Survei Porec: Kepercayaan Publik Terhadap Program Makan Bergizi Gratis Anjlok, 88,5% Anggap Hanya Untungkan Elite
JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan proyek mercusuar pemerintah tengah menghadapi badai ketidakpercayaan publik. Hasil survei nasional terbaru dari Policy Research Center (Porec) periode Maret 2026 mengungkapkan temuan mengej…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan proyek mercusuar pemerintah tengah menghadapi badai ketidakpercayaan publik.
Hasil survei nasional terbaru dari Policy Research Center (Porec) periode Maret 2026 mengungkapkan temuan mengejutkan: mayoritas masyarakat menilai program ini lebih menjadi "ladang keuntungan" bagi para elite ketimbang pemenuhan gizi anak-anak.
Dalam survei yang melibatkan 1.168 responden ini, tercatat 88,5% responden meyakini manfaat MBG lebih banyak mengalir ke kantong elite politik dan pengelola dapur.
Sebaliknya, hanya 6,5% masyarakat yang merasa anak-anak dan keluarga benar-benar merasakan dampak positif dari program dengan anggaran fantastis Rp335 triliun tersebut.
Dominasi Persepsi Korupsi dan Penurunan Kualitas
Ketidakpuasan publik ini bukan tanpa alasan. Survei Porec menemukan adanya korelasi kuat antara kerawanan tata kelola dengan persepsi korupsi. Sebanyak 87% responden menyatakan bahwa program MBG sangat rawan dikorupsi.
Berdasarkan data rincian dari Porec, terdapat tiga poin krusial yang disoroti warga:
-
79% responden menilai kualitas makanan sengaja diturunkan demi keuntungan oknum.
-
76% menyebut makanan yang diterima tidak sebanding dengan anggaran yang digelontorkan.
-
88% menilai program lebih dinikmati elite daripada masyarakat sasaran.
Kesaksian Warga: Antara Roti Sederhana dan Dugaan Mark-up
Beberapa responden dalam survei tersebut turut membagikan pengalaman pahit mereka di lapangan. Keluhan mencakup menu makanan yang dianggap jauh dari standar gizi yang dijanjikan pemerintah.
"Ada responden yang mengaku anaknya hanya menerima makanan sederhana seperti roti biasa, jauh dari standar gizi yang dijanjikan," tulis laporan Porec.
Selain kualitas menu, praktik lancung dalam pengadaan juga menjadi sorotan. Warga mencurigai adanya skema mark-up harga, di mana bahan baku yang dibeli dengan harga grosir diduga dilaporkan ke pemerintah dengan harga eceran tertinggi.
Publik Tolak Keberlanjutan Program
Imbas dari krisis kepercayaan ini, dukungan terhadap keberlanjutan program pun merosot tajam.
Hanya 20% publik yang masih setuju program ini dilanjutkan, sementara 80% sisanya mendesak adanya evaluasi menyeluruh atau penghentian total model distribusi saat ini.
Ketidakpuasan ini kini mulai bertransformasi menjadi gerakan kolektif. Data menunjukkan bahwa 97,8% responden memilih untuk mengambil tindakan nyata, mulai dari menyuarakannya di media sosial hingga melakukan aksi petisi dan advokasi.
Bahkan, aksi kolektif menjadi pilihan terbesar bagi 31,1% responden.
Rekomendasi: Evaluasi Total dan Transparansi
Porec menyimpulkan bahwa kegagalan MBG bukan sekadar masalah teknis di dapur, melainkan masalah struktural akibat tata kelola yang tidak transparan.
Model distribusi yang terlalu panjang dinilai membuka ruang bagi "praktik rente" dan pemotongan anggaran di berbagai level.
Sebagai langkah perbaikan, Porec merekomendasikan pemerintah untuk segera melakukan evaluasi total dengan melibatkan lembaga independen.
Selain itu, disarankan adanya perubahan model pengelolaan yang berbasis komunitas agar pengawasan menjadi lebih dekat dengan penerima manfaat, sehingga anggaran besar tersebut benar-benar tepat sasaran dan tidak hanya menguap di level elite.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.