Selesai
ADA cinta yang tidak berakhir karena kebencian. Ia berakhir karena waktu memilih jalan yang berbeda. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Hanya dua orang yang perlahan menjadi asing, meski pernah saling menghafal cara…
Dengarkan Ringkasan
ADA cinta yang tidak berakhir karena kebencian. Ia berakhir karena waktu memilih jalan yang berbeda.
Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis.
Hanya dua orang yang perlahan menjadi asing, meski pernah saling menghafal cara tertawa, cara marah, bahkan cara terdiam.
Yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukanlah saat tangan itu terlepas.
Melainkan ketika kita sadar bahwa seseorang yang dulu menjadi rumah, kini hanya tinggal alamat yang tak lagi berani kita datangi.
Aneh memang. Dulu kita begitu sibuk merencanakan masa depan.
Membicarakan nama anak, warna dinding rumah, kota yang ingin ditinggali saat tua nanti. Kita percaya bahwa dunia terlalu kecil untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Namun hidup diam-diam mengajarkan satu kenyataan yang tidak pernah diajarkan dalam kisah-kisah romantis: cinta kadang tidak cukup untuk membuat dua orang tetap bersama.
Bukan karena hatinya telah kosong. Justru sering kali ia pergi saat cintanya masih penuh. Sebab ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan pelukan.
Ada lelah yang tidak bisa dihapus hanya dengan kata "bertahanlah". Dan ada keadaan yang memaksa seseorang melepaskan apa yang paling ia inginkan.
Sejak saat itu, kenangan berubah menjadi benda paling berat di dunia. Lagu-lagu yang dulu terdengar indah kini terasa seperti hujan yang turun di dalam dada.
Aroma kopi mengingatkan pada obrolan panjang yang tak pernah selesai. Jalan yang biasa dilewati bersama mendadak terasa lebih panjang karena tak ada lagi tangan yang bisa digenggam.
Orang-orang berkata, waktu akan menyembuhkan. Mungkin benar. Tetapi mereka lupa mengatakan bahwa waktu tidak menghapus kenangan. Ia hanya mengajarkan kita hidup berdampingan dengannya.
Akhirnya kita belajar tersenyum sambil menyimpan rindu yang tak lagi memiliki tujuan.
Ada malam-malam ketika nama itu tiba-tiba muncul tanpa diundang. Bukan karena kita ingin kembali, melainkan karena hati masih mengingat seseorang yang pernah menjadi alasan pulang.
Kita membuka percakapan lama, membaca ulang pesan-pesan sederhana, lalu tersenyum kecil sambil berkata dalam hati, "Ternyata kita pernah sebahagia itu."
Dan setelah itu, layar kembali dikunci.
Karena kita tahu, beberapa pintu memang diciptakan untuk dikenang, bukan untuk dibuka kembali.
Barangkali dewasa memang seperti ini. Tidak semua kehilangan harus diperjuangkan. Tidak semua yang dicintai harus dimiliki.
Ada cinta yang tugasnya hanya datang, mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik, lalu pergi tanpa pernah kembali.
Maka jika suatu hari kita bertemu lagi, semoga bukan sebagai dua orang yang saling menyalahkan. Semoga kita menjadi dua manusia yang mampu saling tersenyum, lalu diam-diam bersyukur karena pernah dipertemukan.
Sebab pada akhirnya, cinta sejati tidak selalu diukur dari seberapa lama seseorang bertahan. Kadang ia justru terlihat dari seberapa ikhlas seseorang melepaskan, meski separuh jiwanya ikut pergi bersamanya.
Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling sunyi.
Mencintai seseorang dengan sepenuh hati, lalu merelakannya berjalan menuju kebahagiaan... meski kebahagiaan itu tidak lagi bersama kita.
"Tidak semua pelukan adalah rumah. Ada yang hanya menjadi persinggahan, lalu pergi meninggalkan rindu."
- Faqih
[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.