Fakta Nasional

Stimulus Ekonomi Pemerintah Dinilai Kurang Integral

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Pemerintah Indonesia tengah gencar meluncurkan paket kebijakan ekonomi guna mendongkrak konsumsi masyarakat. Sejak 5 Juni 2025, lima instrumen stimulus resmi diterbitkan, meliputi diskon transportasi dan tarif tol, bantu…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 10 June 2025 📖 1 menit
Stimulus Ekonomi Pemerintah Dinilai Kurang Integral
Ekonomi/ilustrasi/@pixabay)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Pemerintah Indonesia tengah gencar meluncurkan paket kebijakan ekonomi guna mendongkrak konsumsi masyarakat.

Sejak 5 Juni 2025, lima instrumen stimulus resmi diterbitkan, meliputi diskon transportasi dan tarif tol, bantuan pangan, subsidi upah, serta potongan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

Meski langkah ini dapat meningkatkan daya beli, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai fokus yang terlalu sempit pada konsumsi berisiko menciptakan lonjakan ekonomi hanya sementara.

Berdasarkan struktur Produk Domestik Bruto (PDB), empat pilar pendorong utama pertumbuhan adalah konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor. “Tanpa insentif bagi investor dan sektor ekspor, pertumbuhan hanya menguap dalam hitungan kuartal,” ungkap Esther saat dihubungi pada Senin (9/6/2025).

Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya stimulus yang lebih terintegrasi, menyasar seluruh komponen roda ekonomi, bukan hanya belanja konsumen.

Untuk memberikan ruang bernapas bagi sektor industri, Esther menyarankan pemerintah mempertimbangkan relaksasi pajak penghasilan badan dan penundaan sementara kewajiban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas bahan baku industri strategis.

Skema ini akan menurunkan biaya produksi serta mendorong ekspansi kapasitas produksi. Selain itu, subsidi bunga pinjaman untuk perusahaan kecil dan menengah dapat memperingan beban keuangan, sehingga investasi kembali aktif dan lapangan kerja berkembang lebih luas.

Menurut Esther, paket kebijakan ekspor juga krusial untuk membalik defisit neraca perdagangan. Pemerintah dapat menambah alokasi skema pembiayaan ekspor (trade financing) dengan bunga rendah, memudahkan UMKM dan eksportir skala besar memperluas pasar internasional.

Pengembangan infrastruktur logistik dan simplifikasi prosedur bea cukai juga menjadi kunci agar produk lokal lebih kompetitif di pasar global.

Jika stimulus ekonomi ke depan mencakup relaksasi fiskal, insentif investasi, serta dukungan ekspor, Indonesia berpeluang mencetak pertumbuhan berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada konsumsi domestik semata.

Rancangan kebijakan yang komprehensif akan menjadikan ekonomi semakin resilien menghadapi guncangan global.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK