, melainkan memastikan negara siap jika itu terjadi," ujar Hamdi.
"Mengabaikan kemungkinan ekstrem sama dengan mengundang krisis tanpa persiapan," tambah dia
Lebih jauh, Hamdi menilai bahwa pernyataan Purbaya tersebut juga menunjukkan kecenderungan defensif dalam komunikasi kebijakan.
Pemerintah saat ini tengah berupaya menjaga narasi stabilitas fiskal di tengah berbagai tekanan. Kebutuhan belanja besar, program prioritas yang mahal, serta ketidakpastian global.
Dalam situasi seperti ini, skenario harga minyak US$200 jelas menjadi ancaman serius. Ia bisa merusak asumsi makro, mengguncang APBN, dan memaksa penyesuaian kebijakan yang tidak populer.
"Alih-alih mengakui risiko tersebut, Purbaya memilih mereduksinya menjadi sesuatu yang layak ditertawakan," ungkap Hamdi.
Ini bukan sekadar soal gaya bicara, lanjutnya. Ini soal cara pandang terhadap kritik dan ketidakpastian. Ketika pejabat publik mulai melabeli pandangan berbeda sebagai “bodoh”, ruang diskusi menyempit.
Ekonomi berubah dari arena analisis menjadi arena pembenaran. Kritik tidak lagi dilihat sebagai masukan, melainkan ancaman yang harus dilemahkan.
"Padahal, kebijakan yang kuat justru lahir dari pengakuan atas kemungkinan terburuk," ungkap Hamdi.
Dia menilai, dalam dunia yang semakin tidak pasti—di mana konflik geopolitik dapat meledak sewaktu-waktu dan pasar bereaksi dalam hitungan jam—pendekatan linier seperti yang ditunjukkan Purbaya menjadi berbahaya.
"Ia mengasumsikan bahwa masa depan akan bergerak seperti masa lalu, stabil, dapat diprediksi, dan terkendali. Kenyataannya tidak demikian," ujar Hamdi
"Ekonomi global hari ini lebih menyerupai sistem yang rapuh, penuh kejutan, dan sering kali irasional," tambahnya.
Karena itu, lanjut Hamdi, skenario ekstrem bukanlah bentuk pesimisme, melainkan bentuk kewaspadaan. Bukan untuk dipercaya sepenuhnya, tetapi untuk dipersiapkan secara serius. Negara yang mengabaikan skenario buruk bukan negara yang optimis—melainkan negara yang lalai.
Purbaya boleh saja yakin bahwa harga minyak tidak akan menyentuh US$200 per barel. Tetapi keyakinan bukanlah kebijakan. Dan dalam ekonomi, kesalahan terbesar bukanlah membuat prediksi yang keliru, melainkan gagal mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Jika itu yang terjadi, maka yang bodoh bukanlah para ekonom yang membuat skenario—melainkan mereka yang menolak memahaminya," pungkas Hamdi.[zul]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.